Aku kemudian mengangguk, sembari menggosok hidungku yang langsung gatal karena mencium aroma bawang yang kuat, untungnya aku tidak sampai bersin-bersin. Sampai di teras, aku memakai sepatu dan begitu terkejut dengan kehadiran Mas Tama di ambang pintu rumahku, sudah lengkap dengan helm dan kunci motor di tangan. Mau ngapain, sih, manusia tidak jelas ini? “Apaan?” tanyaku tidak santai. “Mau ngapain?” “Sekolah, ngapain lagi emangnya? Masa iya gue mau ngemis di kolong tol?” kataku yang sedikit kesal dengan pertanyaan barusan. Mas Tama terkekeh pelan mendengar jawabanku barusan. “Bareng gue aja.” “Lah, Mas Tama, kan nganter si Bagas. Gue naik bus,” jawabku asal. “Bareng aja, bertiga.” Mas Tama menggaruk hidungnya, dengan wajah tanpa dosa yang sukses membuatku seratus persen ingin me

