Mengutuk Bagas

1117 Kata
Aku menyesap s**u kotak rasa cokelat pemberian Bagas hingga tandas sembari buru-buru kembali ke kelas. Setelah sebelumnya pamitan dengan Kia, aku bergegas mencari Bagas dan berniat untuk membunuhnya kalau bisa. Tapi sialnya, si Bagas malah sedang main futsal di lapangan bareng kawan-kawan seperbodohannya. Dan tepat saat bel masuk berbunyi, aku mengirim chat ke Bagas. Bukan teror atau ancaman, tapi satu kalimat yang akan bikin Bagas enggak bisa tidur semalaman. Lihat pembalasanku, Bagas! *** Berhubung ini hari pertama, yang di mana murid-murid pada umumnya hanya membawa dua buku tulis dan satu buah pulpen, akhirnya guru-guru pun memutuskan untuk memulai pembelajaran keesokan harinya. Hari ini yang kami lakukan hanyalah menulis jadwal pelajaran dengan perasaan gembira tak terkira. Tapi aku masih dendam dengan si Bagas. Dan betapa senangnya aku, karena tepat saat bel istirahat berbunyi, si b**o itu sudah nongol di depan pintu kelasku tanpa berniat masuk. “Lo ngapain di situ, Gas?! Kagak ada batas sucinya, kok kelas gue, jadi makhluk najis kayak lo boleh masuk,” ucap si Ucup yang keburu disusul tawa seisi kelas. “Bacot!” “Lo apain lagi itu si kadal gurun?” Sambil merapikan peralatan tulisnya, Tiara menatapku heran. “Dia udah bikin gue kena s**l, dari pagi. Liat aja, ini pembalasan gue.” “Si Bagas tiap hari juga kerjaannya bikin lo s**l, Dis.” Tiara kemudian bangkit dari kursinya. “Mau nitip, nggak? Gue mau ke kantin.” “Gue bawa bekal, nitip air putih aja.” Tiara hanya mengangguk, sebelum akhirnya meninggalkan kelas. Sementara si Bagas masih berdiri di depan pintu kelasku dengan wajah memelas. Lihat apa yang akan dia perbuat. Bertahun-tahun aku diikuti oleh Bagas, membuatku memegang kelemahannya. Sebelumnya, aku tidak pernah menggunakan trik ini, karena takut tidak akan berhasil. Tapi nyatanya ini benar-benar berhasil, dan sukses membuat Bagas bahkan tidak berani masuk ke kelasku. Kelemahan Bagas bukan berupa foto t*******g, apalagi video p***o, sama sekali bukan. Dulu aku pernah hampir menyebar foto Bagas waktu sunat, dan di foto itu Bagas tidak pakai celana, lagi nangis pula! Tapi itu sama sekali tidak mempan. Bagas sama sekali tidak merasa malu, entah mungkin memang tidak ada urat malu dalam tubuhnya. Pernah juga aku menghapus satu folder berisi video p***o di laptopnya Bagas, tapi dia sama sekali tidak peduli dan malah dengan tidak tahu diri mendownload ulang video yang lain di warnet. Tapi kali ini, benar-benar berhasil. Aku mengancam akan menyebarkan nomor Bagas ke grup alumni SD. Aku pikir, si Bagas yang tidak ada takutnya akan menganggap ancamanku ini hanyalah angin lalu, tapi tidak seperti itu. Biar aku ceritakan kronologinya. Jadi waktu SD, Bagas punya penggemar berat. Anak ingusan dari kelas C, namanya Martina. Terakhir, Bagas sampai tidak bisa tidur karena Martina terus-terusan meneleponnya sampai pagi. Bagas bahkan sudah ratusan kali ganti nomor, persis buronan. “Dis, jangan, ya ... please,” ucapnya dengan nada memelas. “Gue baru bisa hidup tenang sejak masuk SMA, masa lo tega bikin hidup gue kacau sama ingusnya.” Aku ketawa, sambil menghampiri Bagas yang masih berdiri di depan pintu. Asli, sampai SMP, Martina memang masih ingusan. Dia punya penyakit sinusitis akut, jadi ingusnya ngalir terus kayak penderitaanku, tiada akhir. “Dia udah glow up tau, udah cantik.” “Nggak! Tetep aja, Dis! Ya Allah, jangan dong Ladisha, please!” Bagas memelas, bahkan sampai memohon di hadapanku. “Lagian lo ngapain bilang ke Kia kalau kita jadian?! Nggak capek apa, Gas, bikin gue emosi terus?!” “I-tu, waktu itu gue refleks ngomong begitu. Sumpah, Dis, gue nggak sengaja. Itu cuma alasan buat nolak dia,” ucapnya pelan. “Maafin gue, ya? Jangan sebar nomor gue, ya? Please, gue mau hidup tenang.” “Nggak sadar lo, sendirinya juga udah bikin idup gue nggak tenang.” “Tapi, kan, gue nggak pernah nelpon lo tiap menit, spam chat tiap detik, kirim pap muka penuh ingus tiap hari!” kata Bagas, sepertinya dia mulai emosi. Ini yang aku tunggu. “Iya, lo ngeganggunya secara langsung, nggak lewat chat. Udah, ah, gue mau makan tadi pagi nggak sempat karena sibuk bersihin t*i kucing.” “Ladis, seriusan!” “Ntar kita obrolin lagi pas pulang sekolah.” Setelahnya aku meninggalkan Bagas yang masih gelayutan di depan pintu. Melihat Bagas menderita adalah kebahagiaan yang hakiki. Jadi, sembari menikmati penderitaan Bagas, aku menyantap nasi goreng bikinan Ibu dengan hikmat. *** “Dis, janji dulu!” Sejak jam istirahat kedua, Bagas bukannya berhenti menggangguku, dia malah terus-terusan merengek seperti itu. Dan sumpah, itu jauh lebih mengganggu! “Aduh, Bagas! Lo bisa diam, nggak, sih?!” “Nggak! Lo janji dulu, jangan sebar nomor gue,” ucapnya, masih sambil mengikutiku di belakang. “Beliin gue es kelapa kalo gitu.” “Tapi janji, ya!” Aku mengangguk, sembari duduk santai di kursi kantin. Sementara si Bagas memesan es kelapa yang menyegarkan, aku mendengar beberapa obrolan kakak kelas yang duduk tak jauh dariku. “Sejak si Galaksi sering kumpul sama anak kelas dua, jadi hilang wibawa dia! Diajak tawuran selalu nolak, kalau ada yang nantangin juga nggak pernah mau ngelawan. Gue jadi males ngikutin dia, reputasi sekolah kita jadi ancur gara-gara dia!” Aku masih serius mendengarkan, sampai si Bagas datang bersama dua gelas es kelapa. “Lo kenapa, Dis?” “Diem, Gas! Gue lagi nguping,” ucapku setengah berbisik. “Hah? Ngising?! Ih jorok!” teriak si Bagas, pakai suara kencang yang bikin sakit telinga. “Ah, berisik!” Dengan cepat aku memukul mulut Bagas yang suaranya hampir nyaingin toa masjid. “Ah! Sakit, Ladis!” “Tuh, kan! Jadi pergi orangnya!” Aku kembali memukuli Bagas. Anak bodoh ini kalau belum dipukul tidak akan mengerti. “Ya apaan, sih?! Lo ngomong bisik-bisik gitu, ditanya malah marah.” “Tadi gue lagi nguping obrolan kakak kelas kita. Kayaknya si Daru jadi hilang wibawa gara-gara sering main sama bocah b****k kayak lo!” ucapku sembari menikmati segarnya es kelapa ini. “Daru emang mau berubah, dia mau lulus. Mereka aja yang nggak mau ngerti.” Suara Gerard barusan sukses bikin aku keselek es kelapa. s**l, ngapain, sih dia nongol tiba-tiba begitu! “Uhuk! Gue kaget, Ge! Bisa nggak, kalo dateng tuh pake Assalamu’alaikum?!” “Waalaikumsalam.” Gerard menjawab dengan nada lempeng. Sabar, Ladis. Sabar! Sementara si Bagas masih menertawakanku, satu manusia nyebelin lagi-lagi datang. Sepertinya hidupku memang tidak ditakdirkan untuk memperoleh kebahagiaan. Karena serius, baru saja aku mau menikmati es kelapa, Gerard sudah membuatku tersedak. Dan ini, belum juga tenggorokanku membaik, Andaru malah datang mengacau dengan raut bahagia. “Hey! Ada acara apa nih? Kok nggak ngabarin?” tanyanya. Tidak hanya bertanya, manusia receh ini pakai segala megang-megang kepalaku! “SINGKIRKAN TANGAN KOTORMU DARI KEPALA LADIS!” Ah, kan! Aku sudah menduga hal ini akan terjadi.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN