Entah sudah berapa kali aku menguap. Ini sudah pukul empat pagi, dan donat kentang dengan aneka topping baru saja selesai kubuat. Aku masih duduk di kursi meja makan, sampai Ibu keluar kamar dan menghampiriku.
“Kamu ngapain, Dis? Begadang?”
Aku menggeleng pelan, sambil lagi-lagi menguap lebar. “Abis bikin donat buat Bagas.”
Ibuku hanya mengangguk, kemudian mulai mencuci beras dan mulai memasak. Sementara itu, aku buru-buru memasukkan donat tadi ke dalam wadah besar dan menyimpannya di lemari makanan. Sebentar lagi adzan subuh berkumandang, dan Mas Tama pasti akan segera bangun. Aku hanya tidak ingin, kerja kerasku semalaman habis dimakan manusia rakus macam Mas Tama.
“Jangan tidur, mandi terus solat.”
Aku mengangguk, menuruti perintah Ibu. Semalam aku memang tidak begadang, aku sengaja memasang alarm pukul tiga pagi dan mulai membuat donat kentang. Karena si Bagas punya selera yang persis bocah, aku jadi harus memberikan topping beraneka ragam pada donat yang kubuat. Mulai dari meses, selai stroberi dan cokelat, juga keju. Sebenarnya aku ingin tidur lagi, tapi tidak aku lakukan karena aku tidak mau terlambat ke sekolah.
Tepat pukul enam, aku bergegas menuju rumah Bagas. Karena kalau aku terlambat setengah jam, manusia mermaid itu yang sudah duluan nari ondel-ondel di depan rumahku. Pintu rumahnya sudah terbuka, Bagas juga sudah memakai seragam dan duduk anteng di meja makan. Matanya berbinar begitu melihatku, atau tepatnya sepiring donat kentang dengan topping warna-warni yang aku bawa.
“Ladis! Sekarang hari apa?” tanyanya girang.
“Sekarang hari ulang tahun manusia paling t***l,” aku berucap pelan, takut Bunda mendengarnya.
“Astaghfirullah, kamu ini berdosa banget!”
“Happy birthday Bagas t***l, semoga ketololan lo berkurang. Jadi anak baik, jangan nyusahin Bunda.” Aku menaruh sepiring donat yang kubawa di hadapan Bagas kemudian mengeluarkan kotak hadiah dari dalam tasku.
“Ini apa?”
“Hadiah,” jawabku sembari duduk di sampingnya.
“Makasih, Ladis!” ucapnya lebay sambil memelukku.
Aku hanya diam, tidak berniat membalas pelukan Bagas pun tidak mencoba mendorong Bagas menjauh. Kali ini dia aku biarkan, karena hari seperti ini hanya ada sekali dalam setahun. Bagas masih memelukku, sampai Bunda datang dan sukses membuat Bagas menjauh.
“Masih pagi udah peluk-peluk aja.”
“Bagas udah mulai nggak tau diri ya, Bund,” ucapku ala iklan s**u di televisi.
“Bunda, lihat deh, hadiah dari Ladis.”
Bagas memakai gelang dariku, kemudian memperlihatkannya pada Bunda.
“Selamat ulang tahun ya, jagoannya Bunda. Selalu jadi anak baiknya Bunda ya, sayang. Selalu jadi anak hebatnya Bunda, selalu jadi Bagasnya Bunda. Jangan berubah, sayang. Doa Bunda selalu bersama Bagas.”
Suara Bunda bergetar saat mengucapkan kalimat panjang itu. Tidak perlu menunggu, Bagas segera memeluk Bunda. Dari sini, aku bisa melihat kalau Bagas juga menangis. Bahunya bergerak naik-turun. Padahal waktu Bunda ulang tahun, dia bersikap biasa saja. Malah lebih repot sama tanaman hias.
“Makasih ya, Ladis. Udah selalu ada buat Bagas. Bunda selalu bersyukur bahwa ada Ladis di hidup Bagas.”
Aku hanya mengangguk, membiarkan Bunda menggenggam tanganku untuk beberapa saat sebelum akhirnya meninggalkan aku dan Bagas di ruang makan untuk menyiapkan sarapan.
“Puas lo ngeprank gue seminggu ini?!” tanya Bagas yang terdengar agak kesal.
“Gue nggak ngeprank, gue hanya mengantisipasi keinginan lo yang aneh-aneh. Gue nggak mau beliin lo gundam, action figure atau bahkan kaus futsal sekalipun!”
“Dih, emangnya lo pikir gue bakal minta itu semua?”
“Belajar dari pengalaman.”
Bagas hanya mendecak kesal. Bodo amat deh, yang penting aku sudah memberinya hadiah plus donat kentang juga. Persetan Bagas mau kesal atau apa sama aku.
