“Masih lemas?” tanyaku pelan. “Lebay banget, sih.” “Gue begadang semaleman buat hafalan, makanya lemas sekarang. Jangan bisanya ngatain aja, lo!” Aku hanya mendecak pelan mendengar pembelaan dari Bagas. Padahal materi pelajaran itu sudah diberikan sejak sebulan yang lalu, dan hafalan ini juga bukan tugas yang mendadak, Bagas saja yang terbiasa mengerjakan tugas dadakan. Sudah begini dia malah marah-marah, rasanya aku mau memukulnya pakai sendok. Tapi tidak jadi, karena tiba-tiba saja aku kepikiran satu hal. “Gas gue mau tanya,” kataku pelan. “Apaan?” “Kalau misalnya ada yang suka sama lo, terus lo ngapain?” tanyaku. Bagas tidak langsung menjawab, dia tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya malah melotot padaku. “Emangnya ada yang lagi suka sama lo?!” Ah, bisa gawat kalau s

