Chaos

1228 Kata
“Hello everybody!” teriak Bagas yang kelewat ceria. Ini bahkan masih pagi, harusnya begitu sampai di sekolah, Bagas langsung masuk ke kelasnya dan duduk dengan tenang sampai bel masuk berbunyi. Namun bukan Bagas namanya kalau sampai melakukan hal normal semacam itu. Jadi di sanalah dia, di depan pintu kelasku, berteriak sambil pasang wajah sok ganteng. “Berisik!” Yang barusan itu Tiara. Aku memang sampai ke sekolah lebih dahulu dengan Tiara, dan yang menakjubkan lagi, Tiara lupa mengerjakan PR. Jadi yang dilakukan Tiara sejak tiba di sekolah adalah menyalin tugas milikku. Ini sebenarnya tindakan ilegal, namun mengingat kondisi Tiara yang menangis semalaman di kamarku, membuatku sedikit tidak tega padanya. “Tiara, jawaban nomer 4 apa?” tanya Ucup yang juga masih mengerjakan PR di meja guru. Memang dasar ketua kelas tidak ada akhlak. Aku membaca dalam hati pertanyaan yang dimaksud Ucup. Padahal itu yang paling gampang, ngapain juga Ucup malah bertanya. Sebenarnya yang sedang mereka kerjakan itu PR Geografi, mata pelajaran di jam pertama hari ini. Dan pertanyaan nomor 4 yang ditanyakan Ucup adalah, ada berapa musim di Indonesia. Itu, kan, gampang banget! “Ada dua, panas sama panas banget!” jawab Tiara asal, bahkan tanpa sama sekali menatap Ucup yang kebingungan. “Salah, Tia! Yang benar itu empat!” kini giliran Bagas yang merusuh. “Musim panas, musim hujan, musim duren, sama musim kawin.” Bagas berkata penuh percaya diri, bahkan dia malah berkacak pinggang menyombongkan diri saat seisi kelas malah menertawakan jawabannya. Emang bener-bener sudah rusak otaknya Bagas. “Ah, yang bener apa, nih?!” tanya Ucup yang mulai frustasi. “Lo googling aja, sih, Cup!” ucapku akhirnya. Kesal rasanya kalau masih harus mendengar perdebatan tidak penting di pagi yang cerah ini. “Jawaban gue udah paling bener, Cup!” Bagas menghampiri Ucup yang masih kelihatan bingung. “Jangan percaya sama alien, bikin sesat doang,” ujar Tiara. “Yang tugasnya bikin sesat itu setan, lo gitu aja nggak tau, Tia!” “Tiara! Jangan panggil Tia!” Aduh, mulai lagi. Kalau perdebatan Tiara dan Bagas sudah mencapai level ini, aku lebih baik pergi. Sembari memijit pelipisku pelan, aku bangkit dari tempat duduk. “Gue mau ke kantin, Ra. Lo mau titip apa? s**u cokelat?” tawarku yang buru-buru dapat anggukan dari Tiara. “Jangan yang dingin, Dis. Makasih.” Aku mengangguk, kemudian bergegas sampai aku sadar di belakangku sudah ada Bagas yang mengikuti sambil berjalan girang. Sumpah, ya, kalau anak kecil yang berjalan riang begitu akan terlihat lucu dan gemas. Tapi kalau yang melakukannya manusia sebesar Bagas, rasanya koridor ikut bergetar. “Lo ngapain, sih, lari-lari? Jangan malu-maluin, kek!” ucapku begitu Bagas berhasil menyamakan langkahnya denganku. “Kenapa, sih? Kan gue lagi bahagia.” Bagas tersenyum lebar sekali. Terakhir dia bilang begitu, aku yang malah kena s**l. Refleks aku menatap Bagas dengan tatapan horor. Kekacauan apa lagi yang akan aku terima hari ini? Semoga Tuhan masih menyelamatkan nyawaku. “Gue mau bubur, Dis,” ucap Bagas begitu kami tiba di kantin. “Yaudah sana beli.” “Tapi lo temenin gue makan, gue beliin lo juga, deh.” “Emangnya tadi lo belum sarapan?” tanyaku ragu. “soalnya gue juga nggak laper-laper amat.” “Tapi gue kepingin, Dis. Gimana, nih? Kalo nggak diturutin nanti anak kita ileran,” ucap Bagas sambil mengelus perut buncitnya. “Hamil anak apaan lo? Anak bagong?!” Emosi aku, kalau lama-lama menghadapi Bagas. Dia masih cengar-cengir di sebelahku, sementara aku menimbang-menimbang untuk ikut makan bubur sama Bagas atau tidak. Sebenarnya tadi pagi aku tidak sempat sarapan karena Tiara terburu-buru belum mengerjakan PR jadi aku cuma makan roti tawar satu lembar. “Yaudah, Gas makan bubur dulu. Tapi lo yang bayar, ya!” Bagas mengangguk ceria. Sementara Bagas memesan bubur, aku duduk tenang sambil menunggu pesanan datang. Hingga tak lama Bagas datang dengan dua mangkuk bubur. Dia menaruhnya di meja kemudian kembali dan mengambil teh tawar hangat. “Lo cocok, Gas,” ucapku sambil menuang sambal ke mangkuk bubur milikku. “Cocok apaan?” “Cocok jadi tukang bubur.” Aku tertawa, sementara Bagas berdecak kesal. Masih sambil ketawa, aku mengaduk bubur di mangkuk sampai Bagas malah teriak. “Kan gue udah bilang, kalau makan bubur sama gue jangan diaduk! Psikopat lo!” Ah, aku lupa. Sebenarnya ini kebiasaan anehnya Bagas, sih. Dia kalau makan bubur tidak suka diaduk, dan kalau manusia normal pada umumnya kalau tidak suka diaduk ya sudah, tapi kalau Bagas berbeda. Dia tidak akan membiarkan orang yang makan bersamanya mengaduk bubur, dan aku yang sudah terbiasa kalau makan bubur diaduk, harus sering-sering tarik napas supaya tidak kena tekanan darah tinggi. “Kalau nggak diaduk, sambalnya nggak kecampur rata, Gas,” jawabku pelan. “Ya lo tuang sambalnya yang rata, di atasnya begini,” ucap Bagas sambil menuangkan sesendok sambal di mangkuknya sendiri. Segitu buatku terlalu banyak. “Kebanyakan, Gas.” “Udahlah! Lo ngancurin mood gue!” Sembari mengomel, Bagas menyuap buburnya. “Alah biasanya juga lo yang ngancurin mood gue. Nggak usah sok ngambek kek anak perawan gitu.” Si Bagas masih cemberut, meski tetap masih memakan bubur di hadapannya. Entah apa yang terjadi sama manusia aneh ini, aku tidak mau menerka-nerka. Karena menebak sesuatu yang ada pada diri Bagas adalah hal yang sia-sia. Jadi aku lebih memilih untuk menghabiskan buburku ketimbang memikirkan Bagas, sampai tiba-tiba dia bertanya. “Bulan depan ulang tahun lo, mau hadiah apa dari gue?” tanya Bagas sambil menatapku lurus. “Hah?! Seriusan? Gue boleh minta apa aja, nih?” Bagas mengangguk pelan, dia menelan bubur di mulutnya sebelum kembali berkata, “ini, kan, ulang tahun lo yang ke 17. Jadi gue mau ngasih hadiah yang emang bener-bener lo mau.” “Kalo gue minta beliin motor?” “Dis, yang masuk akal aja, dong! Motor yang gue pake aja bekas Om gue, itu juga dibayarin pake uang Bunda. Gue mana punya uang sebanyak itu?!” Aku menghela napas kecewa, padahal baru saja aku merasa senang. “Tadi katanya boleh minta apa aja.” “Apa aja yang emang bener-bener lo butuh.” “Nggak tau, gue lagi nggak butuh apa-apa,” jawabku pelan. Tidak mungkin kalau aku meminta Bagas menghilang dari hidupku. Yang ada dia sakit hati terus ngambek berhari-hari. “Yaudah, nanti kalau lo udah tau mau apa, kasih tau gue. Jangan yang aneh-aneh!” Aku mengangguk, kemudian menghabiskan teh hangat milikku yang tinggal separuh. Aku senang, sih dengan keputusan Bagas yang menanyakan keinginanku dulu sebelum memberi hadiah, hanya saja aku malah jadi bingung mau apa. Maksudku, kalau boleh, aku maunya diberikan motor atau rumah sekalian, biar berguna bagi nusa dan bangsa, tapi tadi Bagas bilang tidak mungkin. Lantas aku harus meminta apa? Mendadak aku malah jadi dibuat pusing lagi oleh kelakuan Bagas. Aku harus memikirkan ini baik-baik, jangan sampai Bagas berinisiatif sendiri untuk membelikan aku hadiah. Aku tidak mau, ulang tahunku hancur seperti yang sebelum-sebelumnya. Tahun lalu, Bagas memberiku hadiah kaus kaki bola. Katanya biar berkesan, tapi buat apa?! Tidak ada gunanya. Setelah kaus kaki, Bagas hampir membakar rambutku dengan lilin ulang tahun. Awalnya dia hanya mengajakku selfie bareng kue ulang tahun, tapi karena terlalu dekat hampir saja aku botak karena rambut yang terbakar. Untungnya tidak kena, kalau sampai beneran kena, Bagas juga akan aku botakin. Setiap tahun, Bagas sukses membuat ulang tahunku tampak berkesan dengan segala hadiah tidak berguna darinya. Aku menarik napas pelan, biarlah masalah ini aku pikirkan lagi nanti.  ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN