"Dimas mana, Vin?"
Revan dan Rangga lari dengan tergesa-gesa pasalnya Dimas hari ini tidak mengabarkan pada mereka kalau dia tidak masuk sekolah.
Davina menoleh menatap heran kedua temannya. "Emangnya Dimas nggak ngasih tau kalian, kalau dia izin buat jemput kedua orangtuanya di bandara?" Tanya Davina.
"Nggak tuh." Revan dan Rangga memasang muka murungnya.
"Apa Dimas nggak anggap kita sebagai temannya ya?" Ujar Rangga ber-drama.
"Alay Lo berdua!" Cetus Davina membuat mereka tertohok dan tidak melanjutkan dramanya lagi.
.
.
.
"Bunda!!" Pekik Citra ketika melihat kedua orangtuanya yang berjalan dengan mesra mendekatinya.
Citra lekas berhambur ke dalam pelukan Bunda dan dibalas tak kalah erat oleh sang Bunda.
"Bunda kangen, Cici!" Ujar sang Bunda menghirup wangi di rambut anaknya.
"Cici juga." Adu Citra tidak mau kalah dengan bundanya membuat keluarga kecil itu terkekeh.
Dimas mendekati orangtuanya, kemudian mencium punggung tangan kedua orangtuanya. "Kangen Citra doang, Abang nggak?"
Mereka kembali tertawa melihat putra sulungnya cemburu. Reyhan menyudahi gurauan itu lekas menarik istri dan anak-anaknya menuju mobil.
"Keadaan Opa Kelvin gimana Bunda?" Tanya Citra mengkhawatirkan kakeknya.
"Jauh lebih baik dari sebelumnya, sayang."
"Tidur sini, nanti kalau sudah sampai Bunda bangunin kalian." Riana menepuk pundaknya
Dimas dan Citra mengangguk dan bersandar pada bahu sang Bunda. Tidak butuh waktu lama keduanya benar-benar terlelap di sandaran Riana. Melihat anaknya sudah pada terlelap, Riana menyamankan posisinya dan ikut tidur.
Reyhan mengambil kamera DSLR yang terletak di sampingnya dan memotret keluarganya yang sedang tertidur. Reyhan tersenyum melihat wajah istri dan anak-anaknya yang terlihat lelap dalam tidurnya.
oOo
Haikal mendengar suara tawa Mamanya. Dan benar saja ketika dia dekati, Mamanya sedang tertawa dengan tangan yang terus memegangi benda pipih di telinganya.
"Mah, Haikal pergi dulu ya sama temen-temen Haikal." Pamit Haikal diangguki oleh Marisa.
Haikal tidak segera pergi dari tempatnya, dia menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja gatal. "Tapi Haikal bakal pulang malem, nggak apa?" Sambungnya mendapat pelototan tajam dari sang Mama.
Marisa menjauhkan handphonenya seraya menutup speaker di handphonenya. "Mau mama coret dari kartu keluarga kamu?" Bisik Marisa penuh penekanan.
"Adzan Maghrib harus udah ada di rumah!" Tegas Marisa diangguki Haikal.
Bukan Marisa melarang anak lelaki nya untuk main, tetapi dia punya acara penting yang mengharuskan mereka bertiga datang.
.
.
.
"Bun, nggak istirahat?" Tanya Citra melihat bundanya sedang tertawa memegang handphone.
Riana menggeleng setelah sambungan terputus. Dia melihat kedua anaknya yang sudah rapih dengan setelan.
"Kalian mau kemana?" Tanya Riana pada anaknya yang sibuk dengan camilan di depannya.
"Aku mau temenin abang main, Bun." Jawab Citra beralih menggelayuti lengan sang Bunda.
Riana mengusap rambut anaknya. "Tumben bang kamu bawa adik?" Tanyanya pada si sulung.
"Kasian dia di kamar terus." Jawab Dimas mendapat pelototan tajam dari adiknya yang dibalas ledekan olehnya.
Riana tertawa geli melihat pertengkaran kecil kedua anaknya.
