“Itu kucing siapa, Ladis?” tanyanya membuka pembicaraan. “Kucing teman Ladis, Kak. Dia nitip.” “Ih, lucu banget! Namanya siapa?” “Namanya Oren, Kak!” jawabku bersemangat. “Kakak kapan pulang? Ladis kangen berat, nih!” “Mungkin liburan semester nanti.” Aku mengangguk, sambil sesekali mengarahkan kamera ponsel ke si Oren yang masih saja tertidur pulas. Sampai suara Kak Dika mengalihkan atensiku. “Dis, soal yang kamu bilang, Mas Tama jadi ke Semarang?” Sekali lagi aku mengangguk, “Minggu depan berangkat.” Kak Dika mengangguk pelan, dia tersenyum samar. Aku tidak mengerti, sih, yang aku lakukan ini benar atau tidak, tapi aku segera melesat ke kamar Mas Tama. “Mas, Kak Dika, nih!” ucapku sambil memberikan ponsel ke Mas Tama. “Kenapa, Dik?” “Mas Tama udah berapa hari nggak

