Aku menghirup napas dalam-dalam. Pagi ini, aku bangun lebih awal. Tidak ada alasan khusus, hanya ingin bangun lebih pagi dan mandi duluan. Setelah mandi, aku kembali lagi ke kamar, membangunkan Tiara kemudian menyiapkan buku-buku sebelum berangkat ke sekolah.
Kondisi Tiara sudah lebih baik meski matanya masih bengkak karena menangis semalaman. Setidaknya, Tiara sudah mengeluarkan segala beban di hatinya, dan setidaknya aku juga bisa menolong meski tidak banyak.
“Gue numpang mandi, ya, Dis?” ucap Tiara yang segera aku beri anggukan.
“Lo mandi dulu aja, gue mau kasih makan kucing.”
“Sejak kapan lo pelihara kucing?” Tiara menatapku heran. “Setau gue lo nggak pernah pelihara binatang.”
“Sejak Andaru mungut anak kucing di selokan, seminggu yang lalu,” Jawabku asal.
“Hah?! Kok bisa?!”
“Gue juga nggak tau, Ra. Bisa-bisanya dia jadiin gue babu kucing.” Aku menghela napas pelan, sementara Tiara malah terkekeh.
“Lo makin dekat aja sama dia.”
“Ini diluar kemauan gue, Ra. Semesta kayaknya benci banget sama gue, sampe-sampe selain Bagas, gue juga harus terus berurusan sama manusia jelmaan ondel-ondel begitu.”
“Haha! Ada-ada aja lo!” Tiara ketawa heboh. “Tapi, Dis, lo serius nggak ada rasa sama Kak Galaksi? Dari cara dia natap lo, kayaknya ada yang beda.”
Aku menggeleng mantap. “Kaga ada rasa, selain rasa pingin nampol tiap ketemu dia!” ucapku sembari bangkit dari kasur. Obrolan ini sudah semakin tidak jelas. “Gue ke depan dulu!”
Tanpa menunggu jawaban Tiara, aku ke teras dan menuangkan sedikit makanan untuk si Oren. Takut kalau terlalu banyak, dia jadi obesitas seperti yang dibilang Andaru kemarin.
“Dah, beres! Makan yang banyak, ya!”
Setelahnya, aku kemudian memakai sandal dan bergegas ke rumah Bagas. Aku memang sudah memakai seragam, hanya belum pakai sepatu. Lagi pula ini masih pukul setengah enam pagi, dan si bodoh itu pasti belum bangun.
“Assalamualaikum, Bunda!” ucapku sembari memasuki rumah Bagas.
“Eh, Ladis. Sarapan dulu sini sama Bunda.”
Aku menggeleng pelan, menolak halus ajakan Bunda. Lagi pula, tujuan utama aku datang ke sini bukan untuk numpang makan. “Ladis sarapan nanti aja, Bun. Bagas masih tidur, kan, Bun?”
“Iya, coba kamu bangunin.”
Yes!
Dengan semangat, langkah riang dan hati gembira, aku membuka pintu kamar Bagas. Suasana kamar Bagas masih gelap remang-remang dan benar saja, makhluk jadi-jadian itu masih tidur dengan mulut menganga. Sambil tertawa, aku merogoh saku seragam. Mengambil garam yang tadi sudah aku bawa dari rumah. Hari ini aku akan mengerjai Bagas.
Sedikit demi sedikit aku memasukkan garam tadi ke mulut Bagas. Beberapa kali, Bagas malah membuka tutup mulutnya, menikmati rasa asin dari garam yang aku tuang sedikit demi sedikit. Sambil menahan tawa, aku terus mengerjai Bagas sampai tanpa sadar aku memasukkan garam terlalu banyak ke mulut Bagas hingga dia tersedak.
Aku panik! Buru-buru aku mengambil air di dapur dan memberikannya pada Bagas. Untung Bunda tidak bertanya, aku takut Bagas mati karena tersedak. Dan sungguh, aku tidak mau jadi tersangka pembunuhan.
“LO MAU BUNUH GUE, HAH?!” teriak Bagas sambil melotot ke arahku.
“Ya, maaf, gue nggak maksud–“
“Lo ngapain, sih? Tumben amat udah bangun pagi-pagi,” tanya Bagas setelah sebelumnya menenggak air yang aku bawa hingga tandas.
“Hari ini cerah, Gas. Buruan bangun!”
“Ah, nggak jelas! Udah pulang sana!” ucap Bagas, sebelah kakinya menendangiku. Kurang ajar!
Aku hanya memukul kaki Bagas yang barusan menendangku, sementara mataku menelusuri kamar Bagas yang masih rapi seperti biasa. Hingga tatapanku tertuju pada sebuah pigura kecil di meja belajar Bagas. Terakhir kali aku kesini, aku sama sekali tidak menyadari keberadaan Foto tersebut. Itu adalah foto yang diambil saat aku dan Bagas berusia lima tahun.
Waktu itu keluargaku ikut jalan-jalan bulanan ke Ancol sama warga sekitaran rumah, dan Bagas juga ikut. Di foto itu, tampak aku yang hanya pakai kaus k****g dan celana pendek, sementara Bagas cuma pakai celana dalam plus sedang menangis karena kakinya tidak sengaja menginjak karang. Aku masih ingat betul kejadiannya, saat itu aku bahagia sekali melihat Bagas menderita.
“Kenapa lo senyum-senyum?” tanya Bagas, membuyarkan lamunanku.
Aku bangkit, mengambil foto itu kemudian kembali duduk di kasur Bagas. “Lo masih nyimpan foto ini?”
“Itu satu-satunya foto kita berdua, yang muka lo lagi senyum. Sisanya lo cemberut terus kalo foto sama gue.”
Aku tertawa pelan. Iya, aku sadar betul, tiap kali Ibu mengambil fotoku dan Bagas pasti ada kejadian menyebalkan yang terjadi. Bagas selalu melakukan hal buruk yang selalu bikin aku kesal, bagaimana aku bisa tersenyum kalau suasana hatiku sedang buruk?
“Lo dari kecil udah laknat, sih! Cuma pas lo lagi nangis gue bisa ketawa bahagia.”
“Lo lebih laknat, bodoh!” ucap Bagas sambil lagi-lagi menendangku.
“Lo yang bodoh!”
“Lo lebih bodoh!” teriak Bagas, hingga tanpa aku sadari Bunda sudah berdiri di depan pintu sambil bersedekap.
“Ribut terus!”
“Bagasnya, tuh, Bun!” Aku mengadu.
“Apa, lo yang dateng-dateng bikin rusuh!”
“Kalian nggak capek, ya? Dari kecil berantem terus. Bunda aja yang lihat capek.” Bunda menghela napas pelan. “yang akur, dong.”
“Susah, Bunda. Ladis diajak pacaran nggak pernah mau. Nanti kalau Bagas ajak nikah, takut diterima.” Bagas bangkit dari kasur, mengambil handuk kemudian melenggang pergi begitu saja.
“Sembarangan kalo ngomong!”
Bunda hanya tertawa pelan, sebelum akhirnya kembali mengajakku makan. “Ladis sarapan di rumah aja, Bun. Oh, iya, Bunda nanti tolong bilang Bagas, Ladis ke sekolah naik bus bareng Tiara.”
“Yaudah, makasih ya, sayang udah bangunin Bagas.”
“Ah, Bunda. Ladis iseng doang tadi,” ucapku sambil tertawa, untungnya Bagas tidak jadi mati tadi.
“Iya Bunda tau. Ladis emang beneran nggak mau pacaran sama Bagas?” tanya Bunda.
“Bunda ngaco! Bisa geger dunia persilatan kalo Ladis sama Bagas pacaran.” Aku bergidig geli. Membayangkannya saja aku tidak mau. “Ladis pulang dulu, Bunda. Mau siap-siap berangkat sekolah.”
“Hati-hati, sayang.”
Bunda masih tertawa, sementara aku buru-buru pulang. Harusnya hari ini aku sukses mengerjai Bagas, tapi pada akhirnya malah jadi aku juga yang dibikin pening. Bisa-bisanya Bagas dengan seenak udel mengatakan hal tadi sama Bunda. Aku, kan, yang jadinya malu. Bukan malu karena diajak pacaran atau apa, aku malu menyadari kalau ternyata sejak kecil, aku sudah main sama jelmaan jin empang.
Sebenarnya Bagas memang sudah sering iseng seperti itu, tiba-tiba ngajak pacaran, tiba-tiba ngajak nikah. Dan aku yang sudah tahu akan sifat Bagas yang sama sekali tidak normal, yang bisa aku lakukan hanya diam. Sebagaimana manusia normal lainnya, tidak etis rasanya kalau harus meladeni manusia jadi-jadian macam Bagas.
***