Diskusi

1066 Kata
Seusai mencuci piring, Mas Tama langsung masuk ke kamarnya. Dia bahkan tidak membiarkanku membantu sama sekali, jadi yang aku lakukan adalah kembali ke teras dan memberi makan si kucing Oren. Bagas dan Andaru juga sudah ada bersamaku, mereka juga masih belum bicara sejak tadi.  Ini bukan kali pertama Bapak bersikap begitu di depan Bagas, tapi tetap saja, Bagas juga malah jadi ikutan diam kalau perang dingin sudah berlangsung di meja makan. Jangankan Bagas, Mas Tama saja tidak berani kalau Bapak sedang dalam mode mematikan seperti itu. Jujur saja, meski sudah lama mengenal Bagas, aku tetap merasa tidak enak tiap kali keluargaku cekcok di depan Bagas. Rasanya malu sekali, meski bukan masalah yang serius dan perdebatan yang juga tidak sampai adu mulut yang parah, tapi sikap Bapak dan Ibu tadi cukup membuat suasana menjadi aneh. Tidak nyaman dan menyebalkan. Kalau bisa aku mau menjambak rambut kusut penuh ketomobe Mas Tama, saking kesalnya. “Maaf, ya, kalian pasti nggak nyaman gara-gara keluarga gue. Terutama, lo, Ru,” ucapku pelan. “Nggak masalah, tiap keluarga pasti begitu, kan? Nggak ada yang beneran baik-baik aja.” Andaru berucap santai, seraya tersenyum samar. “Lo mesti ajak ngobrol Mas Tama, Dis.” Bagas duduk di sebelahku, sambil menggendong Oren. “Iya, tadi juga gue udah kode-kode, nendang kakinya. Tapi emang dasar dia b**o, tetep nggak nyadar.” Bagas hanya diam sambil mengangguk pelan, sementara Andaru justru berdehem pelan, “Dis, yang lo tendang itu ... kaki gue.” “HAH?! Kenapa lo diam aja, Andaru b**o!” Astaga, aku kelepasan! Refleks aku menutup mulut dengan kedua tangan, sementara Andaru sudah memelototiku. Di sampingku, Bagas sudah tertawa girang. “Babu kamu bodoh, ya, Ren,” ucapnya yang ditujukan kepada si Oren. Ah, sumpah aku malu banget! Pantas saja Mas Tama sama sekali tidak memberi respons, ternyata yang kutendang malah kaki orang lain. “Gu-gue ke dalam dulu, mau ngobrol sama Mas Tama. Kalian pulang aja!” “Nggak ada adab! Masa ngusir tamu!” Aku sama sekali tidak menghiraukan ucapan Bagas yang terakhir. Buru-buru aku masuk dan merutuki kebodohanku sendiri. Samar-samar aku mendengar suara Bagas yang tengah mengajak Andaru main P.S di rumahnya, dan jujur saja, hal itu membuatku sedikit lega. Entah bagaimana nanti aku harus menghadapi Andaru, yang penting sekarang aku harus ngobrol dulu sama Mas Tama. Sesampainya di depan pintu kamar Mas Tama, aku menarik napas panjang sebelum kemudian mengetuk pintu dan masuk. Suasana kamar ini masih belum berubah. Tetap gelap remang-remang, sunyi dan penampakan Mas Tama yang masih duduk di depan komputer. “Mas,” panggilku pelan, sembari duduk di ranjang Mas Tama. “Gue akan tetap pergi ke Semarang, dengan atau tanpa izin dari Bapak.” Mas Tama berucap pelan, namun nadanya terdengar tegas dan penuh keyakinan. “Iya, lo emang harus pergi. Kesempatan kayak gini nggak akan datang dua kali. Gue ada di pihak lo, Mas.” Mas Tama menghela napas pelan, namun terdengar begitu jelas karena suasana hening di kamar ini. Dia membalikkan kursinya dan tersenyum menghadapku. “Makasih, ya. Nanti gue bawain oleh-oleh,” katanya sembari mengusap puncak kepalaku. “Jangan lupa mampir ke Malang, gue titip salam buat Kak Dika.” “Jauh bodoh! Lagian kalo kangen sama dia tinggal telepon,” ucap Mas Tama, kini sambil menoyor kepalaku. Baru beberapa detik dia bersikap baik layaknya kakak idaman, tapi sekarang sudah kembali menyebalkan. “Emangnya lo nggak kangen?!” “Itu urusan gue! Lo nggak perlu tau.” “Dih, terserah lo, deh!” Aku buru-buru bangkit dari ranjang Mas Tama, tidak tahan kalau terlalu lama berada di tempat yang sama dengan manusia super menyebalkan itu. “Yang penting beliin gue oleh-oleh!” Tidak menunggu jawaban Mas Tama, aku segera meninggalkan kamarnya. Sampai tatapanku tertuju pada Bapak yang sedang duduk sendiri di teras. Bapakku bekerja sebagai tenaga pengajar alias guru di sekolah dasar yang lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah dan kalau hari libur begini, Bapak memang biasa ngopi sambil ngisi TTS di teras. Keseharian bapak-bapak pada umumnya, dan aku harus memanfaatkan kesendirian Bapak. Aku harus ngobrol dengannya. “Pak,” ucapku pelan, sembari duduk di kursi rotan sebelah Bapak. “Kenapa, Nak?” “Itu, Pak ... soal Mas Tama ....” Aku tidak melanjutkan ucapanku, membiarkannya menggantung begitu saja sembari memerhatikan reaksi Bapak. Beliau masih belum bicara, matanya fokus membaca rentetan huruf-huruf pada teka-teki silang. Sementara aku sudah mulai tidak sabar menanti jawaban Bapak. “Apa pun pendapat Bapak, dia akan tetap pada pendiriannya. Percuma juga Bapak komentar, Tama nggak akan mau dengar,” ucap Bapak santai sambil menyeruput kopi. “Tapi, Pak ... Mas Tama cuma mau Bapak ada pihaknya dan mendukung cita-citanya.” “Persetan sama cita-cita, Bapak hanya ingin anak-anak Bapak sukses dan hidup berkecukupan. Jadi kalau nanti Bapak udah nggak ada, kalian bisa hidup mandiri dan Bapak juga jadi tenang.” Lagi-lagi, Bapak mengatakan hal yang sama sekali tak pernah kubayangkan. Aku benar-benar terkejut mendengar ucapan terakhir Bapak. Bagaimana bisa beliau mengatakan hal semacam itu sambil menyeruput kopi?! “Bapak kenapa ngomong gitu, sih?!” “Umur nggak ada yang tahu, Nak.” Tuh, kan! Ada apa, sih, sama keluargaku?! Bahkan sampai Bapakku pun punya sikap yang benar-benar aneh. Aku sudah hampir menangis, tapi bisa-bisanya Bapak malah santai dan kembali melanjutkan kegiatan mengisi teka-teki silang yang sama sekali tidak penting! Akan lebih normal kalau Bapak menepuk bahuku, tapi itu sama sekali bukan gaya Bapakku. “Tujuh mendatar, makanan ringan yang biasa dimakan bersama nasi. Sering dijadikan bahan perlombaan Agustusan. Apa, Nak? Kamu tahu nggak?” tanya Bapak tiba-tiba. Aku yang mendengar pertanyaan tidak penting barusan, hanya mengernyit heran kemudian menjawab pelan. “Kerupuk!” jawabku asal. Kulihat, Bapak mulai menghitung jumlah huruf dan menuliskannya. “Eh, bener! Tumben pinter.” Bapak tertawa ringan, sambil mengisi kolom-kolom kosong di buku TTS. “Ladis emang pintar, Pak! Bapak aja yang nggak sadar.” Bapak kembali tertawa mendengar ucapanku. Keluargaku memang begitu ajaib, Bapak dengan pemikirannya yang kolot khas orang tua pada umumnya dan Kakak laki-lakiku yang keras kepala. Mau aku ajak ngobrol berapa kali pun, atau mau mengadu mereka di arena debat sekalipun, tidak akan ada pemenangnya. Jadi yang bisa aku lakukan hanyalah diam dan menjadi penonton. Berharap Mas Tama bisa sukses dan meraih mimpinya, dengan begitu setidaknya harapan Bapak buat punya anak yang sukses bisa terkabul. Meskipun aku sendiri juga belum tahu, apa yang akan terjadi di masa depan, aku berharap hanya akan ada hal-hal baik yang terjadi.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN