Setelah banyak hal terjadi seharian ini, aku masih harus mengurus si Oren yang luar biasa. Kucing ini makan melulu! Aku sampai lelah memberinya makan. Bahkan sampai malam begini, dia masih saja merengek minta makan.
“Makan mulu, lo!” ucapku sembari menuang sedikit makanan ke wadah.
“Jangan terlalu sering dikasih makan, nanti dia obesitas.”
Aku yang sejak tadi masih fokus memberi makan si Oren, segera menoleh saat suara Andaru terdengar entah dari mana. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata dia masih di rumah Bagas.
“Lo belom pulang?”
“Dua kali lo ngusir gue! Iya, nanti juga gue pulang, setelah beliin lo cilok.”
“Beneran?!” tanyaku, yang entah mengapa mendadak girang mendengar kata cilok.
“Ayo.”
Aku mengangguk senang, kemudian melesat ke dalam untuk meminta izin ke Ibu. Cilok gratis ini tidak boleh aku sia-siakan. Jadi dengan hati gembira, aku mengikuti Andaru ke depan komplek untuk membeli cilok.
“Si Bagas ketiduran lagi?” tanyaku, sembari memecah keheningan.
Andaru mengangguk pelan. “Lo udah lama tetanggaan sama Bagas?”
“Dari bayi, mungkin.” aku menjawab asal.
Jujur saja, kalau pertanyaannya diubah menjadi, sejak kapan aku kenal Bagas, aku akan menjawab sejak aku umur lima tahun. Tapi kalau ditanya sejak kapan aku bertetangga dengannya, aku juga tidak tahu. Mungkin sebelum aku lahir, Bunda sudah tinggal di sebelah rumahku.
“Udah lama juga, ya?”
Andaru terkekeh pelan. Aku tidak mengerti, sih, maksud dari ucapannya barusan. Jadi yang aku lakukan hanya mengangguk sembari melanjutkan perjalanan. Aku sudah lapar, tidak sabar mau makan cilok gratisan. Dan betapa bahagianya aku, ketika sampai di hadapan abang cilok yang menatapku heran.
“Bang, ciloknya lima ribu! Dia yang bayar,” ucapku sembari menunjuk Andaru.
Di sampingku, Andaru hanya geleng-geleng kepala sambil merogoh saku jaketnya. Sampai aku dikejutkan dengan dering norak yang berasal dari ponselku. Buru-buru aku melihat siapa yang meneleponku di jam segini, dan ternyata orang itu adalah Tiara. Tumben sekali dia meneleponku.
"Dis, malam ini boleh, nggak gue nginap di rumah lo?" tanyanya langsung.
“Boleh aja, sih. Ada apa emangnya?”
"Nanti gue ceritain, gue jalan dulu."
Belum sempat aku menjawab, Tiara sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Di sampingku, Andaru sudah menatapku bingung.
“Siapa?” tanyanya pelan.
“Tiara. Mau nginap katanya,” jawabku.
Andaru hanya mengangguk, setelah pesananku jadi, aku segera mengajak Andaru kembali. Kebetulan, motornya juga masih ada di rumah Bagas. Sepanjang jalan, aku terus-terusan memikirkan Tiara. Memang bukan sekali-dua kali Tiara menginap di rumahku, hanya saja tiap kali dia ingin menginap pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan kali ini, firasatku mengatakan kalau sesuatu juga sedang terjadi dengan Tiara. Dalam hati aku merapal semoga bukan hal buruk yang menimpa Tiara.
***
Setelah mengantarku sampai rumah, Andaru juga memutuskan untuk pulang. Lagian dia bukannya belajar, malah main P.S sama Bagas sampai malam. Memang dasar anak pemalas.
Aku sendiri masih menunggu Tiara sembari menonton tayangan sinetron bersama Ibu. Sebelumnya, aku sudah bilang ke Ibu kalau Tiara mau menginap malam ini, dan respons Ibu Cuma mengangguk pelan. Entah dia mendengar ucapanku atau tidak, karena terlalu fokus nonton sinetron. Tak lama, pintu rumahku diketuk. Tiara datang dengan ransel besar di pundaknya. Ini sebenarnya dia mau menginap semalam, atau mau kabur dari rumah.
“Lo kabur dari rumah?” tanyaku sembari membiarkan Tiara masuk.
“Kalau gue nginap di rumah lo, tandanya gue emang lagi kabur.”
Jawaban santai Tiara barusan, sukses membuatku melongo. Kalau dia benar-benar kabur dan ibunya melapor ke polisi, aku tidak mau menjadi tersangka penculikan. Sementara aku dipusingkan dengan hal-hal yang tidak perlu, Tiara sudah memberi salam kepada Ibu.
“Tiara kalau belum makan, makan dulu. Tadi Ibu masak sayur lodeh, ikan asin sama sambal,” ucap Ibu, tanpa sama sekali mengalihkan atensinya dari layar televisi.
“Tiara udah makan, Bu,” jawab Tiara pelan.
“Yaudah, kami masuk dulu, Bu,” ucapku. Kali ini Ibu benar-benar mengabaikanku. Memang apa serunya, sih, sinetron macam begitu. Ceritanya juga biasa saja.
Sampai di kamarku, Tiara langsung melepaskan ranselnya dan segera memelukku. Sudah aku duga, pasti ada sesuatu. Tidak mungkin, cewek pecicilan macam Tiara mendadak diam dan tidak cengengesan. Dia pasti sedang ada masalah di rumah.
“Ada apa?” tanyaku pelan, sambil mengusap punggungnya pelan.
“Mami bawa pacar barunya ke rumah, Dis. Gue nggak tahan lama-lama ada di rumah itu. Gue mau kabur!”
Masalah ini lagi. Perlahan, aku melepaskan pelukan Tiara dan menuntunnya untuk duduk di sisi ranjang. Aku tidak lagi bertanya padanya, membiarkannya menangis sambil aku mengusap punggungnya pelan.
Sebelumnya, aku memang sudah tahu kalau keluarga Tiara sudah tidak utuh lagi seperti keluargaku. Ayahnya sudah pergi entah ke mana, meninggalkan Tiara dan ibunya yang sudah tidak percaya pada laki-laki. Sudah sering kali, Ibu Tiara membawa pulang laki-laki asing ke rumah mereka. Dan setiap hal itu terjadi, pasti Tiara memilih pergi ke rumahku.
“Gue udah nggak tahan, Dis! Gue nggak mau lagi melihat dan mendengar hal-hal yang nggak seharusnya gue lihat dan dengar. Kesalahan ayah gue yang ninggalin kami, tapi Mami ngelampiasin rasa kesalnya sama gue.” Tiara kembali menangis.
“Lo tenangin diri lo dulu, Ra.”
“Gue malu, Dis! Kelakuan Mami udah kayak p*****r! Bahkan kadang dia bawa pulang laki-laki umurnya jauh lebih muda. Udah gila kali, dia sama sekali nggak mikirin perasaan gue.”
“Tiara, lo tenang dulu. Tarik napas, pelan-pelan. Lo harus kuat, lo nggak boleh kalah sama permasalahan ini,” ucapku sambil kembali mengusap pundaknya.
“Gue tau, nggak seharusnya gue kabur. Nggak seharusnya gue menghindar, Dis. Tapi hati gue udah nggak sanggup, gue nggak tahan!” Tiara kembali terisak. “Kadang gue takut, kalau terlalu lama gue tinggal di sana, lama kelamaan gue jadi sama kayak Mami. Gue nggak mau, Dis.”
“Lo nggak akan jadi kayak siapa-siapa, Ra. Lo akan tetap jadi Tiara yang gue kenal.”
“Gue nggak tahu harus ke mana kalau nggak ada lo, Dis. Gue takut, tapi gue juga nggak bisa bertahan lebih lama. Gue capek, Dis.”
Pelan, aku kembali menarik Tiara ke dalam pelukan, menenangkannya yang masih terisak. Aku tahu, tidak ada yang bisa aku lakukan untuk saat ini selain selalu ada di sisinya. Aku tidak pernah berada di posisi yang sama dengan Tiara, tapi aku bisa merasakan sedikit kepedihan yang Tiara rasakan.
“Gue ada di sini, lo bisa datang ke gue kapan pun lo mau. Kapan pun lo sedih, capek, dan kapan pun lo mau kabur. Lo bisa datang ke gue.”
“Makasih, ya, Dis.”
Aku mengangguk pelan, masih sambil memeluk Tiara. Kami memang belum lama saling mengenal, tapi hampir setiap hari Tiara menempel di sampingku membuatku sedikit paham. Kalau dibalik sifatnya yang cerewet dan usil, dia banyak menyimpan luka. Dan aku sedikit lega, bahwa Tiara mau terbuka dan bergantung sama aku. Meski aku enggak bisa memberi apa pun padanya, setidaknya aku akan jadi orang yang selalu ada setiap kali dia butuh.
***