Aku menghirup napas dalam-dalam, sebelum mengembuskannya perlahan. Waktu liburan sudah habis, dan itu artinya aku harus kembali ke sekolah. Berhadapan dengan tugas yang tidak ada habisnya, bertemu Pak Ri yang aku yakin kepalanya masih tetap botak, dan juga aku masih harus menghadapi kelakuan minus Bagas.
Berita baiknya, semester ini aku masih tidak sekelas dengan Bagas. Tapi itu sama sekali tidak berarti manusia menyebalkan itu akan berhenti mengganggu hidupku. Karena sebelum sampai di sekolah pun, si Bagas sudah berisik banget di depan pintu kamarku. Dan entah bagaimana, Bapak tidak pernah menegurnya.
“Ladis, cepetan, hari pertama semester baru gue nggak mau telat!” ucapnya sambil terus-terusan menggedor pintu kamarku.
“Berangkat duluan aja sana!”
Tapi bukan Bagas namanya kalau dia mendengarkan kata-kataku, karena detik berikutnya dia malah kembali memukul-mukul pintu kamarku sambil bersenandung tidak jelas. Dosa apa aku sampai harus dapat azab berupa Bagas.
“Ladis, si Oren udah dikasih makan belum?”
Sambil keluar kamar, aku menghampiri Bagas yang sedang berjongkok di teras. Di depannya, si Oren sedang tidur pulas. Ini bukan waktunya dia makan, ngapain pula si Bagas repot sama makanannya. Untungnya aku tidak perlu repot membelikan makanannya, karena Andaru siap menjadi bapak angkat si Oren, alias donatur yang siap membelikan makanan. Meskipun sebenarnya aku masih bisa menyisihkan sedikit uang jajanku, tapi dia memaksa. Jadi dengan hati yang lapang, aku menerimanya.
“Dia masih ngantuk, belum lapar.”
“Terus kalo nanti dia lapar, siapa yang kasih makan? Kita, kan, sekolah?” Lagi-lagi Bagas memikirkan hal yang tidak perlu.
“Ada Mas Tama, nggak usah dipikirin.”
Aku meninggalkan Bagas menuju ruang makan. Yang lapar itu aku, bukan si Oren. Sambil menyendok nasi goreng nikmat buatan Ibu, aku mencoba mengabaikan Bagas yang terus-terusan memanggilku. Entah dia ada masalah hidup apa sampai-sampai mulutnya tidak bisa berhenti teriak memanggil namaku. Kalau suaranya sebagus Afgan, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi sayangnya ini Bagas, manusia yang bahkan hanya bernapas saja sudah membuatku kesal setengah mati.
“Dis, si Oren kayaknya mau pup deh!” Bagas mulai heboh. “LADIS, OREN PUP DI SEPATU LO!”
“HAH?!”
***
Kepalaku pusing! Kenapa hal semacam ini harus terjadi sama aku?! Kenapa??
Aku masih memegangi kepalaku sampai masuk ke kelas. Setelah membereskan hajat si Oren di sepatuku, Bagas aku marahi habis-habisan. Bisa-bisanya kucing itu b***k di sepatuku, disaat aku harusnya menikmati sarapan pagi. Ditambah ada Bagas di depannya. Maksudku, harusnya Bagas bisa menyuruhnya buang air di tempat lain. Tapi bukannya menyesal, Bagas malah tertawa, dan pada akhirnya aku juga yang kena omelan Bapak. Keluargaku memang lebih sayang sama anak tetangga!
“Kusut amat muka lo? Semangat, dong hari pertama!” ucap Tiara, sembari menyambut kedatanganku di depan pintu kelas.
“Jangan ajak gue ngobrol.”
Untungnya Tiara tidak lagi berisik dan lebih memilih meributkan sesuatu dengan Ucup. Hari pertama yang harusnya aku jalani dengan penuh suka cita, malah jadi hari pertama paling buruk. Penampilanku yang harusnya rapi, bersih dan wangi, sudah hancur berantakan karena sibuk ngurusin pup si Oren. Baju seragamku juga sudah keburu bau keringat, ditambah aku terpaksa harus memakai sepatu lamaku yang sudah kekecilan!
Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa, karena tidak mungkin aku menyalahkan seekor kucing. Sebenarnya yang sangat bersalah dalam kasus ini adalah si Bagas. Emang dasar manusia kardus! Bisa-bisanya malah aku yang dimarahi Bapak.
Sambil menarik napas panjang, aku mencoba melupakan tampang menyebalkan Bagas dari memori ingatanku. Tapi sialnya, si beruk malahan nongol di depan mukaku. Dengan senyum menyebalkan dan tampang laknat itu, Bagas menghampiriku.
“Nih gue beliin minum, jangan marah-marah mulu,” ucapnya sembari menyodorkan s**u kotak dingin rasa cokelat ke hadapanku.
Dikira aku bakal luluh hanya dengan s**u harga goceng! Tapi sayang juga, sih, kalau tidak di ambil.
“Gue masih marah!” ucapku sembari mengambil s**u di hadapanku.
“Terus gue harus gimana biar lo nggak marah? Tadi tuh gue mau ngusir si Oren dari sepatu lo, tapi dia udah keburu boker di situ.” Bagas duduk di kursi depanku, mencoba menjelaskan kronologi kejadiannya. Tapi tetap saja, aku masih kesal!
“Mungkin sepatu lo bau, jadi dia pikir itu jamban,” ucapnya lagi, kali ini aku tidak tinggal diam.
Tanpa menghiraukan teriakan Bagas yang masih memanggil-manggil namaku sambil ketawa, aku bergegas meninggalkan kelas. Persetan si Bagas mau ngapain! Kalau membunuh orang itu tidak dosa, sudah dari lama aku mengambil gunting rumput di gudang sekolah dan memenggal kepala Bagas.
Masih sambil marah-marah sendiri, aku mencoba mencari tempat untuk menyendiri. Tapi sialnya sekolah ini bukan macam sekolah elite yang luasnya ratusan hektar sampai-sampai ada tempat untuk sembunyi. Bahkan di sini, cuma ada satu lapangan yang multifungsi. Bisa jadi lapangan basket, futsal, voli atau bulu tangkis. Tinggal taruh gawang, atau pasang net jika diperlukan.
Jadi daripada aku pusing mencari tempat untuk menyendiri dan meratapi nasib sialku karena ditempeli Bagas, aku memilih jongkok di tepi kolam ikan dekat mushola. Kolamnya tidak besar, isinya juga cuma ikan-ikan kecil yang dibawa murid untuk menambah nilai remedial. Tapi suasananya cukup tenang, cocok untuk menjernihkan pikiranku yang kacau pagi ini. Sampai sebuah tepukan mendarat di bahuku.
Seorang siswi cantik, mungil dengan senyuman berseri, berdiri di belakangku yang malah cengo. Dia pakai jaket warna biru muda, dengan bando dan ikat rambut berwarna senada. Dengan kulit putih berseri macam artis Korea, cewek ini membuatku tak bisa berkata-kata.
“Hai, Kak! Lagi ngapain?” ucapnya lembut.
Dia Kia, adik kelas yang nembak Bagas saat ujian semester lalu. Aku jarang bertemu dengannya, sih, dan baru kali ini aku bertemu lagi dengannya setelah kejadian itu. Entah si Bagas buta atau bagaimana, karena bisa-bisanya makhluk b***k macam dia menolak cewek imut modelan loli kawai begini.
“Hai, gue lagi liat-liat ikan aja.” Kia mengangguk pelan, membuat poninya bergerak lucu.
“Gimana hubungannya sama Kak Bagas? Masih langgeng?” tanyanya, dan pertanyaan dengan nada yang kelewat ceria itu, sukses membuatku terkejut.
“Hubungan? Langgeng?? Maksudnya?”
“Terakhir, Kak Bagas bilang kalau dia udah pacaran sama Kak Ladis. Awalnya aku sedih, tapi sekarang udah baik-baik aja, kok.” Ada senyum getir yang terukir di wajah manis Kia.
Bagas s****n!
Bisa-bisanya dia ngarang cerita begitu! Ah sumpah, ini kayaknya bukan hari pertama balik ke sekolah. Tapi hari paling kacau dalam hidupku, dan penyebab semua kekacauan ini tidak lain tidak bukan adalah si b**s*t. Bagas Danuartha anak manusia yang kelakuannya persis dajal.
***