Aku ingin menjadi orang normal. Hidup dengan normal, sekolah dengan normal, belajar dengan normal dan bertemu dengan orang-orang yang normal. Tapi sepertinya impian itu terlalu muluk untukku. Terlalu bagus dan sulit digapai, macam bercita-cita ingin nikah dengan pangeran Kelantan. Begitu sulitnya, bahkan nyaris mustahil. Hari-hari mendekati pekan ujian memang yang jadi hari-hari yang paling sibuk. Bukan untuk siswa-siswi gabut seperti kami, tapi untuk kakak kelas dua belas, juga para guru yang siang ini lebih memilih rapat di kantor ketimbang mengisi pelajaran di kelas. Alhasil, kelas yang panas dan bising ini sukses membuatku sakit kepala. Ditambah, ada sekumpulan manusia i***t yang kini sedang berdiskusi membicarakan sesuatu, entahlah, aku tidak mau peduli apa pun itu. Sekilas, kulih