“Kali ini gue maafin. Gue lagi nggak mau marah sama lo.”
Aku bahkan tidak minta maaf sama dia, tapi kenapa dia malah memaafkanku. Terserahlah, aku sedang tidak ingin berdebat dengan Bagas hari ini. Biarkan saja dia bahagia dengan apa yang dia lakukan.
Setelah numpang sarapan di rumah Bagas, aku juga numpang di boncengan motor Bagas. Daripada panas-panasan naik bus atau buang uang lebih untuk naik ojek online, lebih baik aku nebeng Bagas. Di jalan, Bagas banyak ngobrol ini-itu yang hanya kujawab seadanya. Aku hanya malas bicara saat di motor, karena resiko mulut kemasukan lalat itu sangat besar saat ngobrol di atas motor. Tapi entah kenapa, Bagas tidak berhenti ngoceh, mungkin dia pakai masker.
Begitu sampai di sekolah, Bagas sudah dihadang oleh Andaru dan Gerard. Entah mereka mau ngapain, terserahlah aku tidak mau ikut campur urusan lelaki barbar seperti mereka.
“Selamat ulang tahun, Gas! Gue doain lo segera sehat,” ucap Andaru sambil terkekeh.
“Lah Abang tau dari mana gue ulang tahun? Terus juga, emangnya gue sakit apaan anjim?!”
“Gue....” Andaru menatapku ragu, tapi aku buru-buru menggeleng. Takut Bagas bakal berpikir yang aneh-aneh kalau tahu, Andaru tahu kalau ini adalah ulang tahunnya dariku. Aku bisa kena ceramah Bagas seharian.
“Gue liat di f*******: lo.”
“Dih gue aja lupa kalau gue punya Facebook.”
“Udahlah, kelamaan! Ayo sparring futsal. Yang kalah ditraktir Bagas!” teriak Gerard sambil menyeret Bagas ke arah lapangan.
“Lah terus yang menang dapet apaan?!”
“Yang menang juga di traktir Bagas!” teriak Gerard lagi yang kemudian disambut ramai oleh para penghuni lapangan futsal di pagi hari.
“Ikutan!”
Yang barusan itu Saga. Dan sumpah, kalau anak-anak ajaib itu sudah kumpul di lapangan, yang bisa aku lakukan hanyalah meninggalkan mereka di lapangan dan masuk ke dalam kelas. Biarkan saja mereka menggila di pagi hari yang cukup terik ini, aku hanya ingin menyendiri di kelas sampai bel masuk berbunyi.
Tapi sepertinya tidak bisa.
Karena aku lupa, kalau hari ini ada tugas bahasa! Mampus aku!
Karena sibuk membuat makanan dan membelikan hadiah untuk Bagas, aku sampai lupa kalau ada tugas mahapenting yang harus aku kerjakan. Jadi, dengan kekuatan perut kosong, aku berjalan menghampiri Tiara dan duduk tenang di sebelahnya yang juga sedang fokus mengerjakan tugas.
“Kenapa ada tugas mengarang, sih? Kan gue malas mikir!” keluh Tiara tanpa sedikit pun mengalihkan fokusnya pada buku tugas di hadapannya.
“Disuruh ngarang malah mikir, giliran disuruh mikir malah ngarang. Dasar orang!”
“Nggak tau, deh!”
***
“Dis, gue punya berita bagus!”
Aku hanya menatap Bagas dengan tatapan datar. Terakhir kali Bagas mengatakan kalau ia punya berita bagus, itu sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Jadi, daripada aku termakan omongan Bagas yang tidak jelas asal usulnya, mari kita dengarkan penjelasannya lebih dulu. Yah, meskipun aku tahu, itu sama tidak pentingnya.
“Kak Dika pulang!”
“Apa? Serius?!”
Aku memekik senang, bahkan tanpa sadar aku ikut melompat bersama Bagas. Ini berita besar, Mas Tama juga pasti akan senang.
“Gas, jangan kasih tau Mas Tama dulu, kita kasih kejutan.”
“Setuju!”
Setelahnya aku lanjut melompat lagi bersama Bagas.
“Siapa yang mau datang?” tanya Tiara yang sejak tadi memang sedang duduk anteng di tempatnya.
“Tetangga kita, Kak Dika.”
Tiara hanya mengangguk, entah karena mengerti atau karena tidak mau tahu lebih lanjut. Entahlah, aku tidak mau peduli. Aku sudah terlalu senang berita ini dan sikap Tiara sama sekali tidak mau aku pedulikan. Yang terpenting saat ini, aku cuma mau cepat-cepat pulang!
***