bc

COLD KETOS MY HUSBAND

book_age16+
85
IKUTI
1K
BACA
others
sweet
brilliant
genius
multi-character
school
like
intro-logo
Uraian

GENRE CERITA : ROMANCE/FIKSI REMAJA

Kalian tentu tidak asing dengan yang namanya perjodohan, bukan?

Janji konyol itu membuat seorang Siswi SMA yang baru saja masuk beberapa Minggu sekolah terlibat dengan perjodohan dengan Ketua OSIS di sekolahnya. Sedangkan dia tidak terlalu suka dengan Ketua OSIS-nya karena tingginya percaya diri, serta irit dalam berbicara.

Dekat dengan Ketua OSIS tampan itu membuatnya semakin dekat dengan masalah di sekolah yang harus dia hadapi, terutama fans-fans KETOS nya itu. Tidak hanya itu, dia mempunyai musuh yang sangat-sangat licik yang selalu menyuruhnya untuk menjauh dari sang KETOS.

Dia, Citra Maharani Putri Kelvin. Memiliki otak yang cerdas itu sudah tentu dari gennya, tetapi apakah otak cerdasnya itu dapat mengelabui sang musuh yang licik?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 01 | Masa Orientasi Sekolah
Tahun ajaran baru telah dimulai. Hari ini, Citra Maharani Kelvin akan memulai masa Putih Abu-abunya di SMA ANGKASA. Tempat dimana abangnya juga bersekolah. "Bang, cepat! Isabella udah tunggu." Pekik gadis belia bermata cokelat dari anak tangga. Sahutan dari lantai dua terdengar jelas olehnya membuatnya mendengus saat itu juga. "Iya, tunggu." Dimas Pratama Kelvin, yakni saudara laki-laki Citra. Putra sulung dari Reyhan Kelvin dan Riana Kelvin. Pagi yang diawali dengan kebisingan kedua saudara yang saling berteriak satu sama lain, ditambah kicauan burung di pagi hari menambah keramaian di rumah besar itu. "Ayo!" Pria berwajah tampan datang dengan tas di genggamannya dan kunci motor yang dilayangkan berputar-putar. Memamerkan ketampanannya. "Sok ganteng!" Sembur Citra langsung berlalu dari hadapan sang Abang. "Emang ganteng!" Pekik Dimas tepat di telinga adiknya. Citra megang telinganya yang berdenyut ulah Abangnya. Dia berlari dan meninju perut Dimas membuat Dimas meringis kesakitan. Mereka akan pergi ke sekolah menggunakan motor sport kesayangan milik Dimas. Sempat ada perdebatan sebelum menaiki motor tersebut, namun pada akhirnya mereka berangkat bersama. Keadaan sekolah semakin ricuh ketika motor milik Dimas memasuki gerbang sekolah. Gosip tentang kakak beradik itu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih telah menyebar satu sekolah. "Lihat Dimas berangkat dengan perempuan cantik!" Pekik salah satu siswi membuat banyak pasang mata tertuju ke dua saudara itu. "Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih?" "Tidak mungkin kalau bukan." "Bukankah Dimas sudah berkencan dengan Davina?" "Tidak tahu. Mungkin perempuan itu selingkuhannya?" Sayup-sayup Citra mendengar kelompok siswi-siswi bergunjing tentangnya. Tangannya menggenggam erat jaket kulit milik Dimas sebelum turun dari motor tinggi sang Abang. "Mau Gue bantu tunggu?" Tawar Dimas pada Adiknya yang sudah berdiri di samping motornya seraya menunduk menghindari tatapan murid-murid berlalu-lalang. "Tinggal aja, Gue mau keliling sekolah dulu sebelum bel." Dimas menepuk kepala adiknya dan langsung melenggang pergi. Citra beranjak dari tempatnya dan berjalan tanpa arah, tatapannya teralih pada mading besar. Ia memberhentikan langkahnya untuk melihat mading sekolahnya, tetapi teralih karena ada yang meneriakkan namanya. "CITRA!" Dia menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang siswi berlari ke arahnya. Siswi itu, Isabella Anastasya Hatta. Sahabat Citra sedari Pengenalan Lingkungan Sekolah di Menengah Pertama. "Berisik!" Citra memberikan botol minumnya. "Gue cariin tau!" Dengus Isabella berbarengan dengan bunyinya bel sekolah. Citra terkekeh sebelum menarik tangan sahabatnya "Maaf. Ayo, kita baris!" Anggota OSIS ikut berbaris di bagian depan dengan rapih. Dari ujung ke ujung wajah mereka terlihat sangat menyeramkan. Salah satu siswi dengan almamater merahnya maju mewakilkan. "Sebelum mulai acara, kita akan memulai perkenalan dulu ya?" Tanyanya mendapat jawaban serentak dari para murid baru. "Kita mulai dari Ketua kita dulu." Davina mempersilahkan. "Perkenalkan nama saya Haikal Aditya, saya menjabat sebagai Ketua OSIS di sini." Perkenalan Haikal di akhiri dengan sorakan siswi-siswi adik kelasnya karena raut wajahnya yang tidak menunjukan ekspresi. "Harap tenang!" Bentak salah satu anggota OSIS dengan wajah juteknya membuat para murid bungkam. Dia, Sakira. Wanita dengan mulut pedasnya yang mampu membungkam siapapun orangnya. "Gue Dimas, gue menjabat sebagai wakil ketos paling tampan di sini." Perkenalan Dimas dengan percaya dirinya. Sesi perkenalan terus berlanjut sampai barisan murid baru berbondong-bondong berlarian ke sana ke sini mencari apa yang telah disuruh oleh Ketua Osis di depan. oOo "Masih butuh berapa lagi?" Tanya Isabella pada Citra yang sibuk mencari botol berpita di semak-semak. Sehabis perkenalan tadi, mereka disuruh untuk mengumpulkan botol yang berisi kertas dengan nama anggota OSIS di dalamnya. Kalau sudah terkumpul, mereka disuruh meminta tanda tangan sesuai isi kertas itu. "Tiga. Aduh dimana sih?" jawab Citra. Kesal karena tidak ketemu juga, dia menyibak semak-semak dengan kasar tidak peduli tangannya tergores ranting-ranting tajam. "Udah, ayo baris. Nanti lo bawa punya gue satu, biar kita sama." bujuk Isabella menarik tangan sahabatnya menjauh dari semak. "Itu namanya curang, Bell. Gue nggak mau!" Tolak Citra. "Ci, dengerin gue. Kak Davina bilang minimal 4, kalau Lo ambil punya gue satu kita sama, dan terbebas dari hukuman. Dan gue nggak mau tau Lo harus ambil punya gue satu, atau gue akan diemin Lo seminggu penuh!" Ancamnya dituruti Citra. Dia sedang pusing dan jangan sampai sahabatnya ini menambahnya pusing karena terus mengeluh dan lalu tidak mau mendengar semua sarannya. "Ayo semuanya, kita kumpul." Seru Davina menggunakan pengeras suara. Mendengar instruksi tersebut, Citra dan Isabella cepat-cepat berlari menuju barisan. "Udah dapat apa yang kami minta?" Tanya Haikal di depan sana. "Sudah kak!" Jawab mereka bersorak. "Bagus. Siapa yang nggak dapat?" Tanya Haikal dijawab dengan keheningan, tanda mereka mendapatkan botol yang dimaksud. "Bagus. Ada yang kurang botolnya?" Tanyanya lagi kali ini alisnya terangkat, terkesan meremehkan murid-murid yang mengangkat tangan. "Bagus. Siap-siap kalian terima hukuman." Putus Haikal. Salah satu anggota OSIS maju menggantikan Haikal. Dia, Davina Cantika anggota yang pertama kali menyapa awal pembukaan MOS. "Tadi kata gue, kalian minimnya berapa?" tanya Davina membuat suasana yang tadinya mencekam kembali tenang. "EMPAT." Davina tersenyum. "Yang kurang dari empat, bisa berdiri di samping saya?" Instruksi Davina tanpa melunturkan senyum manisnya. Dimas terus menatap sang kekasih dengan senyumnya. Kekasihnya ini, memang selalu tersenyum dimana dan kapan pun. Tidak pernah senyum indahnya itu meluntur. "Yang membawa sesuai yang diminta, silahkan buka botol kalian segera cari nama orang yang ada di kertas tersebut. Dan minta tanda tangannya!" Perintah Davina. Davina dan Dimas berdiri mendekati anak-anak yang tidak membawa sesuai diminta. Sedangkan anak-anak OSIS yang lainnya sibuk memencar ke pos yang sudah direncanakan. Isabella bergegas membuka botol-botol yang tadi mereka bawa. Berbeda dengan Citra, dia malah menggelayuti lengan sahabatnya manja. "Makasih, Ibell. Sayang banget sama, Lo!" Ucapnya manja. Isabella tersenyum simpul, dia membelai rambut sahabatnya sebentar. "Apa sih? Buka botol Lo sana, gelayutan aja." Isabella mendorong badan sahabatnya dengan perlahan. Citra tidak marah, dia terus tersenyum dan dengan jahilnya dia menggerlingkan matanya pada sahabatnya membuat sahabatnya bergidik geli dan lekas meninggalkannya. Citra bangun membawa botol-botolnya pergi mengejar sahabatnya. "Ibell tunggu, ih!" pekik Citra. oOo "Gue nggak salah lihat 'kan, Ibell?" Tanyanya menatap tidak percaya kertas-kertas yang baru saja dikeluarkan dari botol. Di dalam botol miliknya, nama yang muncul dalam kertas itu semua nama Haikal. Berbeda dengan Isabella yang berbeda-beda di setiap kertasnya. "Lalu mau bagaimana? Bukannya enak, minta tanda tangan dari satu orang sekaligus?" Sahut Isabella sambil membereskan kertas-kertas miliknya yang berserakan. "Nanti apa kata dia?" "Kalau dia bertanya, tinggal jawab.. udah takdirnya kak, gitu aja ribet." "Nggak segampang itu Bell!" "Terus Lo maunya gimana? Mau tukar?" Tawar Isabella mendesah kesal karena sahabatnya. "Nggak, sedikit kesal dan bingung mau menjawab bagaimana nantinya." Jawab Citra merapihkan kertas-kertasnya. Isabella tersenyum lebar mendengarnya. "Ayo!" Citra berpisah dengan Isabella karena sahabatnya harus pergi ke pos dimana abangnya berjaga. Sekarang, Citra sedang mengantri mendapatkan tanda tangan Haikal dengan barisan paling belakang. Udah kayak Fanmeet aja Gue. Ketika sudah tiba di barisan depan, Citra lekas memberikan keempat kertas tersebut pada Haikal. Dapat dia lihat kerutan di dahi Haikal. "Kamu salah satu penggemar saya? Sampai minta ke teman-teman kamu buat minta tanda tangan saya?" Tanya Haikal dengan kadar kepercayaan dirinya 100%. Citra terkekeh mendengarnya, tidak percaya apa yang telah didengarnya. "Maaf kak, kakak salah paham." Jawab Citra tersenyum kikuk. Haikal menanda tangani kertas Citra walaupun mulutnya terus ngomong hal-hal konyol. "Sudah biasa, penggemar seperti kamu." Cetus Haikal membuat Citra melongo. Hey, dia bukan penggemarnya! Itu hanyalah sebuah ketidaksengajaan yang terjadi. Kenapa senior itu asal bicara saja? "Maaf, tapi saya bukan penggemar kakak." Ujarnya menahan kesal. Haikal menatap datar Citra. "Silahkan pindah, atau kamu mau membantu saya merapihkan ini?" Usir Haikal. Langkah gadis itu terhenti kala merasakan pergelangan tangannya yang dicekal oleh seseorang. Alisnya berkerut bingung. Tangannya ditarik oleh orang itu membuatnya mundur dan kembali berhadapan dengan orang yang mengusirnya secara tidak langsung tadi. "Tangan kamu terluka. Ikut saya!" Tanpa memedulikan gadis itu yang terlihat kebingungan, Haikal terus menarik tangannya menuju ruang kesehatan. Pintu ruang kesehatan sudah di depan mata. Tinggal mengayunkan beberapa langkah saja mereka sudah sampai di ruang kesehatan, namun Citra justru menarik tangannya hingga terlepas dari cekalan tangan Haikal. "Kenapa?" Citra menggeleng dan memberikan senyum kikuknya. "Nggak apa-apa saya Kak! Nggak papa sumpah nggak papa." Telapak tangannya dia layangkan menyuruh Haikal untuk melihatnya, kemudian memukul-mukul tangannya yang terdapat darah yang sudah membeku. "Lihat, nggak papa haha. Luka kecil doang ini.." Haikal tetap tidak menunjukkan ekspresinya membuat Citra kikuk sendiri. "Saya pamit Kak!" Citra menunjukkan deretan gigi rapihnya dan lekas pergi. Namun langkahnya kembali dihentikan oleh Haikal. Citra menggeram dalam diam. "Siapa yang menyuruh kamu pergi?" Citra membeku mendengar suara ngebas dari belakang telinganya. Belum sempat dia berbalik, tangannya sudah ditarik kembali oleh Haikal. Seperti berteleportasi, kini dia sudah berada di ruang kesehatan. Menatap dokter yang juga menatapnya. "Haikal, ada apa ini?" Tanya sang dokter merasa heran dengan kehadiran Haikal secara tiba-tiba. Jawaban itu di dapat ketika Haikal menyodorkan tangan yang digenggamnya tadi, memperlihatkan luka-luka yang sudah mengering dengan sendirinya pada dokter itu. "Oh, ini mah luka ringan, Kal. Sebentar yah.." Dokter itu kembali dengan kotak P3K. "Lain kali jangan dibiarkan ya cantik, takut infeksi." Pesan dokter cantik itu setelah mengobati semua luka di tangan Citra. Citra tersenyum dan mengangguk seraya mengucapkan terimakasih pada sang dokter. Matanya tak luput dari tangannya yang tertempel plester kuning bergambar kartun kesukaannya. "Emm, maaf dokter saya pamit ke kelas duluan ya. Kak terimakasih." Ucapnya tersenyum sebelum benar-benar pergi meninggalkan Haikal bersama sang dokter yang sedang menatap punggungnya. Dokter tersebut menyenggol lengan Haikal seraya menatap menggoda Haikal. "Siapa Kal?" "Adik kelas." Dokter itu tetap tersenyum menggoda remaja lelaki di sampingnya. "Cantik Kal." "Iya, perempuan soalnya." Jawabnya membuat sang dokter memutarkan bola matanya kesal mendengar jawaban murid datarnya. Tangan dokter itu dilayangkan mengusir Haikal yang masih menetap di sana. "Masuk ke kelas sana, jangan bolos di sini!" Lanjut sang dokter menggoda. Dokter itu hanya tertawa melihat ekspresi Haikal yang tidak terima dituduh ingin bolos kelas. . . . "Perhatian sih, tapi kenapa maksa sih? Kan gue bisa jalan sendiri, Lo tinggal bilang sana obatin luka kamu ini malah ditarik-tarik." Ocehnya sepanjang jalan menuju letak sahabatnya. Citra terus mendumal tanpa peduli tatapan orang-orang yang menganggapnya tidak waras. Kini dia sedang dibuat tidak karuan oleh KETOS berwajah datar itu. Kesal dengan perilaku lelaki itu yang semena-mena tanpa mau mendengarkannya. Dia tau itu demi kebaikannya sendiri, tapi sopankah anda membuat jantung seorang gadis menjadi tidak karuan hanya karena perhatian yang dikasih dalam sekejap mata? "Ada apa sih, cantik? Kenapa mukanya ditekuk gitu?" Seseorang datang dan mencolek dagunya. Citra terkejut merasakan dagunya disentuh oleh seseorang dari belakang. Betapa terkejutnya dia mendapati Abangnya sedang berjalan beriringan dengannya. Hampir saja, jari abangnya dibuat putus. "Astagfirullah, gue kira fuckboy." Citra terkejut menatap sebal Abangnya. "Goodboy gini dibilang Fuckboy." Bantah Dimas membuat bola mata adiknya memutar malas mendengarnya. "Itu, muka lo kenapa?" Tanyanya lagi. Dimas hendak memegang wajah adiknya, namun segera ditepis oleh adiknya. "Lo, jangan ngaku-ngaku jadi abang gue. Jangan nyapa gue, anggap aja kita nggak kenal!" Kata Citra membuat langkah Dimas terhenti. "Sampai segitunya Lo malu punya abang kayak gue?" Tanya Dimas menekuk wajahnya. Citra bukan tidak mau mengakui abangnya, atau malu dengan abangnya hanya saja dia ingin melindungi dirinya supaya aman dari ribuan penggemar Abangnya. Jika tidak, dia akan dicap sebagai perusak hubungan orang—mendengar perbincangan siswi-siswi pagi tadi membuat dirinya harus lebih waspada. Citra berdecak, "Nggak gitu, bang. Lo liat, banyak yang ngelihatin kita." Bisik Citra kesal. "Suka-suka mereka, mereka punya mata." balas Dimas terus mengikuti adiknya. Citra menghentakkan kakinya kesal. "Abang, please." Kalau sudah begini, apakah Dimas bisa menolak tawaran tidak jelas dari adik tersayangnya ini? "Iya-iya, sana ke kantin gih!" Suruh Dimas pada akhirnya. Sebelum pergi dia mengacak rambut adiknya. . . . Setelah menyelesaikan tugasnya, Haikal beranjak ingin pergi ke ruang OSIS, tetapi tanpa sengaja dia melihat Dimas sedang bercengkrama dengan siswi yang meminta baru saja dia antarkan dari ruang kesehatan. "Iya-iya, sana ke kantin gih!" Hanya kata itu yang Haikal dengar dan di detik kemudian dia melihat sahabatnya mengacak-acak rambut siswi yang meminta tanda tangannya tadi, kemudian pergi. Tanpa peduli, Haikal beranjak dari tempatnya. Tetapi, tanpa disadari langkahnya tidak menuju ruang OSIS melainkan kantin.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
16.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
74.6K
bc

My Secret Little Wife

read
132.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook