Chapter 05 | Daera

4286 Kata
Malam ini, Rangga akan menghabiskan malam minggunya dengan balap motor liar. Dia memang tidak bisa balapan, dan hari ini dia nekat balapan untuk meringankan beban dalam pikirannya. Lawannya nanti ialah perempuan yang baru saja pulang dari Singapura, kata temannya. Dia tidak peduli dengan lawannya, dia hanya ingin segera memenangkan pertandingan ini dari awal sampai akhir. Rangga sudah menaiki motornya, lawannya pun juga sudah menaiki motornya sendiri. Perempuan berpakaian terbuka datang kepada Rangga dan lawan dengan sepotong kain di tangannya. Kemudian perempuan tersebut mengintruksi mereka untuk bersiap. Dalam hitungan ketiga perempuan itu menjatuhkan sepotong kain pertanda mulainya permainan. Rangga dan lawan terus melaju dengan kencang saling salip-menyalip untuk meraih kemenangan. Lawan Rangga berpapasan dengannya, mengatakan sesuatu yang membuat Rangga mengernyit. "Jangan bengong! Di depan ada jurang." Lawan yang baik. Rangga tersenyum dalam diam. Dia melajukan motornya mensejajarkan dengan lawannya. "Gue udah tau! Lo yang harusnya hati-hati!" Kata Rangga menyalip lawan. Sebenarnya Rangga tidak tahu kalau ada jurang di depan sana, karena ini tempat pertamanya dan balapan pertamanya. Putaran pertama Rangga dan lawan masih saling menyalip dengan mereka yang mulai serius, tetapi diputaran kedua pikiran Rangga memutar dimana dia mendengar Haikal yang dijodohkan dengan adik kelas yang telah membuatnya jatuh hati. Ya, Rangga telah jatuh hati pada Citra -yang tak lain adik dari sahabat sekaligus adik tingkatnya. Rangga tersadar dari lamunannya ketika mendengar pekikan dari lawannya dan menatap jurang tepat dua puluh meter di depannya. Dengan sigap dia memencet kedua rem motornya dengan kuat. "AWAS!" Motor Rangga tergelincir hingga bibir jurang, Matanya melihat lawan melompat dari motor dan berlari menghampirinya. Matanya memejam. Dia merasakan sakit di kakinya yang terseret dan tidak lama kemudian dia merasakan kakinya mulai terasa ringan. Matanya membuka, dia melihat motornya sedang digeser oleh lawannya itu. Lawannya membantu dirinya bangun dengan langkah terseok-seok. Tanpa sadar bibirnya melengkung ke atas mendapat perlakuan lembut perempuan tersebut. Sedikit berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Lo bodoh ya! Gue udah bilang jangan melamun!" Lawannya menoyor kepalanya membuat bibirnya mengeluarkan ringisan. "Bahasa Indo Lo lancar, neng." Heran Rangga mengalihkan. Lawannya terdiam sebentar, kemudian dia membuka helmnya. Rangga sempat terpesona dengan kecantikan perempuan –yang tidak lain lawannya itu. "Daera." Rangga masih belum mengerti dengan perkataan Daera. Menyadari keterlambatan otak Rangga, dia berdecak kesal. "Nama gue." Sambung Daera. "Gue, Rangga." Kata Rangga tersenyum lebar walaupun diacuhkan Daera. Daera melempar sebungkus permen karet pada Rangga. "Gue mau balik, Lo ada teman untuk nganter pulang nggak?" Tanya Daera mengambil helmnya. Rangga menggeleng. "Balik aja, gue bisa sendiri." Daera memutar bola matanya malas, orang di depannya ini sangat angkuh sekali. Lihat, kaki dan tangannya banyak goresan besar dan jalan terpincang-pincang, tetapi masih bisa bilang kalau dia bisa sendiri? Sangat angkuh, bukan? Daera menarik Rangga sedikit kasar membuat sang empu mengaduh kesakitan. Masih untung dirinya masih punya rasa kemanusiaan, kalau tidak juga dirinya malas untuk membantu orang ini. "Sakit, bodoh!" Kesal Rangga menatap sinis lawannya. Daera menghiraukannya. "Naik." Daera sudah duduk di motornya, dia menunggu Rangga yang tak kunjung naik. "Mau gue bantu?" Tawar Daera. Rangga mencibir tawaran Daera dalam hati. Dia merasa perempuan di depannya ini menganggap dirinya sebagai laki-laki yang lemah. Tinggal naik motor saja, dia bisa! Meskipun sakit sekalipun. "Nggak usah, gue bisa sendiri." Tolak Rangga tegas. Rangga berusaha mengangkat kakinya dengan susah payah tanpa mengeluarkan ringisan, supaya lawannya tidak memandangnya lemah kembali. Perjuangan Rangga membuahkan hasil walaupun butuh waktu lumayan lama. "Sampai berani Lo meluk gue, gue jedotin kepala Lo ke aspal." Ancam Daera membuat Rangga meringis sesaat. Sadis! oOo Sudah seminggu Citra menjalankan sekolahnya dan seminggu kemudian dia akan menjadi tunangan si Ketua OSIS di sekolahnya, yakni Haikal. Tidak ada hal menarik, hanya hubungan mereka yang kian memburuk. Setelah perjodohan itu Haikal dan Citra saling menjauh, ah tidak, lebih tepatnya Citra yang menjauh. Sedari pagi Citra hanya memandangi pemandangan koridor dari tempat duduknya. Jam masuk kelas sudah dekat membuat koridor depan kelasnya sepi, hanya ada beberapa siswa-siswi yang masih berbicara di depan kelas. Dia memandangi siswa-siswi itu dengan otak yang terus bekerja. Otaknya sedang memikirkan bagaimana masa depannya? Akan sesuram apakah dia dimasa depan? Semakin membuatnya tidak bersemangat. "Woy!" Suara itu membuat Citra tersadar. Baru saja dia tersadar, kini jantungnya yang hampir dibuat berhenti oleh sahabatnya yang sedang menempelkan wajah ke kaca depannya dengan wajah dibuat-buat. Citra terkejut, sang pelaku tersenyum dan duduk di sampingnya. Dia sedang malas bicara, jadi dia hanya melayangkan tatapan kesalnya pada sahabatnya yang dibalas senyum konyol. "Morning, babe!" Sapanya menyebalkan. Isabella meletakan tasnya dan mengeluarkan buku yang ada di tasnya. "Kenapa Lo, pagi-pagi udah ngelamun?" Tanyanya seraya membuka bab novel yang akan dia lanjut. Citra tidak menjawab, dia melanjutkan lamunannya sambil melihat jendela koridor. Merasa bosan, ia menidurkan kepalanya di atas tumpukan tangannya. Tidak tidur, hanya memejamkan matanya sekejap saja. "Lo tau nggak Cit, katanya bakal ada siswi pindahan ke sekolah ini." Tanya Isabella melihat gelengan kepala dari temannya. "Orang Singapura katanya. Satu sekolah heboh dibuatnya karena kecantikannya! Heran, secantik apa sih orangnya?" Sambung Isabella menggebu-gebu. Citra menggedikan bahunya acuh, dia hanya berdehem singkat menanggapi sahabatnya yang terus berbicara. Malas mendengarnya, Citra memakai earphone dan mengambil buku komik kesayangannya. Bel masuk telah berbunyi, namun Citra tidak mendengar hal tersebut. Bahkan ketika sang guru masuk dia masih juga belum sadar dari dunianya. Posisinya yang di pojok dan terhalangi teman depannya yang memiliki postur besar membuat guru di depannya tidak menyadari muridnya sedang asik dengan komik serta lagunya. Citra tersadar ketika Isabella menyenggol bahunya. Dia menoleh, menatap kesal temannya. "Ada apa sih, Bel?" Tanyanya sedikit geram. Isabella menarik earphone Citra. "Dia mau kenalan sama Lo." Isabella menunjuk orang yang duduk di bangku kosong belakangnya. "Oh, maaf." Citra merasa tidak enak dengan siswi baru itu. Siswi baru itu terkekeh. "Iya, nggak apa-apa. Gue, ganggu Lo?" tanya siswi itu melihat komik yang sedang dibaca Citra. Citra menggeleng dengan cepat. "Nggak kok." Jawabnya terkekeh. Siswi tersebut mengulurkan tangannya ke Citra yang langsung di balas uluran tersebut. "Daera." Siswi itu memperkenalkan dirinya dengan senyum hangat. "Citra." Balas Citra tersenyum lebar. Dia senang temannya akan bertambah lagi. "Suka banget sama bukunya?" Tanya Daera menunjuk komik Citra melalui tatapan matanya. "Banget. Ini salah satu komik favorit gue, ceritanya asik banget. Tapi endingnya gantung, nyebelin 'kan?" Terang Citra dengan senang menunjukan komik itu pada Daera. Daera mengambil komik tersebut, dia melihat covernya dan membaca bagian akhirnya. "Udah tau gantung, kenapa masih dibaca? Jadi favorit lagi." Isabella sibuk menyimak pembicaraan keduanya tanpa mau ikut membuka suaranya. Novelnya lebih menarik daripada pembicaraan kedua orang —yang baru saja berkenalan namun terlihat seperti sudah kenal dari lama. "Nggak apa, sambil nunggu musim empatnya jadi gue baca ulang." Jawabnya tersenyum senang. "Kapan musim empatnya?" Tanya Daera membuat senyum Citra luntur. "Katanya tahun ini, tapi malah belum rilis sama sekali bukunya." Jawab Citra murung. "Kasihan. Segitu sukanya Lo sama komik itu, sampai nggak capek buat nunggu komiknya rilis?" Tanya Daera lagi. Isabella mengusap punggung sahabatnya. Kemudian dia menimpali pertanyaan dari Daera. "Sambil nunggu, dia sambil baca komik yang lain. Biasanya komik itu dibaca kalau dia lagi bosan." Jawab Isabella tersenyum pada Daera. Daera melihat tangan Isabella yang mengusap punggung Citra serta jawaban Isabella yang tampak mengenal Citra lebih jauh. "Kalian deket banget, ya?" tanya Daera. Terdengar nada cemburu di dalamnya. Isabella mengangguk dengan semangat. "Dari junior high school." "Oh, iya. Tadi nama panjang Lo apa?" tanya Isabella mengingat perkenalan Daera di depan kelas tadi yang tidak terlalu jelas terdengar. "Daera Alexander." Tubuh Citra menegang, matanya memerah. "Daera Alexander?" Daera mengangguk pelan. "Yeah?" Genangan air semakin lama muncul di permukaan pipinya yang halus. Hal itu tentu membuat Isabella yang sedang duduk di sampingnya terkejut. Isabella terus bertanya tentang keadaan sahabatnya meskipun tidak dipedulikan. Citra menghiraukan pertanyaan Isabella, dengan perlahan tangannya menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya. Dengan mata yang masih memerah ia menelisik wajah Daera. Matanya menjelajah dari wajah hingga ke name tag Daera yang tertera tulisan DAERA ALEXANDER. Matanya kembali berkaca-kaca menatap Daera seolah bertanya. Seolah mengerti akan tatapan perempuan di depannya dia menjawab dengan suara seraknya. "Yes, i am." "Please gue nggak paham sama topik kalian. Kalian bicarain apa?" Isabella menjeda. Belum sempat Citra membuka suara, guru di depan sudah lebih dahulu menegur mereka bertiga. "Kalian jika masih ada pertanyaan bisa dilanjutkan nanti bukan sekarang!" Citra dan Isabella duduk seperti semula menghadap guru di depan. "Sudah bisa saya lanjutkan?" "Bisa bu." Jawab murid serempak. "Kalau kalian masih mau berbicara bisa keluar sekarang ya, gadis-gadis cantik. Baiklah Ibu lanjutkan –" "Istirahat, Lo bisa jelasin semuanya." Bisik Citra tanpa menoleh ke belakang. Daera mengangguk walaupun tidak dapat dilihat Citra dan Isabella. Isabella mengeluarkan sapu tangannya. "Ambil nih." "Makasih." Cepat-cepat Citra menghapus air mata yang hampir mengering di pipinya, dan juga sudut matanya yang basah. "Why?" Tanya Isabella setelah temannya itu menenggak air dari botol minumnya. Citra menggeleng. "Kita tunggu istirahat aja." Isabella mengangguk sebelum berbalik ke belakang melihat Daera. Matanya meneliti perempuan di depannya. Jika dilihat dari penampilan, siswi baru itu terlihat sangat urakan namun siapa sangka jika penampilannya berbanding terbalik dengan sifatnya yang ramah ketika siswi itu menegurnya dan mengajaknya berkenalan. Bel istirahat berbunyi, kini Citra mendengarnya bahkan dia sangat semangat hingga langsung menarik Daera dan Isabella menuju taman belakang sekolah. "Langsung gitu Ci?" Daera terkekeh. Citra mengangguk antusias. "Iya!!" "Ci?" –Ulang Isabella dalam benak. "Sebelas tahun yang lalu,-" "Janji ya, nda lama pulangna?" Tanya Dua orang gadis mungil dengan wajah sembab menatap teman di depannya dengan penuh harap. Gadis mungil di depannya mengangguk. "Iya, kalau Ayah udah selesain kelja-na aku janji langsung pulang!" Kata gadis kecil itu meyakinkan kedua sahabatnya. "Cita kamu janji lho, kata Mami janji halus ditepati." Ujar salah satu gadis mungil