"Jangan pulang lewat maghrib, ya? Nanti kita mau dinner di luar, Oke?" Kata Riana diangguki kedua anaknya.
"Ayo, Ci! Haikal udah nunggu di sana." Ajak Dimas mencium punggung tangan Bundanya sebelum pergi, diikuti Citra.
oOo
Haikal menunggu teman-temannya di salah satu resto yang biasa mereka kunjungi. Satu persatu temannya datang, hingga netra matanya menemukan Dimas dengan kedua gadis yang turut ikut di belakangnya. Salah satu diantaranya gadis kecilnya, Citra.
"Terserah, intinya gue dapet jajan!" Haikal mendengar suara yang sangat dia kenal sedang menuntut kepada sahabatnya.
"Bawel." Dimas menanggapi adiknya.
Niat awal hanya mengajak adiknya, namun tidak disangka teman adiknya datang menyusul disuruh oleh adiknya tentunya. Malas debat dengan kedua gadis ceriwis di hadapannya, akhirnya dia memutuskan untuk membawa kedua perempuan itu dan sialnya mereka menagih jajan dari Dimas.
Katakan saja Dimas pelit. Malam ini dia akan jalan dengan kekasihnya, tapi kalau kedua gadis menyebalkan menagih jajan, sudah dipastikan harganya langsung menguras dompet serta rekening Dimas.
Ketika sampai di meja teman-temannya, Dimas langsung menyapa dan melakukan tos seperti biasa.
"Bawa cewe Lo, Bro." Kata Rangga menunjuk Citra dan Isabella dengan dagunya.
"Yoi."
Revan menggerlingkan matanya pada Isabella yang menatapnya dengan tatapan malu.
"Banyak juga cewek Lo." Kata Rangga terkekeh. "Adik kelas semua lagi." Lanjut nya.
Revan menarik Isabella untuk duduk di sampingnya. Membuat Rangga dan Dimas bersorak heboh.
"Boleh juga Van!" Sorak Dimas.
Citra tersenyum ketika melihat sahabatnya yang sedang malu-malu kucing. Dia duduk di antara abangnya dan Rangga. Matanya menjelajah sekitar, tanpa sengaja netra matanya menatap Haikal yang juga sedang menatapnya .. tajam?
Tatapan Citra teralihkan ketika Davina menyapanya.
"Oh, hai kak?" Balas Citra kikuk.
Dia masih belum terbiasa dengan kekasih Abangnya ini, masih selalu canggung kalau berada di dekat Davina.
"Kenapa bawa adik, Dim?" Tanya Rangga menatap nakal Citra, bermaksud menggoda.
"Kasian dia di rumah mulu kayak anak nolep." Jawab Dhimas mendapat pelototan tajam dari adiknya.
"Enak aja. Gue masih bisa main keluar ya, bang." Bantah Citra membuat lainnya terkekeh.
"Oh, iya. Kalian udah kenal sama dia kan?" Tanya Dhimas menunjuk Isabella dan diangguki oleh teman-temannya.
"Hai, kak." Sapa Isabella disapa hangat oleh teman-temannya Dimas terkecuali, Haikal yang masih mengeluarkan aura menyeramkannya.
"Haikal, Lo mau pesan apa?" Tanya Davina menatap sepupunya yang sedang menatap lurus tepat ke arah adik kekasihnya itu.
"Haikal?" Davina menyentuh bahu Haikal.
Haikal sedikit tersentak kemudian menatap tanya sepupunya itu.
"Lo, mau pesan apa?" Tanya Davina lagi.
"Americano ice." Jawabnya mengalihkan pandang ketika teman-temannya menatapnya.
"Gue nggak bisa lama ya." Ucap Dimas membuat semua mata beralih menatap tanya kepadanya.
"Ada kencan soalnya." Jawab Dimas mendapat sorakan kesal teman-temannya.
"Gue juga, nih!" Sahut Revan tersenyum lebar dengan tangan yang dia rangkulkan pada bahu Isabella membuat teman-temannya bersorak heboh.
"Kalo kalian jadian gue minta album baru Baekhyun!" Sorak Citra membuat Isabella melotot kesal ke arahnya.
Jangan malu-maluin keluarga, adik ku sayang. Batin Dimas berteriak gemas pada adiknya.
"Orangtua Lo kaya, minta sama bonyok sana." Balas Revan.
"Lah kan beda, bang. Money dari bonyok sama dari temen itu beda." Balas Citra tidak mau kalah.
"Nanti gue traktir, mau?" Tanya Rangga diangguki Citra antusias.
Haikal semakin panas dibuatnya. Haikal berdiri membuat teman-temannya menatapnya tanya.
"Rangga berdiri." Suruh Haikal dituruti Rangga. "Tukar tempat." Perintahnya dituruti lagi oleh temannya itu.
"Kenapa lagi sih, Haikal?" Tanya Sakira disetujui teman-temannya.
Haikal menggedikan bahunya acuh, dia menarik gelas miliknya yang berada di tempatnya tadi dan meminumnya.
Teman-temannya masih menatap bingung Haikal tak terkecuali dengan Isabella dan Citra yang turut bingung. Tak lama kemudian Davina tersenyum mengerti dengan tingkah laku aneh sepupunya.
"Gue juga nggak bisa lama, ada urusan keluarga." Ucap Haikal diangguki teman-temannya.
"Yang nggak ada acara hanya gue sama adik nya Dimas doang dong?" Tanya Rangga dengan senyum mengembang penuh makna.
"Kita jalan aja yuk!" Ajak Rangga.
Mendengar ajakan Rangga yang menyebalkan, Haikal semakin menatap tajam temannya.
"Maaf kak, nanti malam gue sama Abang juga ada urusan keluarga."
Haikal tertawa sinis dalam hatinya mendengar tolakan halus dari gadis kecilnya.
"Nggak apa-apa kali Cit, santai saja." Ujar Rangga.
"Sakira Lo nggak ada acara kan?" Tanya Davina mendapat gelengan kepala dari Sakira yang sedang melahap makanannya tanpa peduli sekitar.
"Nah, itu dia nggak ada acara. Bisa jalan bareng, tuh." Davina tersenyum jahil.
Sakira menatap Rangga tajam. "Nggak! Gue ada balapan." Jawab Sakira jutek dan kembali memakan makanannya.
"Dih, siapa juga yang mau ngajak Lo?" Sahut Rangga diacuhkan Sakira.
Selang beberapa menit, lebih tepatnya mereka semua telah menyelesaikan makannya, Revan berbisik pada teman-temannya terkecuali Citra dan Haikal.
Rangga sempat mengernyit, namun ketika Revan berbisik lagi dia setuju dengan lesu.
"Gue dulu." Kata Revan berbisik.
Citra dan Haikal tidak terlalu mempedulikan mereka karena Haikal yang sedang bermain game kesukaannya dan Citra yang sedang membaca komik lewat sebuah aplikasi. Ditambah suara musik yang dapat membuat kedua insan itu tidak menyadari rencana aneh Revan.
"Kita duluan ya, guys!" Revan memberi tos pada teman-temannya sebagai penutup.
Citra menoleh, menatap protes temannya yang tiba-tiba saja pergi tanpa memberi tahunya. Dia menghela nafasnya mendapat tatapan sahabatnya yang memohon kepadanya.
"Eh, gue duluan juga deh. Nanti malem ada acara, nanti kita nggak bisa pacaran lagi." Dimas dan Davina bangkit dan melakukan yang Revan lakukan tadi.
Dhimas berhenti tepat di belakang adiknya. "Abang main dulu, ya. Udah Abang transfer ke rekening kamu, nanti kalau mau pulang minta tolong sama Sakira atau -"
"Iyaa, sana ngebulol." Jengah Citra.
Sebelum benar-benar pergi, Dimas menepuk puncak kepala Citra dan dibuat berantakan olehnya.
"Ayo, Rang." Ajak Sakira mendapat tatapan aneh dari ketiganya.
Sakira sudah mengode Rangga lewat matanya, namun lelaki itu enggan meninggalkan kursinya. Sakira menarik lengan Rangga.
"Ayo, Rangga! Katanya mau gue ajarin balap motor?" Sakira mencubit serta memberi pelototan tajam ke Rangga.
Tatapannya seolah mengatakan 'cepat atau gue bunuh?'. Tidak dapat dipungkiri kalau Rangga juga takut dengan Sakira, mau tidak mau dia harus mengikuti ajakan wanita tersebut yang sebenarnya tidak ada acara apapun.
Citra dan Haikal bingung dengan semua temannya yang tiba-tiba saja meninggalkan mereka berdua. Tanpa sadar Citra dan Haikal menatap satu sama lain, kedua alis mereka dengan kompak mengernyit kesal.
Citra mengambil tasnya dan beranjak dari duduknya. "Gue duluan, kak." Pamitnya malas. Ya, dia malas dengan semua orang yang meninggalkannya dengan pasangan mereka masing-masing.
Citra hendak melangkahkan kakinya, namun Haikal sudah lebih dahulu mencekal tangannya membuat si empu menoleh.
Haikal beranjak dari duduknya dan mengambil jaketnya yang tersampir di bahu kursi. "Gue anter." Kata Haikal tak mau dibantah.
Citra mengikuti Haikal karena tangannya yang memang ditarik paksa. Tidak sakit, tapi cukup membuat langkahnya terseok-seok.
"Gue bisa pulang sendiri, apa sih?" Tekan Citra dengan suara yang sengaja dia rendahkan.
Haikal tidak memperdulikan protesnya, dia terus melangkah menuju tempat parkir. Cekalannya dilepas ketika mereka sedang berada di lift.
"Lo apa-apaan, sih?" Kesal Citra karena teman abangnya ini main tarik-tarik tangannya, beruntung tidak lecet hanya merah saja.
Haikal lagi-lagi tidak menjawab. Dia sibuk dengan handphonenya. Citra mencibir teman abangnya itu. Sebelum lift itu benar-benar terbuka, Haikal memberikan handphonenya pada Citra.
Di sana tertera pesan dari Dimas yang berisi menitip adiknya. Citra menyumpah serapahi abangnya yang sangat-sangat tidak bertanggung jawab terhadap dirinya. Dia yang meminta untuk ditemani, tetapi dia yang malah meninggalkan!
Haikal merampas ponselnya dari genggaman Citra, karena dia melihat Citra yang meremas handphonenya kuat.
"Gue bisa pulang sendiri kok, kak." Citra berusaha menolak dengan halus. Bagaimanapun dia tidak enak harus dititipkan oleh orang asing.
"Gue bisa anter."
Ketika Citra ingin berbicara, pintu lift sudah terbuka dan Haikal kembali menariknya menuju ke mobil lelaki itu.
"Buang-buang bensin, kak."
"Gue bisa beli."
"Nggak enak gue kak sama Lo."
"Kasih kucing, punya kucing kan?" Balas Haikal membuat Citra bungkam.
Haikal sudah menduduki kursi kemudi sedangkan Citra masih belum masuk mobil Haikal. Dia menggigit bibirnya kesal. Seniornya ini pintar membuat lawan bicara terpojok sehingga tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kenapa belum masuk? Harus gue bukain dulu pintunya?" Kata Haikal sedikit teriak karena Citra yang tidak kunjung masuk.
"Gue bukan cewek manja!" Bantah Citra di depan pintu kemudi.
"Yaudah masuk, mau apa lagi?"
Citra menggeram kesal. "Nyebelin banget sih!" Gumamnya.
"Gue jalan aja ya, Kak?" Pintanya dibalas tatapan tajam Haikal.
"Pegal nanti."
"Kan sambil nyari taksi." Citra menjulurkan lidahnya merasa menang.Dia melangkahkan kakinya menjauh dari mobil Haikal.
Kini, Haikal yang menggeram kesal karena gadis kecilnya sangat keras kepala. Dia menarik Citra dan menyuruh paksa Citra untuk lekas duduk. Citra terkejut tetapi dia tetap menurut karena otaknya juga belum mencerna yang baru saja terjadi.
Haikal melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh tanpa memedulikan Citra yang terus protes. Citra hanya takut mati diusianya yang masih muda.
"LO GILA?!" Bentak Citra ketika Haikal menurunkannya tepat di depan gerbang mansionnya.
"Maaf." Kata Haikal ketika Citra menatapnya garang.
Citra berkacak pinggang. "Maaf maaf, kalau gue mati muda gimana?" Tanyanya mencak-mencak ke Haikal.
Haikal menggedikan bahunya acuh yang membuat Citra kembali memakinya. Sekarang dirinya seperti anak seumuran dengan juniornya. Juniornya itu tidak tanggung-tanggung memarahinya, tapi Haikal tidak memperdulikan, dia hanya suka melihat wajah Citra yang sedang merah marah dibuatnya.
Haikal melajukan mobilnya tanpa mau mendengar suara makian gadis itu yang tidak berhenti memarahinya. Kalau dia tetap di sana, dia akan pulang telat dan juga dia akan terus dimarahi oleh gadis kecilnya.
Citra semakin kesal ketika Haikal tanpa basa-basi meninggalkannya begitu saja. Dia masuk ke dalam kediamannya dengan emosi yang meledak-ledak.
"Aduh, kenapa anak Bunda yang cantik ini?" Tanya Riana menyambut tuan putrinya yang masuk dengan wajah ditekuk.
Citra mencium punggung tangan Bundanya dan langsung menghempaskan dirinya di samping Bundanya. "Nggak apa Bun, hanya lelah." Jawab Citra.
Riana mengusap rambut anaknya.
"Abang mana?" Tanya Riana mencari keberadaan putranya. "Suara mobilnya juga nggak ada?" Riana menatap tanya sang anak.
Citra menggeleng lesu, matanya menutup, ngantuk.
"Kan tadi kalian berdua keluar, kenapa pisah gitu?" Tanya Riana tidak dibalas oleh Citra.
Tidak lama kemudian suara dengkuran halus dari anaknya terdengar. Riana tersenyum melihat putrinya yang langsung tertidur. Secapek itu kah anaknya?
oOo
Malam ini, keluarga Haikal akan dinner dan dia baru selesai di dandani oleh Mamahnya. Hanya dinner, tetapi Mamanya sangat berlebihan sampai menyuruh para pelayan untuk mendandani dirinya layaknya pangeran.
Dua jam dirinya di dandani dan dia baru rapih sekarang! Kalau saja bukan Mamanya yang minta, tidak akan mau dia menghabiskan waktu dua jam hanya untuk berdandan. Hey, tanpa berdandan juga dirinya sudah tampan!
"Gantengnya anak Mama." Puji Marisa memutari anaknya, menatap sang anak dari atas hingga bawah.
Haikal tersenyum hangat pada Mamanya. Memang merasa tertekan, tetapi dia senang melihat Mamanya yang sangat bahagia melihat hasil dandan dua jam.
"Anak papa!" Sahut Rudi dari pintu kamar.
Papanya sudah tampan. Entahlah dia tidak tahu mereka akan dinner dimana sampai harus berdandan seperti ini.
"Anak Mama juga dong!" Timpal Marisa memeluk kedua pahlawannya.
"Ayo, kita berangkat nanti terlambat lagi!" Seru Marisa menggebu-gebu. Kedua tangannya menuntun suami dan anaknya.
"Nggak sabar deh, Mama!" Sorak Marisa ketika sudah sampai di mobil. Haikal hanya geleng-geleng kepala. Dia masih tidak mengerti dengan kedua orangtuanya.
oOo
"Citra?" Panggil Riana dari depan pintu anak gadisnya.
"Iya, Bun! Tunggu sebentar, ya." Balas Citra dengan halus.
Tak lama pintu kamar Citra terbuka, menampilkan gadis dengan balutan dress biru laut selutut tanpa lengan dengan wajah yang sudah dipoles dengan sedikit riasan. Jangan lupakan rambut yang digulung rapi dan hanya menyisakan anak rambut.
Riana menatap takjub anaknya. Dia memutari anaknya dengan mata berbinar.
"Cantik banget anak Bunda!" Puji Riana benar adanya.
Riana dengan semangat mengajak anaknya untuk turun ke ruang keluarga dimana sudah ada Dimas dan Reyhan yang sudah menunggu di sana.
"MasyaAllah, cantik banget adik gue." Cetus Dimas langsung dibungkam mulutnya oleh tangan sang Bunda.
"Gue-gue." Riana menatap tajam anak sulungnya. Dhimas tersenyum konyol dan meminta maaf pada sang Bunda.
"Iya, cantik banget anak Ayah." Timpal Reyhan memuji tuan putri kesayangannya. Dia mengecup pucuk kepala anaknya.
Citra memeluk ayahnya. "Terimakasih Ayah, Abang kalian juga ganteng, banget!" pujinya mengecup pipi Reyhan dan Dimas.
Riana terkekeh melihat keluarga kecilnya yang tampak hangat satu sama lain. "Ayo, tante Marissa sekeluarga sudah nunggu."
Citra mengernyit bingung. "Dinner sama temen Bunda?" tanyanya mendapat anggukan dan senyum penuh makna yang dia tidak ketahui makna tersebut.
Dirinya dibuat bingung ketika sudah sampai di restoran bintang lima yang sudah kosong, seperti resto itu sudah dibooking oleh seseorang.
"Dinner di sini?" Tanya Citra bingung. Kedua orangtuanya mengangguk.
Ketika turun dari mobil, karpet merah serta pelayan resto menyapa Citra dan keluarganya dengan hormat. Citra tidak bingung dengan itu karena sudah terbiasa, tetapi ini resto kosong tidak ada pengunjung. Tidak mungkinkan resto ini bangkrut dalam sekejap mata?
"Dengan Keluarga Tuan Reyhan Kelvin?" Tanya kepala pelayan di sana diangguki Reyhan. " Silahkan ikut kami, Tuan." Instruksi pelayan tersebut dengan sopan.
Citra dan keluarga mengikuti langkah kepala pelayan dari belakang hingga tiba di taman yang sudah penuh dengan hiasan indah di sekelilingnya.
Haikal masih bingung, tetapi dia tidak ingin bertanya lebih. Lima menit berlalu tetapi makanan juga belum disajikan. Hingga deritan pintu terbuka menampakkan keluarga sahabatnya. Haikal sedikit terkejut walaupun wajahnya hanya menampilkan raut datar saja.
Haikal tertegun ketika melihat Citra yang datang paling belakang dengan senyum ramah kepada para pelayan di depan pintu masuk. Tuan putri kecilnya itu tampak seperti putri dalam dongeng sekarang. Dia menggunakan dress selutut ditambah sedikit riasan, dan yang lebih membuatnya cantik adalah rambutnya yang digelung dengan rapih dan anak rambut yang tampak sengaja dibiarkan begitu saja di dekat telinga.
"Cantik kan, kal?" Tanya Marisa menyenggol lengan Haikal membuat kesadarannya kembali.
Citra duduk di samping Dimas. Dimas juga tampak tampan dengan rambut yang diklimis serta kemeja berwarna putih dengan dua kancing atas yang terbuka.
Jangan lupakan Haikal yang pastinya sangat tampan karena di dandani selama dua jam lebih. Dia menggunakan tuksedo biru gelap yang dihiasi bintang kecil dan rambut klimis dengan belahan samping. Dia selalu tampan tentu tetapi malam ini dia di sulap menjadi sangat tampan dari biasanya. Penampilannya yang formal membuat dirinya terlihat semakin berwibawa.
"Haikal, udah lama Bunda nggak ngeliat kamu, tambah ganteng aja." Kata Riana menyapa Haikal dengan pujian yang memang benar apa adanya.
Haikal mencium punggung tangan Riana dan Reyhan sopan. Dia tersenyum menjawab pujian Riana.
"Ditambah tuksedo seperti orang dewasa kamu!" Sambung Riana memuji.
Tidak hanya Riana yang memuji, suaminya juga ikut menimpali. "Cocok jadi penerus perusahaan." Kata Reyhan diakhiri tawa dari Rudi.
Dimas dan Citra tampak acuh dengan kebisingan yang tentunya berisi pujian untuk Haikal. Dimas yang sibuk dengan handphone menjawab pesan dari kekasihnya, dan Citra yang sibuk menatap lapar semua makanan di meja.
"Kita harus makan dulu sepertinya?" Tanya Marisa mengerti akan tatapan Citra.
Alhamdulillah. Ucap Batin Citra.
Setelah doa selesai, Citra dengan cepat mengambil makanan yang ada di depannya. Haikal tersenyum dengan sangat tipis hingga tidak ada yang melihat.
Mereka makan dengan suara tawa dari orangtua mereka yang saling bercengkrama satu sama lain. Reyhan dan Rudi yang sedang menertawakan game yang baru saja rilis dua minggu kemarin yang dikerjakan hasil kerjasama mereka. Dan Riana serta Marisa yang sedang membicarakan kucing Citra, si Molly yang selalu bertengkar dengan majikannya ketika lapar.
Hidangan penutup sudah habis, dan sekarang mereka sedang duduk di sofa dengan santai. Tidak lama kemudian, Rudi menyuruh semuanya diam, karena dia ingin berbicara serius katanya.
"Dibalik dinner kita malam ini, sebenarnya ada acara penting yang akan kita mulai." Buka Reyhan membuat ketiga anak-anak itu bingung.
"Kami udah janji waktu kuliah, kalau anak kami berlawan jenis, kami bakal jodohkan. Dan kebetulan sedari kecil kalian bertiga udah bareng, jadi perjanjian itu udah disepakati sama kami dari kalian masih dini."Jelas Rudi membuat Citra dan Haikal yang merupakan bahan pembicaraan tersebut, terkejut.
"Singkatnya kalian sudah kami jodohkan." Sambung Riana.
Haikal sedikit senang karena dia sudah menginginkan Citra menjadi miliknya sejak dia masih berusia sepuluh tahun. Citra mengernyitkan alisnya, dia sedang berpikir apa seniornya itu benar pernah main bersama dengannya? Citra dan Haikal saling bertatapan dengan pandangan yang berbeda-beda.
"Emang aku sama dia pernah main bareng, Yah?" Tanya Citra pada Reyhan disetujui semua orang di sana terkecuali Haikal. "Abang tau, kok Citra nggak tau?" Sambungnya kesal.
Dimas menggedikan bahunya tidak peduli. "Lo masih kecil waktu itu." Balas Dhimas.
"Tapi Bun, Yah, kan adik masih kecil belum boleh nikah. Jadi tunggu kapan-kapan aja, ya!" Kata Citra menolak dengan senyum yang membuat siapa aja terpercaya, tidak dengan keluarganya.
"Nggak ada bantahan, sayang. Dua Minggu lagi, pertunangan kalian akan diadakan. Oke sayang?" Ucap Riana penuh dengan penekanan tidak mau dibantah.
"Nggak, Citra nggak setuju!" Tolak Citra dengan terang-terangan.
"Bunda nggak nunggu persetujuan kamu, cantik."
"Ayah ... " Citra memohon pada ayahnya, harapan satu-satunya.
Reyhan mengusap surai rambut anaknya sayang. "Kami sudah janji sayang, nggak boleh dibatalkan begitu saja."
Jika ayahnya sudah berkehendak, dia tidak akan bisa membantahnya. Ucapan ayahnya tidak akan pernah ia bantah, kalau sudah ditegaskan siapapun tidak dapat membantahnya.
Kalau sudah begini, apakah harapannya untuk menikah dengan Byun Baekhyun akan pupus begitu saja? Ya, dia sendiri pun merasa harapannya akan musnah. Walaupun ia sudah tahu bahwa harapan itu mustahil terjadi.