Bagas masih santai saja menikmati semangkuk bubur di hadapannya, sementara kulihat tatapan Sagara sudah mulai memancarkan aura mengerikan. Ekspresinya yang sejak tadi senyum-senyum tidak jelas, mendadak jadi serius. Rahangnya mengeras, matanya melotot, dan aku hanya bisa berdoa supaya tidak terjadi pertumpahan bubur di hadapanku, karena aku belum sempat memakannya. “Maksud lo apa?!” tanya Sagara. Nadanya terdengar dingin dan menakutkan. “Ada pepatah yang mengatakan ‘Jangan jatuh cinta dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya.’ Meskipun gue nggak ada rasa apa-apa sama dia, tapi gimana dengan perasaan dia.” Bagas menjeda ucapannya, kemudian menatap Sagara lurus. “Lo harus memastikan, gue nggak mau lo sakit hati.” Wow! Aku masih belum bisa berkata-kata dengan ucapan Bagas y

