Sejak kecil, kalau ditanya apa cita-citaku, dengan polosnya pasti aku akan menjawab, jadi guru seperti Bapak. Atau yang paling absurd, jadi ibu rumah tangga seperti Ibu. Klasik. Seiring berjalannya waktu, bukannya menemukan apa impianku, atau mau jadi apa aku kelak, aku malah menemukan jalan buntu. Dan jika ada yang bertanya, paling-paling hanya aku jawab “Enggak tahu.” dengan nada lempeng. Karena serius, aku sama sekali tidak tahu, ke mana minat dan bakatku.
Nilai olahragaku pas-pasan, nilai akademikku juga memprihatinkan. Bidang seni aku juga tidak sejago Tiara. Menggambar pemandangan saja, kalau dibandingkan gambar anak SD, gambarku kalah telak. Tidak ada alat musik yang bisa aku mainkan, tidak ada cabang olahraga yang aku kuasai, menyanyi pun suaraku lebih hancur ketimbang suara kucing garong kebelet kawin.
Aku masih menopang dagu, meratapi nasib diriku yang sepertinya tidak akan berubah dalam waktu dekat. Kecuali ada anak konglomerat yang entah datang dari mana, jatuh cinta sama aku dan melamarku. Kemudian kami hidup bahagia, kaya-raya, selama-lamanya. Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi, jadi lebih baik aku kembali ke kenyataan.
Kelas sudah berisik macam pasar hewan, di depan kelasku si Bagas juga sudah menyanyikan lagu kebangsaannya.
“London, London ... ingin ku ke sana ....”
Kalau aku adalah manusia biasa yang tidak mempunyai mimpi, berbeda dengan Bagas, si manusia mermaid yang sejak dulu selalu ingin pergi ke London. Awalnya, Bagas bahkan tidak tahu London itu adanya di mana. Dia mendadak ingin pergi ke sana, setelah melihat tayangan televisi. Dia mau melihat jam raksasa Big Ben yang ada di London. Pernah aku bilang, akan lebih bagus kalau dia sekalian kuliah dan tinggal di sana, tapi dia langsung menolak.
“Otak gue nggak sampai, jadi gue bakal datang sebagai turis aja.”
Dia cekikikan waktu itu. Aku sama sekali tidak paham, bagaimana dia bisa mengatakan hal itu sambil cekikikan. Tapi untunglah Bagas sadar diri sebelum aku menamparnya pakai kenyataan pahit. Bahkan kalau dibandingkan Bagas, aku yang tidak punya impian ini benar-benar terlihat payah, kan?
“Lo bengong aja, Dis. Mikirin gue ya?” tanya Bagas yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelahku.
“Najis!”
Bagas tertawa mendengar jawabanku, memamerkan gigi gingsulnya yang penuh jigong.
“Gas, Kira-kira cita-cita gue apa ya?” Entah apa yang merasukiku, sampai-sampai aku menanyakan hal itu kepada manusia paling tidak waras satu sekolah.
Bagas tidak langsung menjawab, dia mengelus dagunya seolah sedang berpikir. Halah! Apa sih yang aku harapkan dari kebegoan Bagas? Aku akhirnya menghela napas, tahu kalau apa yang aku lakukan sia-sia saja.
“Gue nggak tahu, sih,” ucapnya. Kan! Sudah aku duga!
“Tapi lo kan suka masak, gimana kalau lo coba jadi tukang masak?”
Ucapannya yang terakhir membuatku terdiam beberapa saat. Masak? Aku tidak suka masak. Aku memasak hanya karena aku lapar, atau karena terpaksa membantu Ibu, dan aku juga tidak pernah peduli apakah masakanku itu enak atau tidak. Yang penting masakan itu layak dimakan.
“Jadi koki, Gas?” tanyaku, menatap Bagas tidak percaya.
Bagas mengangguk percaya diri, “Lo bisa jadi koki, atau coba buka restoran sendiri.”
Waw! Itu ide yang brilian, sih ... tapi, tetap saja ada tapinya.
“Tapi emangnya masakan gue enak, Gas? Selama ini gue masak cuma karena lapar atau disuruh Ibu.” Aku menatap Bagas ragu, berpikir apakah yang aku lakukan adalah hal yang benar. Maksudku, saat ini aku sedang minta saran dari seorang Bagas.
“Bakwan jagung bikinan lo semalem enak, sambelnya juga lo yang bikin, kan?” tanyanya lagi, yang kujawab dengan anggukan. “Itu enak.”
Aku mengangguk. Meskipun Bunda sudah pulang sejak dua hari lalu, kadang Bagas masih suka numpang makan di rumahku. Dan memang kebetulan, semalam aku yang memasak di dapur. Bareng Ibu, sih, itu juga masih dengan instruksi dari Ibu. Tapi secara teknis, memang aku yang masak. Aku menatap Bagas sekali lagi, apa aku harus mulai memikirkan saran dari Bagas, ya?
Aku masih sibuk menimbang-nimbang, sampai Tiara datang sembari membawa sebungkus wafer dan es teh manis di plastik. Sebelumnya Tiara memang sempat bilang kalau mau ke kantin, tapi aku malah sibuk sendiri.
“Enyah kau dari tempat gue!” ucapnya sambil menendang-nendang kursinya yang diduduki Bagas.
“Ah! Nenek lampir!”
“Jaga tuh bibir!” Tiara melempar wafernya, dan bukannya takut, Bagas malah membuka mulutnya lebar-lebar.
“Lagi dong!”
“Beli sana!”
Bagas hanya manyun mendengar jawaban Tiara, sementara itu, manusia bawel bernama Tiara malah menatapku dengan tatapan yang supermenggelikan.
“Ngobrolin apa lo sama nih badak? Serius amat.”
“Siapa yang lo panggil badak, nenek lampir?!” omel Bagas sambil menggebrak meja.
“Pake nanya!”
“Duh, kalo mau berantem di lapangan sana!” ucapku sambil menatap Bagas dan Tiara yang masih adu tatapan. Kalau ini novel romantis, pasti kelak mereka berdua akan jatuh cinta, kemudian hidup bahagia selamanya. Membayangkannya saja aku sudah merinding duluan.
“Terus lo ngobrolin apa, Dis?” tanya Tiara lagi, kini atensinya sudah beralih padaku
“Cuma lagi diskusi, gue nggak punya cita-cita,” jawabku yang ternyata cukup membuat Tiara kaget.
“Heh! Kok gitu?!” ucapnya kaget. “Cita-cita lo bukannya jadi chef ya, Dis? Lo kan suka masak.”
“Nah, kan? Apa gue bilang. Lo jadi tukang masak aja, Ladis!”
Aku mengangguk, mencoba mencerna ucapan Bagas. Apa mungkin aku harus mencoba banyak resep masakan mulai besok? Siapa tahu saja, aku memang punya bakat terpendam. Lagi pula memasak bukanlah hal yang buruk, mungkin kalau aku ikut master chef, aku bisa menang. Ah, tapi sepertinya itu terlalu muluk. Atau, aku coba jualan seblak saja, lumayan penghasilannya bisa untuk menambah uang jajan. Pikiranku masih berkelana seputar, mau jadi apa aku nanti, sampai tiba-tiba terbesit satu pertanyaan dalam benakku.
“Cita-cita lo apa, Ra?” tanyaku pada Tiara.
Sambil tersenyum bangga, Tiara menyibak rambutnya, “Gue bakal jadi model terkenal, dan go international. Jadi bisa traveling keliling dunia sekalian.”
“Tampang kayak lo nggak cocok jadi model, cocoknya jadi biduan kampung yang disawer pake duit dua ribuan lecek,” ucap Bagas sambil tertawa.
“Jangan ngeremehin lo! Nanti kalau gue jadi model, lo gue tampol pake high heels lima belas senti, baru tau!”
“Aw, takut,” ucap Bagas lebay, yang kemudian dapat tabokan maut dari Tiara.
“Kalau lo, Gas? Cita-cita lo masih sama kayak waktu SD?” tanyaku. Bagas tampak berpikir serius, sebelum kemudian menjawab.
“Enggak, udah berubah.” Bagas menjawab yakin dengan gaya sok keren.
“Terus?”
“Tadinya, gue mau jadi sukses terus pergi ke London buat jadi turis. Tapi sekarang, cita-cita gue mau nikah sama lo terus bulan madu ke London,” ucap Bagas sambil tersenyum riang, yang sedetik kemudian dapat tamparan hangat tempat pensil kayu milik Tiara.
“Sembarangan!”
“Aduh, sakit tau! Jahat banget, sih, Ladis.”
Bodo amat, suasana hatiku memang tidak bagus sejak tadi, jadi jangan harap aku bisa diajak bercanda. Di sampingku, Tiara masih tertawa dengan suara yang membuat siapa pun yang tidak sengaja dengar langsung sakit kuping.
“Akhirnya kenyataan menampar Bagas pakai tempat pensil.”
Ternyata, tidak punya cita-cita bukanlah satu-satunya masalah yang aku punya saat ini. Dikelilingi oleh orang-orang separuh waras juga cukup membuatku hampir gila. Aku hanya bisa berdoa, semoga kewarasanku tetap terjaga meski setiap hari harus ditempeli Bagas dan Tiara.
***