Pertanyaan Bagas

1379 Kata
Mau dipikir berapa kali pun, tidak akan ada yang berubah. Mau Bagas memberiku seribu pertanyaan pun, jawabannya akan tetap sama. Aku tahu, kalau lusa itu hari Rabu. Dan aku juga ingat, kalau hari Rabu itu tanggal 17 Februari. “Ladis, coba deh inget-inget dulu. Lusa hari apa?” Dan sudah satu minggu penuh Bagas menanyakan hal yang sama padaku. Pertanyaan yang hanya diubah dari, “Minggu depan hari apa? Lima hari lagi hari apa?” dan seterusnya sampai saat ini Bagas menanyakan perihal lusa. Aku menarik napas perlahan, sebelum akhirnya menatap Bagas yang tengah memasang tampang memelas. “Lusa hari Rabu.” Aku menjawab asal. “Iya, hari rabu itu hari apa?” Bagas mulai terlihat tidak sabaran, jadi aku mengeluarkan ponsel dan mengetik tanggal 17 Februari di situs pencarian google. Dan hasil yang aku temukan adalah, “hari keluarga, hari presiden Amerika Serikat, hari memperingati kejombloan Bagas,” ucapku sambil tertawa. “Seriusan nggak lucu, Dis.” “Siapa yang lagi ngelawak? Gue lagi menjinakkan anak monyet,” jawabku sembari memasukkan ponsel ke saku seragam. “Ah, s****n, gue hampir ketawa.” Bagas mengusap hidungnya, mencoba menahan tawa. “Ketawa mah, ketawa aja, Gas. Jangan ditahan. Idung lo kembang kempis tuh,” ucapku sambil lagi-lagi menertawakan ekspresi Bagas. “s****n! Awas lo, ya!” Akhirnya Bagas menyerah. Dia meninggalkan kelasku sambil menahan kesal sekaligus menahan tawa. Aku tahu betul, manusia receh macam Bagas tidak akan pernah bisa tahan menghadapi humor receh macam itu. Aku juga bukannya tidak mau menjawab pertanyaan Bagas yang sudah jelas aku ketahui jawabannya, hanya saja kalau aku jawab, Bagas pasti akan meminta hadiah yang aneh-aneh. Tahun lalu saja dia minta diberikan gundam. Aku pikir mainan semacam itu tidak memiliki harga jual tinggi, tapi begitu melihat harganya di situs penjualan online, aku mendadak sesak napas. Tapi untungnya aku tidak terkena serangan jantung mendadak. Dan tahun ini, aku tidak akan tertipu lagi. Lagi pula aku juga sudah menyiapkan hadiah untuknya, jadi aku tidak perlu tahu apa yang dia mau. Atau tepatnya, aku tidak mau tahu. Sejak sepeninggal Bagas dari kelasku, entah kenapa jam istirahat kali ini terasa sunyi. Bahkan Tiara juga sudah keluar entah ke mana, tapi tidak lama kemudian dia kembali dengan segelas cappucino cincau dan sekantung gorengan. Ini gimana mau jadi model, kalau jajanannya mengandung minyak jelantah dan pemanis abal-abal begitu. Aku hanya bisa berdecak sambil menatap Tiara yang dengan santai menggigit bakwan dan cabai rawit. “Apa?” “Mau minta tahunya dong,” ucapku sembari merampas kantung gorengan itu dari tangan Tiara. “Sudah gue duga, dasar culametan!” Aku hanya nyengir sembari mencari cabai rawit hijau yang kecil-kecil tapi pedas itu di dasar plastik. “Eh iya, Dis. Kayaknya si Bagas makin akur ya sama Kak Galaksi,” ucap Tiara yang sukses membuatku bingung. “Hah?” “Itu, buktinya mereka lagi main futsal di lapangan.” Aku hanya mengangguk-angguk. Ya, itu bukan hal yang aneh, sih. Sejak dari ulang tahun Andaru, si Bagas jadi sering ketawa-ketawa sendiri persis seperti orang kesambet jin pohon beringin. Yang aku tahu, sih, Bagas habis tukaran nomor telepon dengan Andaru dan juga Gerard. Mungkin mereka sudah bikin grup chat yang isinya manusia-manusia tanpa otak. “Orang gila emang harusnya bergaul sama orang gila juga, biarin aja, Ra.” Aku berucap santai sembari mengunyah tahu, sedangkan Tiara malah menatapku tajam. “Beraninya lo ngatain Kak Galaksi!” “Lo belom tau aja, Ra,” gumamku pelan, sengaja agar Tiara tidak dengar. Karena benar saja, tidak lama setelahnya, Tiara justru keluar dan malah menonton pertandingan futsal yang diikuti kumpulan manusia-manusia gabut. Aku bahkan sudah terlalu malas hanya untuk bangkit dari kursi. Harusnya aku berikan saja nomor Andaru ke Tiara, biar dia tahu, kalau cowok idamannya itu punya selera humor receh yang bikin merinding. *** “Ladis nggak lupa, kan, besok hari apa?” Duh, ini masih pagi buta dan si Bagas sudah berdiri di depan kamarku dengan seragam lengkap dan wajah memelas persis anak kucing yang habis kecebur got. Sambil membersihkan belek dan iler yang masih nempel di wajah, aku mengangguk. “Besok hari Rabu, pakai batik bebas,” jawabku asal, sebelum akhirnya meninggalkan Bagas di depan kamar mandi. “Ah, Ladis! Seriusan!” Si Bagas masih terus menggedor pintu kamar mandi rumahku, sebelum Bapak menawarinya secangkir kopi. Padahal aku tahu, kalau Bapak hanya takut Bagas merusak pintu makanya dia mengalihkan perhatian Bagas pakai kopi. Lagian si Bagas juga murah banget, langsung ikut hanya dengan disogok kopi sachetan. Rasanya segar sekali setelah mandi, sambil mengeringkan rambut pakai baju kotor, aku mencari-cari Bagas. “Bu Bagas mana?” tanyaku pada Ibu yang baru saja memindahkan nasi goreng dari penggorengan ke piring saji. “Palingan ikut Bapak nyari bubur. Kamu jangan dibiasain dong pakai baju kotor, kan, ada handuk.” “Iya,” jawabku asal. Untuk sekadar informasi, aku itu paling malas pakai handuk. Agak menjijikkan, sih, tapi aku lebih senang mengeringkan badanku pakai baju yang baru kupakai. Entah kenapa, rasanya enak saja. Dan juga, Bapakku selalu punya kebiasaan pagi. Dia suka nyari tukang bubur ayam yang biasa keliling komplek. Padahal Ibu sudah bikin sarapan, tapi Bapak selalu beli bubur. Itu sebabnya Ibu tidak pernah menyiapkan sarapan untuk Bapak. Kalau kata Ibu, Bapak lebih doyan masakan tukang bubur ketimbang masakan istri sendiri. Aku hanya mengangguk mendengar omelan Ibu kemudian kembali ke kamar dan memakai seragam. Hari ini aku harus kelihatan rapi, bukan apa-apa, takutnya kalau aku pakai seragam asal-asalan, orang akan mengira jiwaku tertukar dengan Bagas, karena hari ini Bagas tidak berpenampilan persis gembel seperti biasa. Setelah selesai memakai seragam dan atribut lengkap, aku keluar kamar dan mendapati Bagas yang tengah duduk di ruang tengah, menonton televisi sembari mengunyah roti. Bagas menatapku dengan tatapan aneh, sebelum akhirnya berkata, “hari ini nggak perlu pakai dasi.” “Tapi gue lagi pengen pake dasi.” “Lepas, atau gue yang ngelepas!” “Eh kenapa, sih! Suka-suka gue, lah!” ucapku tak mau kalah. Bagas akhirnya bangkit, setelah sebelumnya memasukkan gigitan roti terakhir ke mulutnya. “Lepas, nggak?!” “Nggak mau!” “Lepas!” “Ah, Bagas lo mau bunuh gue?!” Aku berteriak sambil memegangi lengan Bagas yang berupaya menarik dasi di leherku. “Ya makanya lepas!” Ah, serius deh, kenapa Bagas harus berlebihan sekali hanya karena perkara dasi. Akhirnya aku mengangguk, mengalah sebelum akhirnya Bagas membunuhku. Setelahnya, aku berjalan pelan menuju meja makan sembari memasukkan dasi ke dalam tas, menyomot selembar roti, dan bergegas keluar rumah. “Bu Ladis berangkat,” ucapku sambil mencium tangan Ibu. “Nasi gorengnya nggak dimakan?” tanya Ibu yang hanya aku jawab dengan gelengan pelan. “Yaudah bawa aja, Ibu masukin tempat makan, ya.” Tak perlu waktu lama, nasi goreng buatan Ibu sudah berpindah dari piring ke tupperware warna biru kesayangan Ibu. “Tempatnya jangan ditinggal di sekolah loh, Dis.” Aku hanya mengangguk, kemudian berjalan keluar, pamitan dengan Bapak dan berjalan begitu saja. Bagas yang melihatku meninggalkannya, buru-buru ikutan pamit dan menyalakan motornya. “Kok jalan aja, sih?!” omelnya sembari menghentikan motor di sebelahku. Aku hanya diam saja, entah kenapa rasanya malas meladeni Bagas. Setelah hampir mencekikku pakai dasi, bisa-bisanya dia marah seperti itu padaku. Harusnya, kan, aku yang marah. Dasar Bagas laknat! “Gue minta maaf, tadi udah narik dasi lo.” Aku masih diam, enggan untuk menjawab. Hingga tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalaku. “Jalan aja duluan, gue bisa naik bus,” ucapku sambil terus berjalan menyusuri komplek rumahku. “Dis, udah dong. Ayo naik, nanti telat.” Bagas sudah kelihatan kesal, tapi wajahnya tetap memelas. Sumpah aku mau ketawa, tapi sebisa mungkin aku tahan. Daripada Bagas kesalnya nanggung, jadi lebih baik sekalian saja dia aku kerjai. Lagi pula besok adalah hari ulang tahunnya, jadi biar saja dia kesal dan besok aku tinggal menyogoknya pakai hadiah. Bagas pasti akan segera memaafkanku. “Duluan aja kalau takut telat,” ucapku lagi. Bagas tampak menghela napas, dia kelihatan seperti sudah kehabisan kesabaran. Ayo, Gas, lampiaskan saja! Marahi aku sekalian. Tapi Bagas tidak melakukannya. Dia tidak merengek seperti biasanya, hanya menancap gas kemudian berangkat lebih dulu seperti yang aku perintahkan. Sumpah, dia benar-benar menyebalkan! Kalau sudah begini yang bisa aku lakukan hanyalah menunggu bus di halte sampai mengering. Dalam hati aku merapal agar bus yang kutunggu segera datang, karena kalau tidak aku bisa benar-benar terlambat.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN