Bel sudah berbunyi tiga kali, tanda waktu pulang sekolah sudah tiba. Semua murid-murid laknat satu sekolahan sudah menjerit bahagia, bahkan sebelum guru yang mengajar di kelas keluar. Setelah mengucap salam pada Bu Indah, guru kesenianku yang baik hati dan tidak sombong, aku melangkah ringan keluar kelas. Seperti ada yang tertinggal, tapi seingatku semua buku dan barang-barang sudah aku masukkan semua ke dalam tas. Tapi perasaanku berkata lain, seperti ada yang aku lupakan, tapi aku sendiri tidak tahu apa itu. Sampai Tiara dengan santainya menepuk bahuku.
"Tumben Bagas belum datang," ucapnya sambil mengupas permen dan memasukkannya ke mulut.
Ah, iya! Pantas sejak tadi aku merasa seperti ada yang kurang. Sejak kejadian tadi pagi, Bagas tidak banyak bicara. Dia bahkan tidak mengacau di kelasku saat jam istirahat tadi. Dia hanya datang, menaruh s**u kotak dingin rasa cokelat kesukaanku di atas meja, kemudian keluar lagi. Aku bahkan tidak sempat bertanya, atau tepatnya aku tidak akan bertanya. Aku, kan lagi ngerjain Bagas, tapi entah kenapa rasanya seperti aku yang malah dikerjai Bagas.
Aku hanya mengangkat bahu, merasa tidak tahu sekaligus tidak peduli dengan pertanyaan Tiara. Sampai sebuah notifikasi muncul di layar ponselku.
[Tetangga: lo mau pulang bareng gue, atau bareng supir bus?]
Ah, sepertinya Bagas beneran marah sama aku. Baguslah, dengan begitu rencanaku akan berjalan lancar tanpa hambatan. Dengan perasaan girang, aku segera membalas pesan Bagas.
[Ladis: bareng supir bus, gue mau kerja kelompok.]
[Tetangga: ok]
Setelahnya aku tidak membalas lagi. Sambil tersenyum, aku pamit untuk pergi lebih dulu pada Tiara.
"Ra, gue duluan, ya! Ada urusan." Aku menepuk pelan bahu Tiara.
"Lah, nggak sama Bagas?"
Aku menggeleng kencang sambil tersenyum. Tiara tampak bingung, tapi kemudian mengangguk pasrah. Aku memang tidak memberi tahu Tiara tentang rencanaku ini, karena aku yakin Tiara dengan mulutnya yang persis kaleng rombeng pasti akan mengatakannya pada Bagas. Baik sengaja atau tidak.
"Oke, hati-hati."
Setelah itu aku melesat ke depan sekolah, memesan ojek online dan menuntaskan urusanku. Bagas harus sungkem sama aku besok.
***
Sambil menyenandungkan lagu koplo yang entah kapan Bagas download di ponselku, aku melangkah ringan memasuki sebuah toko aksesoris yang terletak cukup jauh dari sekolah. Toko ini milik Bang Jaka, teman kuliah Mas Tama. Aku dan Bagas kenal baik dengan Bang Jaka, selain karena orangnya doyan ngobrol, dia juga hampir sama bobroknya dengan Bagas.
Minggu lalu, aku sudah mengontak Bang Jaka untuk memesan hadiah buat Bagas. Aku benar-benar sudah buntu, bingung mau memberi hadiah apa untuk Bagas. Biasanya aku membeli jaket, hoodie, atau bahkan celana training untuk si Bagas. Tapi tahun ini, kalau aku lagi-lagi membelikan pakaian untuk Bagas, yang ada rumahnya bisa berganti jadi ITC. Dan kebetulan, aku membaca artikel tentang referensi hadiah ulang tahun. Akhirnya aku menemukan solusi.
Aku sudah memesan sebuah gelang berbahan sintetis yang nyaman di pakai dengan warna hitam dan pengait warna silver. Dan yang membuat gelang ini berbeda dengan gelang-gelang anak alay pada umumnya, di bagian dalam gelang ini Bang Jaka sudah menuliskan inisial nama Bagas persis seperti yang aku pesan. Begitu sampai, aku tersenyum pada Bang Jaka sambil melepas headset yang masih tersumpal di telingaku.
"Gelangnya udah jadi, Bang Jek?" tanyaku.
"Najis! Jangan panggil gue begitu, geli dengernya!"
"Ya maap, hehe."
Bang Jaka masih cemberut, tapi tak urung mengambilkan gelang yang sudah aku pesan. Dia tersenyum bangga sembari memberikan kotak berwarna hitam dengan tulisan 'Jewelery Store' kebanggaannya.
"Ini spesial, gue yang desain sendiri."
Aku membuka kotak tadi sambil memerhatikan gelang itu. Persis seperti yang aku inginkan. Gelang ini tampak sederhana, tapi juga elegan. Meskipun aku tahu, kalau Bagas yang pakai, gelang seperti ini juga akan terlihat sama saja dengan gelang harga lima ribuan di pinggir jalan.
"Keren, Bang! Jadi berapa?" tanyaku.
"Udah bawa aja. Buat Bagas, kan?"
Aku mengangguk. "Tapi, kan gue yang mau kasih hadiah, kalau gitu mah berarti Bang Jaka yang kasih hadiah buat Bagas!" protesku yang membuat Bang Jaka terdiam.
"Oke, gini deh. Ladis bayar setengah harga aja, gimana?"
"Oke!"
Setelah mengeluarkan uang lecek yang selama ini selalu kusimpan dalam dompet, Bang Jaka kembali menatapku heran.
"Kenapa?" tanyaku yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Bang Jaka.
"Tapi itu tulisannya kok begitu?"
"BGSD itu inisial namanya Bagas, Bang. Bagas Danuartha," ucapku menjelaskan.
Bang Jaka hanya mengangguk, kemudian sibuk melayani pelanggan lain. Daripada mengganggu Bang Jaka yang sedang bekerja, akhirnya aku memutuskan untuk pamit. Lagipula, aku juga masih harus pergi ke satu tempat lagi.
***
Hari sudah semakin sore, tapi bus yang aku tunggu tidak kunjung datang. Sebenarnya, aku bisa saja memesan ojek online seperti saat pergi ke toko Bang Jaka, hanya saja, aku takut uangnya tidak cukup. Masih ada yang perlu kubeli, lagi pula saat ini aku mau pergi ke pasar, dan letak pasar modern memang tidak begitu jauh dari lokasi toko Bang Jaka. Jadi aku putuskan untuk naik bus saja.
Tapi sialnya, sudah hampir tiga puluh menit aku berdiri kepanasan di halte, bus yang aku tunggu tidak kunjung datang. Sampai sebuah motor berhenti di hadapanku. Sepertinya aku kenal motor ini, tapi aku lupa siapa pemiliknya. Sampai si pemilik yang aku tidak ingat siapa itu membuka kaca helmnya, menampakkan Andaru dengan senyum lebar di wajahnya.
"Lo belum pulang?" tanyanya.
"Gue masih ada urusan sebentar."
"Ayo gue anter."
"Gue mau ke pasar, yakin lo?" tanyaku sangsi.
"Yakin. Emangnya kenapa? Ayo naik!"
Akhirnya aku menuruti perintah Andaru dan duduk tenang di motornya, sampai tiba-tiba dia bertanya lagi.
"Emang lo mau ngapain ke pasar?"
"Mau belanja lah," jawabku singkat.
"Ya gue juga tau, kalau ke pasar pasti mau belanja, bukanya fashion show! Emangnya lo sarimin?"
Aku tertawa mendengar humor receh Andaru barusan. Niatnya, aku ke pasar mau membeli bahan-bahan untuk membuat donat kentang buat Bagas. Tadinya, aku mau beli kue saja, tapi kalau di pikir-pikir, Bunda pernah bilang Bagas paling suka donat kentang. Meskipun si Bagas itu termasuk spesies pemakan segala dan tidak pernah pilih-pilih makanan, tapi kalau dikasih donat, dia akan berubah persis gembel yang tidak makan dua bulan.
"Mau beli bahan-bahan buat bikin donat. Besok Bagas ulang tahun," ucapku menjawab pertanyaan Andaru tadi.
"Oh si Bagas ulang tahun? Kok nggak bilang-bilang, sih?"
"Bagas emang nggak pernah ngerayain ulang tahun, terakhir ulang tahunnya dirayakan, Bagas hampir bakar rumah."
"Lah kok bisa?" Andaru terkekeh pelan.
"Bagas itu norak, gabisa liat api. Ada lilin di atas kue, bukannya di tiup malah dibuat bakar sampah."
"Anjir, rusuh banget!"
Aku hanya tertawa pelan, sedangkan Andaru masih saja tertawa sepanjang jalan sampai tanpa terasa motor Andaru sudah berhenti di parkiran pasar modern.
"Thanks ya, sampe sini gue bisa sendiri kok, lo pulang aja."
"Ayo gue temenin sekalian."
Tanpa menunggu jawabanku, Andaru sudah berjalan mendahuluiku. Jadi daripada berdebat dengan makhluk ribet macam Andaru, aku memilih diam dan mulai mencari beberapa bahan. Beberapa kali Andaru sempat bertanya ini-itu, dan sisanya dia hanya aku jadikan b***k untuk membawa belanjaanku. Kalau dipikir-pikir, ada untungnya juga Andaru menempeliku sampai sini.
"Kayaknya udah semua, nih. Pulang yuk."
Andaru hanya mengangguk, kemudian berjalan duluan ke parkiran. Di sepanjang jalan, seperti biasa, Andaru selalu tertawa tiap kali mendengar ucapanku. Entah kenapa, padahal aku sama sekali tidak ada niatan untuk melawak. Lagian, kata-kataku tidak ada lucu-lucunya, tapi emang dasar jiwa receh Andaru yang mendarah daging, dengar aku teriak karena kaget pas ada polisi tidur di jalan saja dia ketawa. Padahal aslinya receh begini, tapi bisa-bisanya dia sok cool dan jaim di sekolah.
Aku tidak terlalu memperhatikan, karena sepanjang jalan yang aku lakukan hanya memukuli pundak Andaru dan menyuruhnya untuk berhenti tertawa. Karena sungguh, selain bikin malu, itu juga bisa membahayakan nyawaku. Sampai motor Andaru berhenti di depan rumah Bagas.
"Kenapa berhenti di sini? Rumah gue di sebelah," ucapku sembari menunjuk rumahku sendiri.
"Lah, gue kira ini rumah lo."
"Bukan, ini rumah Bagas."
Entah betapa sialnya aku, karena tepat setelah aku menyebut nama Bagas, makhluk kumal itu sudah keluar dari rumahnya dengan penampilan persis gembel.
"Dari mana lo berdua?" tanya Bagas sembari menunjuk wajahku dan Andaru.
Aku tidak menjawab, lebih tepatnya malas. Menghadapi kelakuan absurd Andaru saja sudah cukup bikin aku pening, jadi aku putuskan untuk segera turun dari motor Andaru dan masuk ke rumah.
"Eh, ladis! Jawab dulu!"
"Tadi gue abis kerja kelompok, terus di jalan ketemu dia, gue nebeng." Aku menjawab sekenanya. Sedikit bohong, karena kalau tidak, aku sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bagas.
"Terus itu apaan? Bagi dong!"
Aku menatap bungkusan di tanganku yang barusan ditunjuk Bagas. Ah, capek banget aku harus bohong terus.
"Ini bahan buat tugas, gaboleh minta!"
"Pelit!"
"Bodo amat! Pulang sana!"
Bagas tidak menjawab, hanya cemberut dan pulang ke rumahnya. Aku bahkan sampai lupa, masih ada Andaru di sana. Dan dia baru saja menyaksikan perdebatan tidak bermutu antara aku dan Bagas.
"Gue masuk dulu ya, Ru. Makasih."
"Sama-sama."
Bersamaan dengan pagar yang aku tutup, deru motor Andaru juga terdengar semakin menjauh. Aku harus bergegas, sebelum Bagas masuk ke rumahku dan mengacaukan segalanya.
***