Pagi ini Dimas dibuat khawatir akan kejiwaan adiknya yang mungkin tiba-tiba saja menyerong tanpa alasan. Sedari pagi mereka sarapan adiknya terus tersenyum tanpa henti.
"Ci, jangan senyum-senyum begitu nanti Molly ikut sawan." Ujarnya seraya bergidik.
Citra terus mengelus bulu kucing hitam berdasi putih itu tanpa menghiraukan Abangnya. Dimas segera jalan ke depan dengan tergesa-gesa mengingat jam yang sedikit lagi akan ditutupnya gerbang.
"Ci, udah telat. Lo nggak mau berangkat?" Tanya Dimas masih tidak diindahkan oleh adiknya.
"Gue berangkat ya. Jangan lama-lama nanti terlambat!" Dimas mengingatkan.
Malas menunggu jawaban tidak pasti dari adiknya, Dimas memilih berangkat segera atau dia akan terlambat nanti. Biarkan adiknya. Sedari pagi sudah dia tegur tapi anak itu tetapi tetap bungkam, seperti sengaja membiarkan mulutnya berbusa. Jika mengingat keterlambatannya, kesadaran gadis itu akan pulih dengan sendirinya, mungkin?
Dimas lekas pergi meninggalkan kediamannya setelah menepuk kepala adiknya sekilas serta meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.
Sedangkan Citra, dia tidak mempedulikan Abangnya. Bahkan sekarang dia berdansa asal tanpa melepas Molly dari tangannya.
Citra memang sengaja membiarkan Abangnya berbicara hingga berbusa, karena dia tidak mau Abangnya merusak mood paginya.
Hari ini, Citra sudah resmi menjadi anak SMA ANGKASA yang telah mengikuti kegiatan orientasi siswa itu. Katanya, SMA itu tempat para orang-orang memulai kisah cintanya. Masa putih abu-abu yang selalu diimpikannya. Masa paling mengesankan di dalam novel yang dia baca. Dia ingin masa putih abu-abunya mirip dengan novel yang dibacanya.
Dia ingin menceritakan kisahnya ke dalam novel yang akan ditulisnya suatu saat nanti. Dia ingin menjadi wanita yang disayang dengan posesif oleh lelaki yang dicintanya.
Tapi, apakah masa putih abu-abu nya akan persis sama seperti di dalam novel romansa yang dibacanya? atau bahkan berbeda dan tidak seindah yang dibayangkannya? Masa bodoh, masalah itu akan dipikirkan nanti saja. Intinya dia bahagia telah menjadi siswa SMA!
"Molly, mommy mau berangkat sekolah dulu ya. Molly jangan nakal di rumah, pup nya di pasir, jangan lupa makan, habis itu bobo. Oke?" Celoteh Citra pada kucing hitamnya.
"Meow." Balas Molly menatap malas majikannya.
"Pinter. Dadah Molly!"
Sebelum benar-benar pergi Citra mengecup seluruh muka Molly.
oOo
"Gue heran sama adik gue. Dari tadi pagi senyam-senyum sendiri, gue takut dia --." Dimas melanjutkan perkataannya lewat jari telunjuk yang diletakan di atas dahi.
"Adik kamu udah pulang?" Tanya Davina mendapat anggukan dari sang kekasih.
"Dimas punya adik?" Tanya Revan mewakili.
Dimas mengangguk. "Lo, temenan sama gue dari menengah pertama, tapi nggak ada yang tau kalo gue punya adik." Sindirnya.
"Lo nggak pernah kasih tau kalau Lo punya adik. Lagipula setiap main ke rumah Lo, adik Lo nggak pernah ada?" Balas Rangga memang benar.
Dimas tersenyum konyol, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Iya juga. Adik gue sekolah di Amerika, waktu itu."
"Tapi, Haikal pasti tau. Dia dulu juga sering main sama adik gue." lanjut Dimas membuat yang lainnya menatap Haikal.
Haikal dan Dimas memang sudah berteman sedari mereka kecil. Berbeda dengan Revan, Rangga dan Davina yang baru bergabung ketika mereka menginjak bangku SMP. Dan Sakira, gadis pemarah itu bergabung dengan mereka berlima ketika mereka baru saja resmi menjadi anak SMA ANGKASA.
Haikal menatap datar mereka. "Apa?"
"Lo kenal kan adik gue?"
"Lupa." Dimas dan yang lainnya mendesah kecewa.
"Padahal adik gue tambah cantik loh, Kal!" Tambah Dimas memasang raut wajah kecewa.
Haikal tidak menghiraukan.
"Oh, ya? Boleh jadi pacar gue dong, Dim?" Sahut Rangga dengan cepat.
"Nggak. Lo gue tolak, adik gue Haikal yang punya." Balas Dimas menopang dagunya melirik Haikal.
"Dia ... Tuan putri milik Haikal." Gumam Dimas terdengar oleh Haikal yang duduk tepat di sampingnya. Walaupun hanya sayup-sayup dan tidak terlalu jelas.
Haikal tidak memperdulikan percakapan teman-temannya. Otaknya terus berputar adegan Dimas dengan penggemar fanatiknya, Citra. Dia tidak tertarik dengan hubungan mereka, dia hanya takut kalau Dimas selingkuh dari sepupunya, Davina.
Haikal bangun dari kursinya membuat teman-temannya bingung. Dia berjalan meninggalkan kelas. Namun belum berjalan saja, tangannya sudah dicekal lebih dulu oleh tangan sahabatnya.
"Mau kemana?" Tanya Rangga ketika lelaki berwajah datar itu menatapnya.
"Ruang guru." Jawab Haikal melepaskan tangannya dari cekalan sahabat.
Alis Rangga menyatu. "Udah bel 'kan?"
"Sebentar."
"Ke sana naik apa?" Tanya Rangga membuat alis Haikal menyatu.
"Maksud Lo?" Tanya pria tampan itu dengan wajah datarnya.
"Ke ruang guru 'kan?" Tanya Revan mendapat anggukan sang sahabat.
Davina menoyor kedua kepala sahabatnya perlahan setelah mencerna dengan baik arah perbincangan kedua sahabatnya. "Bukan ruang guru aplikasi, bodoh!"
Keduanya meringis. Haikal menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya yang memang aneh. Dia melenggang pergi meninggalkan ke empat sahabatnya.
Langkahnya kembali berhenti tepat di depan pintu. Dia berbalik menatap sahabatnya.
"Kalian juga harus balik ke kelas masing-masing, udah bel." Haikal mengingatkan membuat teman-temannya bubar ke kelas masing-masing.
Haikal menuruni tangga hingga lantai dasar, dia kembali berjalan menyusuri lorong ruang guru, namun netra hitamnya menemukan gadis yang dari kemarin berkeliling di pikirannya.
Dengan sengaja dia memutar langkahnya mendekati gadis dengan buku tebal yang dibacanya. Gadis itu selalu saja menarik perhatiannya. Langkahnya semakin mendekati gadis yang selalu menarik perhatiannya.
"Kenapa pelajaran belum mulai?" Tanya Haikal ketika sudah berada tepat di hadapan Citra.
Citra mendongak. Saat itu juga netra mereka bertemu. Netra hitam pekat milik Haikal menatap dalam netra cokelat milik Citra yang mampu menenggelamkan Haikal ke dalamnya.
Deg! Deg! Deg!
Haikal enggan untuk mengalihkan pandang ke arah lain. Netra mata di depannya sangat menghangatkan. Begitupun Citra yang enggan meninggalkan pandangannya dari netra berwarna hitam pekat milik Haikal.
Mata itu, mata yang selalu menatapnya dengan dingin dan hangat diwaktu yang bersamaan. Namun sekarang, mata itu hanya menatapnya dengan hangat. Seperti, seorang pria yang sedang menatap ... kekasihnya.
Citra mengakhiri pandangan yang hampir membuat jantungnya meloncat dari tempatnya.
"Saya nggak tahu"
Mendengar jawaban gadis itu, dia lekas pergi tanpa sepatah kata lagi. Dia hanya takut kalau suara debaran jantungnya terdengar oleh gadis di depannya.
Citra yang melihat kepergian seniornya terdiam tidak percaya. Dia pikir Haikal akan memberinya informasi tentang kelasnya atau apa, nyatanya tidak. Lelaki itu datang dan pergi setelah membuat jantungnya berdegup kencang.
Tanpa mau memikirkan Haikal, dia pergi menuju kelasnya dengan tangan yang terus memegangi d**a sebelah kirinya yang terasa berdebar kencang.
Isabella menatap temannya heran. "Kenapa tuh d**a Lo?"
Citra tersentak mendengar pertanyaan dari temannya. Dengan cepat tangannya dipindahkan dari d**a sebelah kirinya. Dia diam tidak menjawab Isabella, terlalu bingung mau menjawab apa. Dia sangat gugup saat ini.
"Lo main keluar-keluar aja." Rengut Isabella ketika dirinya baru saja duduk.
"Baru masuk sekolah udah gosip." Jawab Citra setelah menghembuskan nafasnya perlahan, menetralkan. Matanya menatap sebal sahabatnya yang terkekeh.
oOo
Bel tanda istirahat sudah berbunyi dari lima menit yang lalu, membuat suasana sekolah ramai kembali akan aktivitas para murid. Ada yang memilih untuk menggunakan untuk belajar, menyontek tugas yang belum selesai, bermain bola ataupun basket.
Tetapi murid yang sudah pintar seperti Citra dan Isabella lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat untuk makan di kantin seraya membicarakan sikap Haikal pagi tadi.
"Dih, kurang kerjaan banget dia?" Isabella menanggapi curhatan sahabatnya seraya memakan kripik singkong rasa barbeque.
Citra mengangguk setuju. "Iya, gue juga bingung sama dia. Tiba-tiba dateng, tiba-tiba nanya, tiba-tiba pergi. Serba tiba-tiba, heran."
Dari membicarakan Haikal, hingga membicarakan orang yang tidak ada sangkut paut dengan pembicaraan awal mereka. Terus menyambung seperti itu sambil menikmati makan.
Ditengah kunyahannya Citra melihat abangnya melambai ke arahnya dengan senyum sumringah. Citra segera mengalihkan pandangan, pura-pura tidak tahu dan melanjutkan makannya. Pekikkan para kaum hawa penggemar berat abangnya membuatnya takut akan dikeroyok oleh ribuan penggemar abangnya karena telah berani dekat-dekat dengan pangeran tertampan yang sayangnya abangnya.
"Ci! Lo di sapa, juga."
Citra tersedak ketika merasakan bahunya ditepuk dari belakang. Hampir saja dia mengeluarkan hasil kunyahannya. Karena menahan makanan dalam mulut, dia jadi tersedak.
Dimas dengan tanggap memberi minum untuk adiknya, tetapi Citra menolaknya dan malah meminum air milik Isabella membuat si pemilik melotot ke arahnya.
"Lo ngapain di sini, Bang?" Bisik Citra menatap sekitarnya yang semakin heboh.
"Mampir." Setelah mengambil dua bakso berukuran kecil milik adiknya, Dimas melenggang pergi meninggalkan Citra dan Isabella.
"Itu orang nyebelin banget sih."
Isabella menatap nanar gelasnya yang kosong. "CITRA, MINUMAN GUE LO HABISIN IHH!!" Pekiknya heboh semakin mengundang perhatian.
Citra meringis merasakan telinganya yang berdenyut mendengar nyaringnya pekikan sang sahabat.
"Jangan teriak-teriak dong." Kata Citra menahan malu. "Nanti gue beliin. Jangan teriak-teriak." Sambungnya membekap mulut sang sahabat.
Tidak mau mendengar pekikan merdu sahabatnya, dia segera beli minum sesuai permintaan sahabatnya yang membuatnya mengantri panjang. Seenak itu?
Antrian panjang membuat kakinya pegal. Citra memutuskan untuk duduk pada salah satu bangku di dekat tempatnya baris.
"Untuk Lo!" Citra menoleh ke arah orang yang memberinya gelas berisi minuman pesanan Isabella.
Citra menatap aneh orang itu, sedangkan yang ditatap dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Antrian lo diambil orang." tunjuk Haikal dan benar saja antrian Citra sudah ditempati orang.
Padahal dia hanya meninggalkan antriannya sebentar, tetapi sudah ada orang yang mengambil antriannya.
Tidak kesal, hanya kecewa. Salahnya meninggalkan barisan. Citra menoleh ke tempat Haikal berdiri, namun Haikal sudah berada jauh di depannya. Menyisakan punggung tegapnya yang tidak lama hilang tertutup kerumunan orang.
Haikal melenggang dengan meninggalkan gelas tadi. Citra kembali dibuat bingung dengan sifat ketua OSIS nya itu.
Loh, dia kenapa lagi?
Citra lekas balik ke tempat duduknya tak lupa minuman yang dibawa Haikal dia bawa dan dia kasih ke sahabatnya.
Isabella mengernyit, namun tetap ditenggaknya minuman itu. "Kok cepat banget?" Tanyanya sebelum menenggak minumannya.
Citra hanya menggedikan bahunya acuh. Isabella segera menyantap makanannya kembali, berbeda dengan Citra yang sudah tidak bernafsu.
Tiba-tiba saja terbesit ide konyol Citra. Apa jangan-jangan, seniornya itu suka sama Isabella? Tanyanya membatin, namun detik kemudian dia menggeleng kuat, menolak pikiran konyolnya.
Jangan berpikir konyol, Ci!
oOo
"Hai!" Citra menoleh kala Davina menyapanya.
"Oh, Hai Kak!" Balas Citra tersenyum kikuk.
Davina mengulurkan tangannya jangan lupakan senyum ramahnya. "Davina, pacar kakak kamu." Ucapnya memperkenalkan diri.
Citra membelalakkan matanya. Bagaimana Davina mengenalnya? Apakah dari Abangnya? Bagaimana jika Davina menyebarkan kalau dia adik dari Pangeran sekolah?
Yeah, pangeran sekolah julukan untuk Abangnya yang sangat tampan. Dan Haikal adalah Raja di sekolahnya. Mengingat kesempurnaan yang dimiliki, lelaki itu memang pantas menerimanya.
Baiklah, lupakan mereka berdua dan juga pertanyaan-pertanyaan dalam otaknya.
Citra menggaruk kepalanya ragu. Dia terkekeh kaku. "Ka-kakak kok bisa tau?"
Davina sedikit mengernyit namun tetap menjawab. "Abang kamu, tenang aja aku jaga rahasia kamu."
Sedikit lega mendengar jawaban Davina, tapi dirinya juga harus tetap waspada walau Davina kekasih Abangnya. Dia tidak ingin ketenangannya lenyap begitu saja karena dirinya tidak waspada.
Bisa saja perempuan dihadapannya ini membocorkan rahasianya ketika hubungan mereka berdua putus.
Oh, sungguh jahat otaknya telah berpikiran jahat pada kekasih Abangnya sendiri. Pasti abangnya memberi tahu kekasihnya karena kekasihnya ini orang yang baik, tentunya 'Kan? Jadi, buat apa dirinya berpikiran buruk tentang kekasih Abangnya.
Davina jalan diikuti Citra. "Kamu pulang naik apa?" Tanya Davina basa-basi.
"Mobil, kenapa Kak?"
"Oh, okay. Gimana hari pertama?"
Davina sangat merasa canggung dengan adik kekasihnya ini. Dia bingung harus bicara bagaimana dengan adik sang kekasih.
Citra menggaruk tengkuknya seraya terkekeh kikuk. "Biasa aja sih." Cengirnya.
Davina ikut terkekeh mendengar jawaban Citra. "Kamu dapet walas, siapa?"
"Ibu Sri Suryaningsih, orangnya lumayan asik tau kak." jawab Citra memberi tahu kesan diajar oleh guru tersebut.
"Oh, beliau. Kakak dulu juga diajar sama beliau." Ucap Davina tersenyum senang ketika melihat Citra tersenyum tanpa canggung.
"Orangnya asik parah. Kalau diajar sama beliau kita belajarnya santai." Lanjut Davina.
Citra tersenyum kala mendengar ocehan panjang lebar dari kakak kelasnya. Ternyata kakak kelasnya yang ini tidak jaim, dan banyak omong. Sedikit bersalah karena telah berpikiran buruk dengan wanita baik di sampingnya ini.
Tidak terasa mereka telah berbincang hingga sampai di tempat parkir. Citra melambai ke Davina tanda perpisahan mereka, begitupun Davina.
Davina sangat bahagia ketika bisa dekat dengan adik kekasihnya. Dia meninggalkan parkiran dengan perasaan senang meledak-ledak walaupun ada rasa sedikit kecewa karena percakapan mereka yang terlalu singkat. Rasanya dia ingin cepat dekat dengan adik kekasihnya supaya bisa berbincang banyak tentang sang kekasih.
Citra jalan mendekati mobilnya, hendak masuk ke dalam mobilnya dan hampir saja dia terpentok badan mobil. Beruntung ada tangan kekar yang melindunginya. Matanya menelusuri sang pemilik tangan kekar yang membuatnya panas dingin.
"Eh?" Kaget Citra melihat ke arah tangan kekar itu.
"Loh, kak Haikal?" Beo Citra melihat si pemilik tangan kekar.
Haikal memandang datar siswi di depannya ini.
"Lain kali hati-hati." Katanya langsung berlalu begitu saja.
Citra membeku di tempat, entah kenapa otaknya tiba-tiba saja blank. Ketika Haikal sudah lima meter darinya, Citra tersadar dan segera mengucapkan terimakasih pada Haikal sebelum dia memasuki mobil dan meninggalkan parkiran sekolah.
Haikal memasang seatbealt. Tanpa sadar, bibirnya melengkung ke atas. Dia menatap dirinya yang tersenyum lewat spion mobil.
"Gue .. kenapa?"