Setelah keberangkatan Mas Tama dan Bagas ke stasiun, Ibu dan Bapak sudah kembali ke dalam rumah. Seperti biasa, Ibu menjemur pakaian dan Bapak sibuk di ruang kerjanya. Sementara itu, aku yang sudah tidak punya musuh di rumah hanya bisa duduk santai di teras sembari bermain dengan si Oren. Hari ini terlalu tenang untuk kategori akhir pekan. Si Oren masih melompat-lompat di kakiku sembari mencakar celana training yang kupakai. Emang dasar kucing barbar, padahal aku sudah memberinya makan tapi tetap saja dia tidak bisa diam. Aku hanya diam saja memerhatikan kelakuan kucing laknat ini sampai suara berisik terdengar berasal dari ponselku. Nama Andaru sudah tertera di layar, dan seketika perasaanku tidak enak. “Halo?” ucapku pelan. “Dis?” “Apa?” tanyaku malas. “Oren di sana?” “Iya.”

