"Oh, iya! Kemarin Ibu lupa buat pengurus kelas." Katanya menunda pelajaran yang akan dimulainya.
"Kita bagi sekarang saja ya, sebelum mulainya pelajaran." Sambung Bu Sri di depan sana.
"Ketua kelas, ibu pilih Devan Syarief. Silahkan angkat tangan!" Bu Sri mendapat lambaian tangan dari Devan.
"Isabella sebagai wakil ketua kelas, Zaskia menjadi sekertaris, Citra Maharani sebagai bendahara pertama dan Beni sebagai bendahara kedua, seksi keamanan Ilham. Sudah cukup ya?" Tawar sang guru dan mendapat jawaban yang tentunya setuju dengan tawaran sang guru.
"Untuk pengurus kelas, kalian harus bekerjasama dengan baik. Terutama kedua bendahara, kalian Ibu kasih tanggungan memegang duit. Harus jaga baik duit itu, kalau nggak mau ganti, ingat!" Setelah mengatakan hal tersebut, Bu Sri segera memulai pelajaran yang tertunda.
Jam pelajaran Bu Sri segera berakhir. Semua murid dengan tenang mengerjakan tugas yang telah dikasih. Tepat setelah bel berbunyi Citra dan Beni dipanggil maju ke depan oleh gurunya.
"Ada apa ya bu?" tanya Citra ketika sudah berdiri di samping meja guru.
"Sebelum ke kantin, kalian jangan lupa tagih uang kas ke teman-teman kalian setiap minggunya, ya .. minimal seminggu sekali. Ya?"
"Baik bu." Citra dan Beni mengangguk paham setelahnya mereka keluar kelas.
"Kenapa Lo?" tanya Isabella di depan pintu kelas.
Citra menarik tangan sang sahabat menjauhi kelas. "Nggak kenapa-napa." Jawabnya.
"Tapi kok Lo sama Beni dipanggil sama Bu Sri?" Tanya Isabella ingin tahu.
"Disuruh tagih uang kas seminggu sekali."
Isabella mendesah panjang. "Sekolah elite, tapi masih aja ngeluarin duit." keluhnya.
Citra memutar bola matanya. "Rumah gede, harta berlimpah, tapi ada kas aja ngeluh nggak punya duit."
oOo
"Mulai besok gue sama Beni tagih uang kas. Jangan lupa bawa uang ya sayang!" Citra memberi tahu temen sekelasnya.
"OKE!" Jawab temen-temennya tanpa mengeluh terkecuali Isabella yang merasa duitnya akan terkuras.
"Kas seminggu sekali nggak ngebuat Lo pada miskin mendadak kan?" Lelucon Beni mendapati sorakan dari teman-temannya.
"Nggak mungkin kan?" Citra terkekeh dibalas sorakan dari teman-temannya
"Nggak, tapi pikir aja baru masuk sekolah udah disuruh kumpulin uang kas, Ya Tuhan." Keluh salah satu siswi berambut pirang.
Citra menggedikkan bahunya acuh. "Pokoknya gue nggak mau tau, kas seminggu sekali. Besok gue sama Beni tagih." Putus Citra kemudian kembali lagi ke bangkunya.
"Citra, lo tau nggak sih?" Heboh Isabella ketika Citra baru saja sampai di tempat duduknya.
"Apa?"
"Kemarin waktu MOS, gue dapet nama Kak Revan dua -"
"Iya, terus?"
Sebelum menyambung katanya, Isabella sudah terlebih dahulu teriak-teriak. Sepertinya dia sudah tidak bisa menyambung kata lagi saking senangnya.
"Singkat cerita gue diajak makan sama anggota Most Wanted! Wah, gila harus diabadikan banget nggak sih?" Pekik Isabella antusias menceritakannya.
Citra tersenyum menggoda. "Terus?"
"Gue ditraktir mereka, dan yang membuat jantung gue meledak itu .." Isabella menarik napasnya sebelum menyambung.
"Revan, Lo tau Kak Revan? Dia minta nomor w******p gue!!" Pekiknya loncat sana-sini.
Meski Citra sedikit tidak paham dengan cerita sahabatnya tapi dia ikut tersenyum dan terus menggoda sahabatnya.
Citra mencolek lengan sang sahabat yang sedang dimabuk asmara. "Jangan-jangan dia suka sama, Lo?"
Citra tertawa dan terus menggoda sahabatnya hingga wajah sahabatnya memerah.
Ketika tawa mereka mereda, Citra bertanya yang membuat mood Isabella down seketika. "Ngomong-ngomong, bang Revan yang mana?"
oOo
"Tadi pagi minum s**u,"
"Cakep!" seru Dimas dan Rangga kompak.
"Gue nggak lagi pantun, goblok." Revan menoyor kepala keduanya membuat mereka berdua meringis.
"Pesan makanan sana!" Suruh Dimas pada kedua temannya.
"Lo aja sana!" kompak Rangga dan Revan.
Dimas tak menggubris, dia memainkan benda pipihnya. Terdapat banyak pesan dari nomor tidak di kenal di sana, dan ia yakin kalau nomor-nomor itu dari adik tingkat maupun kakak tingkatnya yang sudah lulus.
Dari banyaknya pesan, dia tertarik dengan satu pesan. Dia membuka pesan tersebut, setelah membacanya terlihat kedua bola mata Dimas yang membola.
Dimas berdiri dari bangkunya, membuat bangkunya berderit kencang sehingga mengundang perhatian para murid yang sedang istirahat. Dimas tidak peduli, dia segera lari menjauhi kantin.
"Dimas!!" Teriakan teman-temannya hanya dijadikan angin lalu olehnya.
Davina yang hendak memasuki kantin dibuat heran melihat kekasihnya lari meninggalkan kantin dengan tergesa-gesa. "Dimas!" Panggilannya bahkan tidak diindahkan oleh Dimas.
Teman-temannya dibuat bingung karena sifatnya yang tidak biasa. Wajar saja jika yang seperti itu Haikal, tetapi ini Dimas. Dia tidak pernah lari begitu saja tanpa memberi tahu mereka, apalagi Davina, kekasihnya.
Haikal. Lelaki itu diam. Dia sempat melihat kontak orang yang mengkontak sahabatnya, tetapi dia tidak melihat pesan apa yang terkirim.
Tukang Palak. Kontak orang yang dia lihat.
Haikal juga ikut bangun dari kursinya, dia lekas mengikuti langkah sahabatnya. Dia hanya takut kalau sahabatnya selama ini diperas oleh preman jalanan.
Pikiran Haikal semakin yakin ketika melihat langkah Dimas mendekati gudang belakang sekolah. Dimas berhenti tepat di depan gudang, Haikal terkejut siapa yang ditemui Dimas.
Penggemar fanatiknya, Citra. Dia tidak mendengar apa yang dibicarakan mereka, tetapi beberapa detik kemudian mereka berpelukan mesra.
Haikal bergegas keluar dari tempat persembunyiannya. Dia menatap tajam keduanya. Pintar sekali, selingkuh di tempat yang mendukung.
"SEDANG APA KALIAN BERDUA?!"
.
.
Sedangkan itu,
"Rev, awas Rev, gue mau liat juga!" Ribut Rangga menggeser posisi Revan yang menghalanginya melihat.
"Berisik, setan! Lain kali Lo nggak gue ajak ngintip-ngintip deh Rang, berisik mulut lo." Keluh Revan menggeser posisinya.
Ketika Haikal meninggalkan kantin, Davina, Revan, dan Rangga, turut mengikuti langkah Haikal dan Dimas hingga sampai sini.
"Lo berdua bisa diem nggak sih?" Ketus Davina pada mereka.
Detik itu juga mereka bungkam, tetapi mata Revan terus menatap jutek Rangga.
Kesal dengan tatapan Revan, Rangga meraup wajah sahabatnya itu. "Muka lo udah kaya Momo Challenge, nggak usah di Momo-momoin lagi."
"Enak aja, muka ganteng begini dikata Momo." Balas Revan tak terima.
Revan hendak melanjutkan perkataannya, namun suara Haikal terdengar sangat menyeramkan membuatnya bungkam.
"SEDANG APA KALIAN BERDUA?!" Bentak Haikal dengan tatapan matanya berkilat marah.
Reflek, Rangga dan Revan saling berpelukan satu sama lain mendengarnya. Mata mereka saling memandang. Sadar akan posisi mereka, pelukan itu dilepaskannya. Revan ingin membuka mulutnya kembali, namun urung mendengar bentakan Haikal yang kembali menggelegar.
"Saya tanya, Kalian sedang apa?!" Bentak Haikal naik tiga oktaf dari sebelumnya.
"Anjir, serem." Cetus Revan dan Rangga kompak.
Dimas dan Citra segera melepaskan pelukannya. Mereka menatap kaget Haikal.
"Kal, gue bisa jelasin." Dimas segera menghalau Haikal yang semakin mendekat ke arahnya.
"b******k!" Umpat Haikal menatap Dimas penuh amarah.
Bugh!
Haikal memukul Dimas. Haikal terus memukuli Dimas bertubi-tubi. Tidak terima melihat kakaknya dipukuli, Citra dengan kesal menarik kerah Haikal, kemudian dia meninju pipi Haikal yang mampu membuat Haikal meringis kesakitan.
Jangan remehkan Citra, dia pemegang sabuk hitam karate. Hanya satu orang lelaki seperti Haikal bukanlah tandingannya. Apalagi orang itu telah membuat Abangnya terkapar tidak berdaya.
Revan, Rangga, dan Davina keluar dari tempat persembunyiannya untuk melerai. Citra mendekati abangnya, disaat Haikal memegangi pipinya yang tampak merah.
"Abang, abang!!" pekik Citra menepuk-nepuk pipi Dimas.
Pekikan Citra memanggil Dimas membuat mereka semua terkejut, terkecuali Davina yang memang sudah tau. Haikal terdiam.
Adik Dimas? batin Haikal, Rangga dan Revan kompak.
"Abang, bangun, ih!" Citra terus menepuk-nepuk pipi Dimas. Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Suara batuk Dimas membuat Citra tersenyum senang. Dia membawa abangnya untuk duduk. Ketika mata Dimas benar-benar terbuka, Citra melayangkan satu pukulan keras di pipi Abangnya sambil terkekeh.
"Lemah, Lo." katanya cukup membuat teman-teman Dimas tercengang mendengarnya.
Satu kata untuk Citra dari benak Rangga dan Revan, keren.
Dimas tersenyum ketika adiknya mengatakan itu untuk menghiburnya.
"Bangun, bang. Habis itu bales tinjuan Lo ke dia. Jangan mau dibabak belurin." Katanya menunjuk Haikal yang masih membeku di tempatnya.
Ingatan Haikal berputar adegan dimana Dimas bertanya tentang adiknya, dan kenangannya 8 tahun yang lalu dimana dia masih menginjakkan bangku sekolah dasar kelas 4.
"Kata Bunda, kalau kita jodoh pasti ketemu lagi kok, kak Ai." Kata gadis kecil yang selalu terlihat imut dimata Haikal.
Saat itu Haikal kecil hanya diam tidak menjawab. Dia merasa kecewa dengan gadis kecilnya karena mau meninggalkannya.
"Kak Ai tetep di sini, jangan tinggalin Cici ya! Kak Ai main sama bang Dim di sini biar nggak hilang. Oke?" Ucap Citra kecil diangguki Haikal saat itu.
Dia, Citra Maharani Kelvin. Gadis kecilnya yang selama ini dia cari ternyata berada di dekatnya. Jahatnya dia telah melupakan tuan putri kecilnya yang selalu ingin dilindunginya. Lagipula, kenapa dia bisa melupakan hal penting, bahwa sahabat dekatnya ini memiliki adik yang sangat dicintainya?
"Woi, Haikal!"
Haikal sadar dari lamunannya ketika Rangga menepuk bahunya.
"Minta maaf, lo." suruh Davina mendorong bahu sepupunya.
Haikal jalan mendekati Dimas dengan tatapan yang tidak luput dari Citra. Tangannya menggenggam tangan Dimas dan membantu sahabatnya itu bangun. "Gue minta maaf, gue kira lo selingkuh sama orang yang suka palakin lo."
Dimas terkekeh, dia memukul bahu sahabatnya perlahan. "Santai, man!"
"Jelasinnya nanti balik aja. Gue laper, kantin yuk!" ajak Dimas.
Pangeran sekolah jalan dengan wajah babak belur, tentu membuat selingkungan sekolah ramai. Bahkan di grup chat sekolah, sudah ramai dengan foto muka Dhimas yang babak belur. Kemudian salah satu murid mengirim foto pipi Haikal yang juga memar, mereka mengira kalau Ketos dan Waketosnya bertengkar besar.
Di saat Haikal dan pasukannya berada di kantin, suara yang tadinya berisik menjadi tenang. Takut dengan Ketosnya yang berjalan dengan mata menatap tajam sekitar sebelum lanjut memandang wajah gadis kecilnya dengan tatapan yang lembut.
Satu hal yang membuat mereka berbisik kembali. Haikal yang jalan berdekatan bersama adik kelasnya dan dengan tatapan Haikal yang terus menatap hangat wajah Citra.Haikal menyunggingkan senyuman tipisnya, bahkan sangat tipis tapi mampu membuat heboh seisi kantin.
"Lo pada bisa diem nggak?" Ketus Sakira dengan wajah juteknya mampu membuat seisi kantin bungkam.
Dia baru memasuki kantin dan langsung mendengar suara teriakan heboh hanya karena senyum tipis Haikal. Sakira datang ke meja mereka dan langsung duduk tanpa disuruh.
"Mba Sakira jutek banget, sih." Goda Davina mencolek dagu Sakira.
"Ada apa sih, ini? Grup sekolah rame masalah lo berdua ribut tau nggak?" tanya Sakira yang memang tidak mengetahui hal tersebut.
"Ada something biasa. Ini masalah pribadi, jadi harus di secret-in." Jawab Revan dengan asal. Telunjuknya ditaruh tepat depan mulutnya.
Tidak peduli, Sakira memesan makanannya.
"Hai, dedek Citra. Kelas sepuluh berapa?" tanya Rangga menatap Citra seperti anak kecil.
Citra menatap mereka canggung. " X IPA 2, Kak." jawabnya dengan senyum semanis mungkin.
"Oh, berarti sekelas sama Isabella ya?" tanya Revan menyahut.
Citra terkejut ketika kakak kelasnya mengenal sahabatnya. Kepalanya mengangguk antusias. "Kok, kakak tau dia?"
"Kemaren kan kita habis jalan." jawab Revan dengan santainya.
Mata Citra terbelalak kaget mendengarnya. Mereka semua terkejut, terkecuali Haikal dan Sakira yang tidak peduli.
"Lo, gila. Jangan jadiin dia bahan mainan lo." Dimas mengomeli Revan sesudah menenggak minumnya menyisakan panas di tenggorokan.
"Gue nggak gila, tuh." Ucap Revan kelewat santai.
"Kalau niat abang cuman mau main-main sama dia, mending Lo jauhin dia aja. Dia terlalu baik buat dimainin." Timpal Citra menatap tajam Revan.
"Nggak suka nih gue sama orang belagak kayak dia, sok ganteng. Mau mainin sahabat gue? Habis Lo!" Tunjuknya tidak sopan. Dia tidak main-main atas ucapannya.
Revan menenggak liurnya. Dia tidak lupa kejadian yang terlewat begitu saja. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau gadis kecil itu meninju wajah Haikal hingga menampakkan ruam.
Dua jari berbentuk V dilayangkan oleh Revan. Dia menunjukkan cengiran konyolnya. "Nggak main-main Cit, sumpah!"
Sakira terkikik geli melihat temannya yang terlihat ketakutan. Baru pertama kali ini, dia melihat Revan si pentolan terlihat ketakutan seperti itu. Momen seperti inilah yang harus diabadikan, pikirnya.
Haikal? Lelaki itu tidak peduli dengan sekitarnya, dia sibuk mengamati wajah gadis kecilnya yang sangat tirus dibanding sebelumnya.
"Lo ngapain sih! Ngeliatin gue terus." risih Citra menatap kesal Haikal.
"Terlalu percaya diri." Sangkal Haikal menatap datar Citra.
"Lo inget ya, Gue masih dendam sama lo gara-gara pukulin abang gue." Citra menatap kesal Haikal.
"Abang?" tanya Sakira bingung. "Dimas?" sambungnya menatap Citra dan Dimas bergantian.
"Dikata secret-secret, nggak bisa diem ya mulut lo." Ucap Revan mendapat tatapan sinis Sakira dan langsung membuatnya bungkam.
oOo
"Lo serius?!" Tanya gadis berambut pirang dengan mata membola.
Dia, Angelina Setiawan, merupakan anak kepala sekolah sekaligus donatur sekolah.
"Gue serius, njel. Lo liat nih, muka Haikal memar?" Provokasi salah satu temannya, Kayla Primadona.
"Tapi kok, mukanya Dimas memar juga ya?" celetuk Bunga menunjuk muka Dimas yang terlihat banyak bekas luka. "Mereka bertengkar?" tanyanya menatap kedua temannya bergantian.
Decakan kesal terdengar berasal dari Kayla."Menurut lo?"
"Bertengkar lah, masa main robot-robotan." Jawab Bunga dengan polosnya.
Kayla tidak memedulikan Bunga yang memang lama untuk merespon.
"Mending lo samperin aja deh, lo suka 'kan sama Haikal? Lo tanya, terus lo obatin lukanya." suruh Kayla dengan senyum penuh arti.
"Bilang aja lo pengen ngobatin memarnya Dimas!" Balas Angel membuat mereka terkekeh.
Angel menyukai Haikal sejak lama, dan Kayla dia menyukai Dimas dari masa orientasi sekolah. Sedangkan Bunga, dia hanya ikut. Cukup Chen, Lee Minho, dan Kai saja yang ada dihatinya. Lelaki lain jangan.
Mereka bertiga pergi menuju kantin tepat dimana Haikal dan teman-temannya duduk.
"Kal? Kamu berantem?" Tanya Angel langsung duduk menggeser posisi Citra kasar.
Tangannya memegang luka bekas pukulan Citra. Haikal segera menepis tangan Angel dengan kasar. Haikal memang tidak menyukai Angel, terlebih lagi sifatnya yang semakin hari semakin agresif.
Tidak hanya Angel, begitu dengan Kayla yang langsung ditepis oleh Citra dan Davina.
"Lo tuh punya mata nggak sih? Gue, ceweknya ada di sini. Lo bisa hargain kekasihnya nggak sih?" Kata Davina kepalang marah melihat pipi kekasihnya dipegang sana-sini.
"Nggak. Dimasnya juga biasa aja tuh." Balas Kayla santai.
"Ya, tapi seenggaknya lo bisa hargain Kak Davina!" Citra tersulut emosi.
Kayla melirik Citra dengan sinis. "Lo, siapa ya?" Tanyanya tersenyum merendahkan.
"Citra Maharani?" Eja Kayla membaca nametag Citra.
"Lo, adik kelas baru itu kan? Anak baru nggak usah banyak gaya!" Sentak Kayla membuat Dimas tersulut.
Dimas tentu saja tidak terima. Di keluarganya saja tidak pernah ada yang membentak seperti itu pada adiknya, bahkan Bundanya sekalipun. Ini Kayla, hanyalah orang asing yang selalu mengusik hidupnya.
"CUKUP KAY!"
Bukan Dimas, melainkan Haikal yang sudah menggebrak meja terlebih dahulu.
"Lo, bawa temen-temen lo pergi dari sini!" suruh Haikal pada Angel.
Jika Sakira ada di sana, sudah pasti Angel dan teman-teman kena kata-kata pedas darinya. Sayang saja, dia harus menyelesaikan tugas yang akan dibahas nanti.
"Ta-tapi kan, aku belum obatin luka kamu!" Kata Angel mempertegas. Dia tidak mau diusir begitu saja oleh Haikal di depan umum. Mau ditaruh mana mukanya?
"Angel, pergi. Lo udah ganggu kami, mending lo pergi dan jangan memperkeruh suasana." Usir Dimas berusaha lembut.
Dimas memang tidak menyukai mereka bertiga, tetapi dia tidak mau temannya melukai hati orang lain hanya untuk melindungi adiknya.
"Thanks, Kal!" Ucap Dimas pada Haikal.
"Dia siapa sih, heboh banget?" Citra menatap kesal Angel dan teman-temannya. Dimas menepuk-nepuk pundak adiknya, menenangkan.
Berbeda dengan Dimas, sang kekasih justru sibuk memprovokasi Citra seraya terkekeh geli menatap wajah Citra yang terlihat menggemaskan ketika marah. Bahkan Haikal ikut tersenyum dengan tipis melihat wajah menggemaskan tuan putri kecilnya.
"Davina," Peringat Dimas membuat Davina berhenti memprovokasi.
"Maaf." Davina menunjukkan cengiran kudanya.
Dimas hendak mengusap rambut adiknya, namun dengan kasar tangannya ditepis oleh Haikal tanpa Citra tahu.
"Lo, balik ke kelas sana. Sedikit lagi udah mau bel, murid udah harus di kelas!" tegas Haikal menatap datar, tampak tidak peduli.
Jauh di dalam lubuk hatinya, dia sedang menahan api cemburu karena Dimas yang terlalu akrab dengan gadis kecilnya itu.
"Sabar dong, ini juga mau balik kok!" balas Citra kesal.
Haikal menatap Citra datar. Dia tidak membalas perkataan gadis kecilnya. Citra merasa terintimidasi oleh tatapan datarnya Haikal. Dia sedikit meringis melihat tatapan Haikal.
Citra bangun dari kursinya. "Bang, gue ke kelas, ya." Pamitnya langsung berlalu dari kantin.
"Hey, dia abangnya, dude!" Kata Revan terkekeh geli melihat alis sahabatnya yang hampir menyatu tadi.
Haikal menghiraukan Revan dan Rangga yang terus menggodanya.
"Jangan jutek sama anak orang, nanti doi kabur ketakutan lagi." Gelak Davina dan Revan.
oOo
Haikal membuka pintu rumahnya yang langsung diberi hormat para pelayannya.
Kepala pelayan langsung menghampiri Haikal. "Maaf tuan, anda disuruh langsung ke meja makan."
Tanpa banyak kata lagi, Haikal menuju ruang makan dan sudah ada kedua orangtuanya di sana.
Dengan sopan Haikal mencium kedua punggung tangan orangtuanya dan duduk di hadapan Mamanya.
"Besok malam kita dinner di luar, kal." Ucap Marisa memecah keheningan.
Mereka adalah keluarga yang harmonis, hanya saja rumah mereka sangat tenang karena Haikal dan Papanya yang jarang berbicara. Meski begitu hubungan diantara ayah dan anak itu masih saling bergurau dan bertanya tentang keseharian mereka.
"Kok nggak ada yang jawab mama?" Rengut Marisa menatap kesal anaknya.
"Papa!" Rengek Marisa pada suaminya.
Rudi menoleh. "Apa, sayang?"
"Haikal nggak jawab mama." Adu Marisa merengek.
"Tadi kan, Haikal udah mengangguk. Mama nggak lihat memangnya?" Kata Rudi menenangkan.
Sifat tenang Ayahnya membuat Haikal kagum. Ayahnya tidak pernah marah, apalagi main tangan dengan keluarganya. Dan yang dikatakan ayahnya tadi, hanyalah tipuan belaka supaya Mamanya tidak marah berkelanjutan.
Mamanya adalah wanita yang tidak dapat dibentak ataupun diabaikan, atau beliau akan mengoreksi diri. Hal itu cukup membuat suami dan anaknya depresi atas kelakuan Marisa.
Marisa adalah cinta pertama dalam hidupnya dan Citra adalah wanita pertama yang membuatnya mengerti apa itu cinta untuk seorang pria dengan wanita.
"Benar?" Tanya Marisa dengan mata berkaca-kaca.
"Iya kan, Haikal?" Tanya Rudi mendapat anggukan kepala dari anaknya.
Marisa beranjak dari kursinya, mengganti posisi duduknya menjadi bersebelahan dengan Haikal. Tangannya terulur mengusap kepala sang anak penuh kasih sayang, pandangannya enggan meninggalkan wajah sang putra yang sedang menyantap hidangan dengan lahap. Kedua sudut bibirnya terangkat. Disaat yang bersamaan usapannya berhenti membuat Haikal menatap Mama-Nya bingung.
"Kenapa Ma?" Tanya Haikal berhenti makannya.
Dengan senyum tipisnya Marisa menjawab. "Nggak apa-apa, sayang. Cepat habiskan makanan kamu."