berwajah sembab itu. Dia, Daera. Citra kecil mengangguk. "Dae, Vila jangan belantem ya! Nanti dicatet malaikat lho." Pesan Citra kecil saat itu menakut-nakuti kedua sahabatnya. "Iya, Dae sama Vila nda nakal." Kedua gadis kecil itu mengangguk semangat. "Vila, kalau dia nakal kamu cubit aja." Pesan Citra pada salah satu sahabatnya, Devira. Devira kecil mengangguk membuat Citra tersenyum. Kepergian salah satu sahabatnya, Daera dan Devira jadi jarang bermain. Daera kecil selalu mengajak Devira untuk main di taman rumahnya, namun Devira selalu menolak. Tapi, pada sore itu. Devira mengetuk pintu kamarnya dan bertanya tentang kabar sahabatnya. "Dae, Cici nda ngasih kabal ke Mama Vila. Kalau ke Mami Dae, ngasih nda?" Tanyanya khawatir. Daera menggeleng. "Nda, tuh. Ayah Cita agy sibuk, Vila. Nda mungkin ngasih kabal ke kita telus kata Mami." Jawab Daera kecil. Daera menarik tangan Devira. "Ayo kita main ke taman, sekalian jajan." Ajak Daera membuka gerbang rumahnya yang besar dibantu Devira. "Kok Mba nda diajak?" Heran Devira. Mba yang dimaksud Devira ialah pengasuh Daera. "Nda papa, kan kita cuman mau jajan es klim di depan aja." Jawab Daera masih menarik Devira hingga sampai di tukang es krim. "Non Daera!" Pekik pengasuh Daera dari sebrang jalan. "Tunggu sana biar Mba saja yang ke sana!" Perintah pengasuhnya tidak dituruti Daera. Daera menyebrang jalan dengan langkah kecilnya. Tidak jauh, tetapi dengan langkahnya yang kecil membuatnya lama berjalan. Sedangkan itu, dari arah Selatan dia berdiri, ada mobil truk yang menyetir dengan ugal-ugalan. Daera diam, dia tertarik dengan truk itu, makanya dia hanya diam menatap takjub truk tersebut. Truk itu semakin dekat, hingga.. BRAK!! Daera menutup matanya, bibirnya mengeluarkan ringisan. Yang dia lihat pertama kali adalah sahabatnya, Devira sedang tertidur di atas aspal dan dikelilingi oleh cairan merah yang tidak lain adalah darah. Disaat truk itu semakin dekat dengannya, Devira berlari mendorongnya. Belum sempat kaki Devira melangkah, tubuh mungil itu sudah terlebih dulu terbentur oleh truk dan jatuh hingga kepalanya terbentur aspal. Pengasuh Daera segera menghubungi ambulans serta kedua orangtua Daera dan Devira. Sebulan Devira dirawat tidak ada perkembangan, bahkan sampai enam bulan Devira belum juga ada perkembangan. Pada akhirnya kedua orangtua Devira membawa Devira ke Kanada untuk pengobatan anaknya. Daera kecil yang merasa bersalah, terus mengurung dirinya di dalam kamar dan selalu merapalkan do'a supaya sahabatnya itu bisa sembuh. Jika temannya tidak sembuh, dia akan dimarahi oleh Citra ketika balik dan akan dicatat oleh malaikat, pikirnya. Pada dasarnya, dia takut jika tidak akan bertemu kembali dengan sahabat-sahabatnya. Dua Minggu Daera mengurung diri, membuat orangtuanya cemas. Akhirnya, kedua orangtuanya memutuskan untuk membawanya ke Singapura supaya dirinya tidak lagi merasa bersalah. Selama di sana, kedua orangtuanya selalu bertukar kabar dengan orangtua Devira, tidak dengan Citra yang sangat susah dikabari pada saat itu. Tiga tahun terakhir, Devira dan keluarganya hilang bagaikan ditelan bumi. Tidak ada kabar dari mereka, dan media juga tidak menyinggung tentang Devira anak dari konglomerat tinggi sedang jatuh sakit selama tujuh tahun lamanya. Kedua orangtuanya terus mencari keberadaan keluarga sahabatnya itu sampai sekarang, namun belum juga ada kabarnya. Sampai pada akhirnya kedua orangtuanya menyuruhnya untuk bersekolah di Indonesia yaitu sekolah yang didirikan oleh Kelvin, kakek Citra. "Ih, udah dong jangan nangis." Kata Daera pada Citra dan Isabella yang tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata. "Vira udah ada kabar sekarang?" Tanya Citra masih dengan sesenggukan-nya. Daera menggeleng lesu. "Tapi, terakhir Mamanya kasih kabar kalau dia udah tinggal terapi jalan aja. Karena koma bertahun-tahun, kakinya jadi lemes." Jelas Daera tidak mau membuat sahabatnya ini menangis lagi. "Lo ngapa ikut nangis?" Tanya Daera bingung melihat Isabella yang ikut sesenggukan. Isabella semakin sesenggukan. "Sedih huhu" Tangisnya memukul lengan Daera dengan perlahan. Daera terkekeh. "Udah, ayo kantin. Hapus dulu nih air mata kalian, gue nggak mau ya baru masuk udah dicap pembully!" Tekan Daera membuat mereka berdua tertawa. oOo Sepanjang jalan ke kantin, Citra tidak berhenti menggelayuti lengan Daera manja. Begitu juga Isabella. Daera tidak merasa risih dengan Isabella, dia merasa berterimakasih kepada Isabella karena telah menjaga sahabatnya. "Bang Dimas sekolah di sini?" Tanya Daera mendapat anggukan Isabella. "Mau ketemu!!" Pinta Daera merengek. "Nggak. Gue yakin Lo mau ngerjain ujung-ujungnya." Tolak Citra mentah-mentah. Lagi pula itu alasannya supaya tidak bertemu dengan Haikal. Daera mengeluarkan tatapan memohon-nya pada Isabella, berharap Isabella mau membantu mengabulkan permintaannya. Isabella membuang nafasnya kasar. "Kasih aja Cit. Dia kangen juga kali sama Bang Dimas." Kata Isabella membantu Daera. Daera tersenyum senang, teman sahabatnya itu memang terbaik! Dia tidak salah mengira rupanya. Citra sengaja menyedot jus alpukat Nya dengan kencang. Sampai pada akhirnya dia mendesah kesal tidak tahan dengan tatapan memohon Daera dan Isabella. Dan, itu sangat mengganggu! "Iya, sana! Lo berdua aja, gue mau makan dulu, lapar." Suruh Citra pada akhirnya. "Sama Lo dong?" Rengek mereka berdua. "Iya atau nggak sama sekali, Dae?" Tegas Citra membuat keduanya menghela nafas, dan jalan menjauhi kantin. Dia masih canggung jika dihadapkan dengan Haikal. Dia hendak memesan makanan, tetapi tidak jadi karena sudut matanya melihat segerombolan teman-teman abangnya dengan kedua sahabatnya jalan mendekatinya. Citra mengambil langkah panjang dan langsung pergi dari kantin. "CITRA!!" Panggil kedua sahabatnya tidak dihiraukannya. Dia berlari dengan kencang menuju toilet. Entahlah, dipikirannya saat ini hanya toilet. "Dia kenapa sih?" Tanya Isabella menatap bingung temannya. Semuanya menggedikan bahunya acuh, mata mereka tidak berhenti menatap Daera. Dimas dan teman-temannya menatap tanya Isabella tetapi Isabella tidak menanggapi karena dia tidak paham dengan maksud teman-temannya. "Bang Rangga kemana, kok nggak ada?" Tanya Isabella menyesap minuman di depannya. "Dia lagi ke perpus." Jawab Davina. "Bang Rangga pinter ya?" Revan dengan cepat menjawab pertanyaan Isabella. "Sampai lebaran monyet juga dia nggak akan rajin begitu, apalagi buat belajar. Dia lagi dihukum bersihin perpus, noh!" Sambar Revan. Isabella mengangguk-angguk. "Dia siapa, bel?" Tanya Dimas tidak tahan karena Daera menatapnya dengan tatapan aneh. "Dia Da-" "Bang Dimas?" Tanya Daera mendapat anggukan dari Dimas. "Ih, jahatnya." Kata Daera membuat banyak pasang mata menatap ke arahnya, termasuk Davina yang mengernyit heran. "Dih, emangnya gue ngapain Lo?" Ketus Dimas menatap musuh Daera. Daera menunjuk Davina. "Dia siapa?" Tanyanya membuat Davina menatap kesal dirinya. "She is my girlfriend, why?" "Lo ... selingkuh dari gue? Mentang-mentang kita beda negara Lo dengan enaknya selingkuh sana-sini. Inget Dim, kita udah tunangan sedikit lagi nikah." Daera dengan dramanya hadir. Aktingnya sangat bagus membuat orang-orang percaya pada aktingnya, bahkan Isabella sekalipun. Daera mulai mengeluarkan air mata buayanya. "Maaf siapa ya? Gue nggak kenal!" Balas Dimas melirik sinis Daera. Davina menatapnya meminta penjelasan. "Dav, gue nggak pernah selingkuh sumpah! Ngelirik cewek lain aja nggak pernah apa lagi selingkuh." Bela Dimas saat Davina menatapnya dengan mata memerah. "Bohong! Aku pindah ke sini kan karena di suruh Bunda kamu." Isak Daera masih melanjutkan aktingnya. Isabella menatap nanar Daera. "Eh, Dav, Lo kenapa nangis?" Tanya Rangga yang baru saja tiba dan matanya melihat temannya nangis. "Dim pacar Lo nangis kenapa?" Tanya Rangga belum menyadari adanya ratu drama di depannya. Dimas berusaha menenangkan kekasihnya walaupun selalu ditepis berkali-kali tangannya. "Sumpah, Dav, gue nggak ada apa-apa sama dia. Nggak percaya aku telepon Bunda ya?" Davina menggeleng. "Rev, mereka ribut?" Tanya Rangga menyenggol bahu temannya yang hanya diam menonton. Revan menggedikan bahunya, dia menunjuk sumber masalah lewat mulutnya yang mengarah ke Daera. "Lah, Lo?" Rangga menunjuk Daera membuat pasang matanya menatap bingung, sedangkan Daera menyumpah-serapahi orang di depannya yang mengganggu bakatnya. "LO?! Lo ngapain di sini?" Tekan Daera pada Rangga kesal. "Gue sekolah, Lo?" Jawab Rangga masih tidak mengerti situasi. "Menurut lo?" Balas Daera memutar bola matanya. Revan dan Isabella membulatkan mulutnya. "Kalian saling kenal?" Tanya mereka dengan kompak. Rangga mengangguk. "Iya nih, kenapa?" Tanyanya tersenyum bangga. Revan menarik ujung seragam temannya itu, dan membisikkan sesuatu yang membuat Rangga melotot kemudian. "Heh, Lo ngapain ngaku-ngaku jadi tunangan temen gue, Jamilah!" Sambar Rangga mendekati Daera. Daera yang merasa sudah tertangkap basah dia menunjukkan gigi rapihnya diiringi kekehan. "just kidding." Kekehnya dengan wajah tanpa dosa. Davina masih sesenggukan sedangkan Dimas sudah gemas ingin memukul kepala adik kelasnya yang tak dikenalnya itu. "Bagaimana akting gue, cocok masuk master chef nggak?" Tanyanya konyol membuat Davina terkekeh. "Lo siapa si sebenernya?" Tanya Dimas merasa kesal dengan adik kelasnya itu. Hampir saja hubungannya dengan Davina kandas begitu saja. "Gue Daera, bodoh!" Kata Daera. Dimas berpikir sejenak, kemudian dia bertanya pada Daera. "Nggak asing nama Lo. Siapa ya?" Dimas berpikir dengan keras. "Gue Daera Alexander teman Citra sama Devira. Ih masa lupa sih, dulu Lo sering ikut main sama kita tau!" Jelas Daera. "Oh, Lo. Kemana aja lo, gue sama adek gue pulang Lo berdua cabut." Tanya Dimas tidak ada jawaban dari Daera. "Cantik juga pacar Lo, bang. Buat gue aja gimana?" Alih Daera bergurau membuat Dimas melototinya. "Enak aja." Dimas mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepala Daera. "Dewasa juga, Lo?" Bukan pertanyaan lebih ke meledek menurut Daera. Daera tertawa geli. "Yaelah, Lo sama gue cuma beda dua tahun doang kali!" "Nggak berubah. Tetep bocah." Timpal Dimas berkomentar. Daera mendelik. "Sopan dikit ya abang ya." "Lo kenal dia juga, Dim?" Tanya Rangga mendapat anggukan dari temannya. "Kenal, temen kecilnya Cici ini mah." Jawab Dimas. "Kalau, Lo?" Belum sempat Rangga menjawab Daera sudah terlebih dahulu menyela. Dia tidak mau kalau Abang dari sahabatnya ini tahu nanti dia akan kena omel dari sahabatnya. "Eh, tadi gue liat ada satu cowok ganteng yang jalan bareng sama kalian. Pakai almamater merah tadi, mukanya cakep parah. Kemana tuh dia?" Alih Daera mampu membuat semuanya mencari sosok yang dimaksud, yaitu Haikal. oOo Haikal masih setia menunggu di depan toilet wanita, menunggu orang yang selama beberapa hari ini menghindarinya. Melihat kepergian Citra di kantin tadi, Haikal langsung pergi menyusul kepergian Citra, karena dia tahu kalau calon tunangannya itu sengaja menghindarinya. Citra baru saja keluar dari toilet dan dirinya langsung dibuat kaget oleh orang di depannya ini. Dia hendak masuk kembali ke dalam toilet, tetapi Haikal sudah terlebih dulu menyadarinya dan menarik tangannya. "Lo ... kenapa ada di sini?" Tanya Citra gugup. Haikal tidak menjawab. Dia terus memandangi wajah Citra dengan tatapan datarnya. Dia merasa kesal karena gadis mungilnya itu berusaha menghindarinya. "Lo ngapain di toilet sampai lima belas menit?" Tanya balik Haikal membuat Citra gelagapan. "La-lah, orang kalau ke toilet pasti buang air lah." Jawab Citra. "Selama itu?" Tanya Haikal mengintimidasi. Citra menghindari tatapan Haikal. "Gue pup, jadi lama. Kalau cepat gue cuman buang air kecil." Cicit Citra . Haikal mengangguk-anggukan kepalanya. "Bukan sengaja menghindar?" Pertanyaan Haikal dapat membuat Citra bungkam. "I-ya, sekalian." Jawab Citra di selingi cengiran. "Udah kak, sedikit lagi mau bel. Gue mau masuk kelas, tolong lepas tangan gue dong." Pinta Citra tentu saja hanya alibinya untuk kabur. "Mapel sekarang, gurunya lagi sakit kan?" Telak Haikal tidak bisa Citra elak lagi. "Ikut gue." Kata Haikal menarik paksa tangan Citra. Citra lagi-lagi tidak berontak, dia terus mengikuti Haikal sampai di ruang kesehatan. Sampainya di sana, Haikal segera mengunci pintu tersebut membuat Citra kesal. "Kenapa harus kunci pintu? Lo mau buat yang enggak-enggak di sini?" Tanya Citra menantang. "Kalau Lo mau?" Sahut Haikal membuat emosi Citra menaik. Citra berdecih. "Harta lo banyak nggak mungkin kalau Lo nggak mampu pesan hotel semalaman." Haikal berjalan menyusuri brankar dengan perlahan. "Di sini, kita coba hal baru?" Sial. Citra lupa lawan bicaranya saat ini pintar membuat orang mati kutu dibuatnya.  Hati-hati kalau dia salah bicara singa buas di hadapannya akan siap segera melahapnya. "Bisa langsung ke inti aja nggak?" Citra melipat tangannya di atas dadanya. Haikal berjalan ke arah Citra. "Woah, udah nggak sabar ternyata calon tunangan gue?" "Lo sakit ya kal?" Citra mendekat meletakkan telapak tangannya di atas dahi Haikal. Haikal mengambil tangan Citra, dikecupnya punggung tangan Citra. "Kenapa? Gue nggak sakit kok." Jawab Haikal dengan suara seraknya. Tangan Citra semakin dikecup oleh Haikal. "Udah sikat gigi belum nih? Gue nggak mau tangan gue bau mulut Lo." Kelakar Citra. Risih sebenarnya tangannya terus dikecup seperti itu, namun lawannya kali ini ialah Haikal –orang yang sudah masuk ke barisan orang-orang menyebalkan dari hidupnya. Mendengar perkataan gadisnya, Haikal berhenti dari aktifitasnya. Mencondongkan tubuhnya ke Citra lebih dekat. "Kenapa nggak rasa sendiri?" Tubuh Citra menegang. Tidak bisa dibiarkan Haikal mendekat ke arahnya. Enak saja! Namun, kenapa tubuhnya tidak bisa bergerak? Bahkan sekarang dia lupa caranya bernapas. "K-kak, g-gue g-gue bercanda." Citra memalingkan wajahnya cepat. Haikal menyunggingkan bibirnya membentuk seringaian lebar. "Penasaran 'Kan? Kenapa nggak dicoba sendiri?" Alis Citra menukik tajam, wajahnya memerah menahan amarah dan malu. Tidak tahan dengan kelakuan Haikal dia melayangkan tinjunya di lengan Haikal. Hal itu cukup membuat Haikal bergerak sedikit menjauh dari tempatnya. "b******k!" Umpatnya langsung dihadiahi tatapan tajam Haikal. "Mulutnya perlu bimbingan?" Tanya Haikal berjalan perlahan ke tempat semulanya. Mendengar pertanyaan frontal Haikal, dengan sigap Citra menutup mulut dengan telapak tangannya. Matanya melotot memberi peringatan. "Eh, Elo kalau bercanda yang bener kak! Abang gue Dimas loh." Haikal hendak tertawa mendengar potongan kata gadis kecil di depannya. "Terus?" Citra menipiskan bibirnya. Sial, dia salah bicara! Lalu, memangnya kenapa jika dirinya adik Dimas? Citra mengumpati dirinya sendiri dalam hati. "L-Lo kena pecat dari.. emm ... dari-" "Dari?" Alis Haikal menaik menunggu lanjutan kata yang terbata-bata. "Dari temen, iya dari temen!" Haikal tertawa puas mendengarnya. Citra melihat Haikal heran. Apa yang salah dengan katanya? Kata-katanya seolah sangat mustahil kalau abangnya memusuhi Haikal. Matanya tidak berhenti melihat wajah berseri Haikal. Ganteng. Kata itu terucap begitu saja dalam benaknya. Menyadari perkataannya Citra segera menghempas segala pikiran kotor dalam otaknya. "Gara-gara dia otak gue jadi kotor." Gumamnya dengan suara perlahan. Sayang seribu sayang, suaranya terdengar oleh Haikal yang posisinya tepat berada di sampingnya. "Mikir apa memangnya?" Tanya Haikal membuat Citra tersentak. "Hah?" "Otak Lo mesum." Sindir Haikal menjatuhkan bokongnya pada sofa di sana. Citra berjalan mengikuti Haikal duduk dengan jarak satu meter. "Bukannya m***m tapi jelek." "Bawel." Haikal menyela. Matanya menatap lurus tepat netra cokelat milik Citra. "Kenapa Lo sengaja menghindar dari gue?" Citra melepas kontak mata dengan Haikal. Tangannya menggaruk tengkuk kepalanya, gugup. "Kenapa ya?" Kembali tanyanya seraya menunjukkan gigi putihnya. "Gue serius Citra Maharani." Tekan Haikal mengintimidasi lawan bicaranya. "Lo kenapa sih? Orang kalau menghindar itu pasti punya alasan sendiri dan lo nggak berhak tau kenapa gue menghindar dari Lo!" Jelas Citra. "Lagian Lo kenapa tanya-tanya sih? Gue males berurusan sama Lo. Kenapa? Alasannya gampang, Lo terlalu bersinar." Sambungnya. Dapat Citra lihat rahang Haikal mengeras dan dia mendengar suara gigi beradu. Lelaki itu marah? Kenapa? Dia hanya mengutarakan fakta. Mata hitam legam Haikal yang tadinya menatap dirinya hangat sekarang pandangan itu berubah menjadi dingin dan tajam. Pandangan itu mengingatkan dia pada bocah lelaki yang melindunginya disaat saudara sepupu lelakinya mencium pipinya. Dan amarah bocah kecil itu selalu membuat perasaannya takut, perasaan yang tengah dia rasakan sekarang. Satu menit telah berlalu dan Haikal masih tidak bergeming di tempatnya. Citra hendak berbicara menyadarkan Haikal, namun Haikal sudah terlebih dahulu membungkam mulut Citra dengan mulutnya. Haikal mencium Citra. Tidak hanya mencium, dia mengigit bibir bawah Citra membuat Citra meringis. Citra memberontak, tetapi Haikal tidak memperdulikannya. Haikal justru semakin menyesap bibirnya hingga tubuhnya lemas tidak berdaya. Dia butuh oksigen! Haikal tidak peduli. Dia tetap menghisap bibir Citra. Tangan Haikal melingkar di pinggang Citra, memapah tubuh yang sudah lemas tak berdaya itu. Pagutan terlepas ketika Citra dengan kencang mencubit pinggangnya. Setelah pagutan itu terlepas Citra dengan cepat menghirup udara sebanyak-banyaknya, begitupun dengan Haikal. Kemudian, - PLAKK!! Pipi Haikal memerah, tangan Citra tercetak jelas di pipi pemuda tampan itu. Haikal meringis. Tangannya masih berada di pinggang gadis kecilnya, rasanya dia enggan untuk melepas pinggang ramping tersebut. "Buka pintu, b******k!" Kesal Citra pada Haikal yang tak bergeming. Dia hanya takut kalau Haikal berbuat nekat kepadanya. Matanya memerah menahan air mata yang sudah membendung di pelupuk mata. Haikal melihatnya. Merasa bodoh telah bertindak terlalu jauh hanya karena emosinya. Lihat apa yang terjadi sekarang? Gadis kecil itu menatapnya takut seolah-olah dirinya ini monster. Mulut itu mulut yang selalu terbuka untuk mengeluarkan kata-kata menyebalkan yang sayangnya Haikal suka mendengarnya, kini tertutup rapat bergetar dan terdapat luka yang dibuat olehnya. Haikal mendekap erat tubuh Citra. Dan pada saat itu air mata Citra jatuh ke permukaan pipinya yang halus, punggungnya bergetar. Gadisnya menangis. Tangan Haikal mengusap punggung Citra yang bergetar. Dia benar-benar mengutuk dirinya atas kejadian yang baru saja terjadi. "Maaf." Dengan suara lembut Haikal berkata demikian. "Maaf untuk semuanya." "Gue hanya nggak mau Lo menghindar dari gue, Ci. Gue mau Lo deket sama gue, nggak selalu menghindar! Gue mau kayak sahabat-sahabat gue yang bisa deket sama Lo. Gue mau deket sama Lo, gue nggak mau ngelukain Lo kayak sekarang ini. Bisakah gue kayak mereka?" "Bisa lo memperkikis jarak diantara kita?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN