Bagas Ngamuk

1277 Kata
“Ngapain pake pegang-pegang?! Iya gue tau lo kakak kelas, tapi kepala ladis itu punya ... Punya ibu sama bapaknya, lah! Lo nggak boleh pegang!” Bagas masih marah-marah sambil berkacak pinggang. Aduh, aku capek. Serius! “Gas, bisa diem, nggak?” tanyaku yang bahkan sudah malas sekali meladeni Bagas. “Nggak! Sebelum Bang Daru minta maaf!” “Yaudah, maaf, ya, Ladis,” ucap Andaru, kedengaran seperti meledek bukannya minta maaf. Dan tangannya lagi-lagi menyentuh kepalaku. “TANGANNYA ITU, BANG!” “Eh, maaf, refleks.” Aku menghela napas lelah, sedangkan di sampingku, si Gerard tidak hentinya menertawakan Bagas. Padahal jelas-jelas Andaru cuma meledeknya saja, tapi dengan bodohnya Bagas malah terpancing dan malah ngamuk begitu. “Gue mau pulang, ah! Capek liat kalian ribut,” ucapku sembari bangkit, setelah sebelumnya menghabiskan es kelapa milikku dan Bagas, sebab yang bersangkutan sibuk marah-marah sejak tadi. “Ladis mau Bang Daru anter?” “Nggak! Ladis sama gue! Ayo pulang!” Belum sempat menjawab, Bagas sudah menyeretku meninggalkan kantin. “Hati-hati!” Aku hanya mengangguk menjawab ucapan Gerard, sementara Andaru hanya cengengesan sendiri. Sementara itu, Bagas masih menggerutu sendiri. Padahal tasku sudah hampir putus karena ditarik dengan tenaga kuproy. “Gas, kalo tas gue putus, gantiin yang baru, ya?” ucapku begitu kami sampai di parkiran. “Makanya lo jangan deket-deket sama cowok lain!” “Dih, berarti gue nggak boleh dekat sama Mas Tama, dong?” “Ya nggak gitu!” Tanpa menoleh, Bagas sudah menyalakan mesin. “Buruan naik!” Tanpa menjawab, aku menuruti ucapan Bagas. Kalau lagi dalam fase begini, Bagas bisa lebih sensi daripada anak perawan PMS. *** Akhir pekan itu memang paling nikmat kalau dihabiskan sembari rebahan santai. Setelah memberi makan si Oren, aku kembali ke dalam dan rebahan di sofa. Sambil menyalakan ponsel dan menonton siaran youtube terbaru, rasanya ini akan jadi akhir pekan paling tenang dalam hidupku. Sampai aku dengar seseorang mengetuk pagar sambil membunyikan klakson. Tidak beradab! “Dis, tukang paket kali tuh!” ucap Ibu dari arah dapur. Tukang paket enggak ada akhlak! Bukannya ngucap salam malah membunyikan klakson, yang ada tetangga bisa ngamuk. Baru saja aku hendak menghampiri tukang paket tidak beradab tersebut, yang kudapati malah cengiran tidak berdosanya Andaru. Kalau tahu dia yang datang tidak akan aku bukakan pintu. “Ngapain malah bunyiin klakson, bukannya ngucap salam! Nggak ada akhlak lo!” “Pagarnya belum dibuka, hehe.” Lihat saja kelakuannya, memangnya dia pikir aku pembantu?! Kan bisa dia buka sendiri. Sumpah, deh, kalau tidak ada Ibu di rumah pasti orang ini sudah langsung aku usir. “Oren mana?” tanyanya begitu selesai memarkir motor di halaman rumahku. Tidak ada basa-basinya sama sekali, paling tidak dia tanya kabarku dulu, kek! Atau kabarnya Ibu, atau Bapak, bukannya langsung to the point begitu! “Tuh, lagi tidur. Abis makan dia tidur.” Andaru hanya mengangguk, kemudian mengambil sekantung besar makanan kucing yang tersangkut di motornya. “Ini buat stok sebulan, tapi kalo udah abis sebelum sebulan bilang aja, nanti gue bawain lagi.” “Terus lo nggak bawain makanan buat gue?” tanyaku, sembari ikutan duduk di teras. Andaru menatapku heran, meski tangannya masih sibuk menggendong Oren, tapi tatapannya tertuju penuh kepadaku. Dan jujur saja, itu membuatku sedikit tidak nyaman. “Gue, kan, cuma mau nengokin si Oren bukan ngapelin lo.” “Ck! Pulang sana!” Buru-buru aku bangkit, lebih baik aku kembali melanjutkan aktivitas akhir pekan yang sedang kulakukan tadi, ketimbang harus meladeni manusia tidak jelas macam Andaru. “Eh! Sini dulu!” Sambil menahan lenganku, Andaru meletakkan Oren di teras. “nanti gue beliin cilok di depan,” lanjutnya. “ITU TANGANNYA NGAPAIN PEGANG-PEGANG?!” Belum sempat aku menjawab ucapan Andaru, si Bagas sudah keburu tiba. Pakai acara teriak-teriak segala. Kalau begini ceritanya, Ibu yang sedang masak dengan tenang di dapur pun pasti akan ikut keluar. Aku refleks melepaskan genggaman Andaru, hingga benar saja dugaanku, Ibu, Bapak, sampai Mas Tama yang penampilannya persis manusia gua, ikut keluar. “Ada apa, Gas?!” tanya Bapak. “Tau, lo! Bikin kaget aja teriak-teriak gitu!” kali ini Mas Tama yang protes. “I-itu! Ladis tadi–“ “Ladis lagi ngasih makan Oren, Pak! Nih abis dibawain makanan sama Daru,” ucapku menjelaskan, sebelum si Bagas mengacau dengan mengatakan apa yang barusan terjadi. “Bagas lo teriak-teriak begitu lagi, nggak gue ijinin nginap di kamar gue!” Mas Tama memperingatkan Bagas, kemudian melenggang masuk begitu saja. “Jangan, dong, Mas!” Sementara si Bagas mengejar Mas Tama, Ibu dan Bapak sudah menatapku tajam. Ah, perasaanku mendadak tidak enak. “Ladis, ada tamu kok nggak di suruh masuk?” ucap Bapak, pelan namun rasanya menusuk. “Nggak apa-apa, Om, Tante. Saya cuma mau nengok Oren aja sebentar.” “Panggil Ibu sama Bapak aja, mari masuk. Sekalian ikut makan.” “Nggak usah, Om! Eh, Pak!” “Udah nggak apa-apa, Nak Daru. Mari masuk.” Kini giliran Ibu yang mengajak Daru. Aku hanya bisa terdiam. Bagaimana bisa orang tuaku bersikap lembut dan sopan begitu ke Andaru. Padahal biasanya, jangankan bicara halus, Ibu dan Bapak selalu ngomel kalau melihatku. Lagi-lagi aku merasa terpinggir, bahkan Bapak kelihatan lebih sayang sama Bagas dan Andaru ketimbang padaku. *** Suasana meja makan siang ini benar-benar canggung. Kalau bukan karena Bagas dan Mas Tama yang sedang meributkan sesuatu yang tidak penting, aku akan lebih memilih menenggelamkan diri di empang. Karena serius, situasi saat ini benar-benar tidak menyenangkan. Setelah membantu Ibu menyiapkan makanan di meja, aku duduk tenang di samping Bapak dan Ibu. Sedangkan Bagas, Mas Tama dan Andaru duduk di hadapanku. Sebenarnya suasana makan seperti ini sudah biasa buat keluargaku, tapi kali ini berbeda karena ada satu orang tambahan. Andaru yang sejak tadi duduk canggung sembari mencuri pandang ke arahku. Rasanya ingin aku melempar tahu goreng ke mukanya. “Yok, dimakan. Nak Daru, silakan dimakan,” ucap Ibu. “Makasih, Bu.” “Ini sambelnya Ladis yang bikin, Bu?” tanya Bagas di sela-sela makan. “Bukan, semua ini Ibu yang masak. Anak perempuan Ibu dari tadi sibuk nonton hape,” jawab Ibu, sambil dilebih-lebihkan persis emak-emak pada umumnya. “Pantesan enak banget ini.” “Ladis, kan, udah cuci baju.” Aku berusaha membela diri. “Anak malas.” Kini gantian, Mas Tama yang berkomentar. “Oh, iya, Bu, Pak, bulan depan Tama ada seminar sama platform komik online yang dulu pernah Tama ceritain. Seminarnya dua hari, dan tempatnya di Semarang.” “Kamu udah besar, bisa ngurus sendiri.” Bapak bicara dengan nada dingin. Bahkan beliau sama sekali tidak menatap Mas Tama. “Bapak udah selesai, mau ke dalam duluan.” Dari tempatku duduk, aku menendang kaki Mas Tama, mencoba memberi kode padanya kalau habis ini sepertinya kita harus bicara. Dan lagi, kenapa, sih, Mas Tama selalu membicarakan hal semacam ini kalau di rumah sedang ada tamu. Bukannya malu atau apa, tapi sikap Bapak yang seperti itu sudah sukses membuat suasana makan jadi tidak nyaman. “Ibu juga udah selesai, Mas Tama bantu Ladis cuci piring, ya,” ucap Ibu sebelum kemudian berlalu begitu saja. “Gue kira suasana hati Bapak lagi bagus, maaf ya, kalian pasti jadi nggak nafsu makan.” Mas Tama tertunduk sembari mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa selera. “Lo harusnya diskusi dulu, Mas, kalau mau ngomong begini. Kebiasaan!” “Maafin, Mas, ya, Ladis. Biar Mas aja yang cuci piringnya.” Tuh, kan! Mas Tama selalu punya kebiasaan jelek. Dia sama sekali tidak bisa membaca situasi. Aku, kan, bukannya marah. Aku hanya khawatir padanya. Sembari menghabiskan makanan di piring, aku terus-terusan menendang kaki Mas Tama. Dasar Mas Tama, i***t! Bisa-bisanya dia diam saja ketika kakinya aku tendangi, setidaknya dia melirik ke arahku atau marah sekalian. Benar-benar menyebalkan.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN