Aku terdiam sejenak, tapi detik berikutnya malah geli sendiri dengan pertanyaan Andaru barusan. Apaan, sih dia? Memangnya dia kira aku akan marah padanya hanya karena hal seperti itu? Daripada marah, aku lebih merasa kecewa karena dia tidak langsung jujur padaku dari awal. Lagian memangnya aku punya hak untuk marah padanya? Tindakannya juga tidak ada yang merugikanku sama sekali, untuk apa aku marah? “Enggak. Ngapain gue marah?” tanyaku sambil terkekeh pelan. “Udah sore, lo pulang dulu, obatin luka lo terus belajar. Ujian nasional udah sebentar lagi, kan?” Andaru mengangguk pelan. “Tiga bulan lagi.” “Lo udah pikirin mau lanjut kuliah di mana?” “Politeknik. Gue usahakan dapet PTN,” jawabnya. “Harus. Lo pasti bisa, asal lo serius belajar,” ucapku seraya mengangguk yakin. Melihat

