Kasihan Bagas

1051 Kata

“Tapi, kan, kalau lo ngabarin–“ ucapanku terhenti. Tadinya aku mau bilang, kalau Bagas bisa menjemputnya, tapi tidak jadi. Mengingat kondisi Bagas saat ini masih susah bahkan untuk sekedar berjalan. Untungnya, Mas Tama tidak menyadari gelagatku, pun dengan ucapanku tiba-tiba terhenti begitu saja. Dia hanya lanjut masuk, mencium tangan Ibu dan Bapak yang sedang santai menonton televisi di ruang tengah. Sampai kulihat ekspresi terkejut Mas Tama, tepat saat Bapak selesai bicara dengannya. Aku tahu betul, apa yang baru saja Bapak bicarakan. Karena tanpa mengatakan apa pun lagi, Mas Tama segera berlari menuju rumah Bagas. Tanpa menghiraukan Andaru yang masih duduk di depan rumahku, aku segera mengekori Mas Tama yang terburu-buru ke rumah Bagas. Begitu sampai, Mas Tama hanya memberi salam p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN