Di sudut café yang hampir ramai itu terdapat tiga pelajar yang sedang menjadi perhatian para tamu di sana.Tempat dimana Citra dan kedua temannya duduk. Saat ini mereka menjadi tontonan gratis para tamu serta pelayan café sekaligus, karena Daera yang tidak berhenti tertawa dengan suara besarnya. Mungkin orang-orang di sana mengira temannya itu tidak waras.
Citra dan Isabella menutup wajahnya dengan menu dan laptop, merasa malu menjadi tontonan.
"Dae!" panggil Citra berbisik namun tidak dengar oleh sang pemilik nama.
Citra memanggilnya sampai tiga kali tetapi tetap diacuhkan. Merasa kesal diabaikan, dia memukul kepala sahabatnya kencang hingga Daera merespon dengan mengeluarkan ringisan.
"Sakit tau!" Protes Daera mengusap dahi yang terkena pukulan Citra.
"Berisik Daera!" Isabella memukul lengan Daera kencang.
Daera mendelik. "Kalian apa-apaan, sih?! Sakit tau!" Kesalnya masih mengusap lengan dan dahinya yang terasa berdenyut.
"Kita jadi artis dadakan." Citra menolehkan kepala Daera ke samping kanan, menunjukkan banyak orang yang menatap mereka.
Daera melihat sekitar, dan benar saja mereka menjadi perhatian orang-orang di sana. Daera terkekeh malu dan membenarkan posisinya seperti semula. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah terima aja, mungkin emang jodoh." Ujar Daera sebelum meminum es di depannya.
"Tapi gue baru enam belas, Daera. Gue masih punya masa depan yang udah gue tata sebaik mungkin!" Bantah Citra.
"Modelan Haikal Cit, nggak apa. Masa depan lo terjamin! Lo lupa dia siapa? Mau gue kenalin secara formal?" Daera menaikkan sebelah alisnya pada Isabella.
Mengerti apa yang dimaksud sahabatnya Isabella segera berdiri dari bangkunya, "Haikal Aditya Yudistira anak tunggal kaya raya, pewaris takhta tertinggi. Keturunan Albert Einstein –"
"Cucunya Kakek Yudistira! Nggak usah ngarang lo berdua. Albert Einstein kakek gue juga!" Potong Citra cepat.
"Cucunya Opa Kelvin yang terhormat diem deh, nggak usah sok asik. Lanjutin." Sanggah Daera.
Isabella menarik nafasnya menghempaskan nafas tersebut dengan keras. "Sampai dimana tadi?"
"Cucu Kakek Albert." Jawab Citra memutar bola matanya malas.
"Oke. Doi keturunan Albert Einstein, coba aja lo lihat dalam otaknya ada apa aja? Pelajaran semua asal lo tau–"
"Sok tau."
" –Haikal penerima penghargaan paling banyak di sekolah kita. Bakatnya banyak. MULTITALENTA bukan kayak lo multitalenan!" Isabella mengakhiri perkenalan tersebut dengan menepuk tangannya yang membuat pengunjung lagi-lagi memperhatikan mereka.
Citra hendak berbicara namun bunyi notifikasi dari handphone Isabella membuatnya bungkam kembali.
"Tunggu sebentar." Isabella meletakan jari telunjuknya pada bibir mungilnya.
"Revan bilang dia sama teman-temannya mau ke sini. Ikut gabung kita." Sambung Isabella memberi tahu pesan yang baru saja berbunyi.
"Bagus, biar tambah ramai. Mereka-mereka doang 'kan?"
"Siapa lagi emangnya?"
"Siapa tau ada member baru?"
Isabella menggeleng, menjawab pertanyaan Daera. Matanya melihat ke arah Citra yang tampak gelisah dari tempat duduknya. "Lo kenapa Cit?" tanyanya khawatir.
"Perut gue sakit banget." Keluh Citra memegang perutnya yang terasa nyeri.
"Lo nggak apa-apa?" Daera menghampiri tempat Citra. Ia melihat bulir keringat yang perlahan mengalir membasahi wajah sahabatnya.
Citra menukik alisnya tajam menahan rasa sakit yang menderanya. Dia menggeleng menjawab pertanyaan Daera. "Gue ke toilet sebentar."
"Gue temenin." Daera hendak mengikuti Citra, namun Citra sudah terlebih dahulu mencegahnya.
"Gue bisa sendiri." Cegah Citra menghentikan langkah Daera.
Citra lekas meninggalkan teman-temannya dan bersembunyi di balik toilet. Dia memegang d**a sebelah kirinya, merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Gila! Dia memang gila. Dia telah berbohong pada temannya sendiri karena ingin menghindari bertemu dengan Haikal.
Setelah peristiwa di ruang kesehatan itu terjadi, Citra memilih untuk menghindari bertemu dengan Haikal. Bayangan itu terus terlintas dalam pikirannya, membuatnya malu sendiri jika berhadapan dengan lelaki yang telah memulai peristiwa memalukan di ruang kesehatan kemarin.
oOo
Haikal dan teman-teman sudah datang dari lima belas menit yang lalu, dan Citra masih juga belum kembali. Khawatir akan keadaan sahabatnya, Isabella berinisiatif melihat temannya yang masih berada di dalam kamar mandi.
"Bang, gue mau lihat Citra dulu di toilet." Kata Isabella bangun dari duduknya.
Dimas mengernyit bingung. "Loh dari tadi dia di toilet?"
Isabella mengangguk seraya menunjuk barang-barang Citra yang masih tertinggal termasuk handphonenya.
Dimas kembali bertanya pada Daera. "Dari kita sampai?"
Daera mengangguk. "Lima menit sebelum kalian sampai." jawabnya tenang.
Sadar akan perkataannya, matanya membola. "Dua puluh menit?! Damn!" Daera bangkit dari kursinya bergegas ke kamar mandi diikuti Isabella dibelakangnya.
"Kenapa?" Tanya Davina yang baru saja tiba dari belanjanya.
Dimas menjawab seraya mengutak-atik handphonenya. "Citra masih di kamar mandi dari kita sampai sini."
Davina masih diam mencerna perkataan kekasihnya. Dia tersentak kaget ketika sang kekasih menepuk pundaknya. "Coba kamu hubungin Citra. Aku lupa dia lagi marah sama aku."
Jemari Haikal bergerak gelisah. Dia menyimak pembicaraan teman-temannya. Tetapi tanpa sengaja jarinya menekan tombol yang sedari tadi ingin dia tuju, dan yang dia dapat hanya jawaban dari operator.
Dengan perasaan khawatir, Haikal terus menghubungi Citra beberapa kali. Bahkan teman-temannya kini juga mulai menghubungi Citra karena tidak adanya kabar dari Isabella dan Daera.
Revan dan Rangga menghampiri meja dengan tangan penuh pesanan. "Kenapa Dim?"
Daera dengan Isabella lari dari arah yang berlawanan. Dengan nafas terputus-putus mereka kompak mengatakan bahwa Citra tidak berada di toilet. Sontak Haikal bangkit dari duduknya dan bergegas mencari Citra.
"Ini Handphone siapa?" Rangga menunjuk sebuah ponsel dengan posisi telungkup.
Rangga mengangkat ponsel tersebut dan terdapat kontak Davina di sana. Ia melihat ke arah Davina dan Dimas tepat berada di seberangnya.
"Bodoh!" Umpat Dimas pada dirinya sendiri.
"Tenang, Dim. Kalau Lo nggak bisa tenang gimana bisa ketemu adek Lo?" Sakira menenangkan.
Sebuah notifikasi dari ponsel mereka serentak muncul. Haikal pengirimnya, berisikan perintah untuk mencari Citra serta bawa barang-barang Citra yang tertinggal.
Mereka berpencar sesuai apa yang diperintahkan Haikal.
Davina melihat Dimas yang terlihat sangat khawatir. "Pelan-pelan, Dim. Kalau terlalu cepat kita nggak akan ketemu Citra." Pesannya dituruti Dimas.
Revan dan Isabella sudah mengunjungi tiga toko tempat biasa Citra membeli barang-barangnya, namun nihil. Orang yang mereka cari tidak ada di sana. Mereka juga bertanya kepada orang-orang yang sedang berlalu lalang di sana, dan hasilnya tetap sama. Tidak ditemukan!
Rangga, Daera dan Sakira sudah mencari di zona waktu, dan tidak menemukan Citra. Dia juga sudah menghubungi orang-orang di rumah Citra, dan kata mereka, Citra masih belum pulang ke rumah.
Haikal pergi ke lobby. Mata tajamnya menelusuri tiap orang di sana, dan orang yang sedang dicarinya tetap tidak ada. Haikal hendak pergi ke ruang informasi, namun kakinya malah melangkah ke parkiran.
Lift terbuka dan Haikal segera berlari ke arah parkiran, langkah panjangnya terhenti begitu saja melihat Citra yang sedang berduaan dengan seorang pria asing jalan menuju ke mobil yang dia tidak ketahui milik siapa.
Dengan langkah lebar Haikal pergi mendekati Citra dan pria asing itu. Matanya terus menyorot tajam kepada dua orang di depannya ini, tiba-tiba saja emosinya meluap. Dadanya turun naik menahan amarah.
"Citra!" Panggil Haikal ketika Citra dan pria asing itu hendak masuk ke dalam mobil.
Citra menoleh dan terkejut mendapati Haikal dengan wajah bercucuran keringat, jangan lupakan tatapan mata lelaki itu seperti ingin memakannya hidup-hidup.
"Haikal?" Bukan Citra, melainkan lelaki di sampingnya yang memanggil nama calon tunangannya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Citra tidak dihiraukan oleh kedua lelaki yang saling melempar tatapan musuh.
Rahang Haikal semakin mengeras melihat siapa orang di samping gadisnya itu. Dia, Samudra Prayudha -musuh liciknya dari sekolah seberang. Matanya semakin menatap tajam Citra dan Samudra.
"Ikut gue!"
Haikal menarik tangan Citra untuk menjauhi Samudra, tetapi langkahnya terhenti kala Samudra ikut menarik tangan Citra.
"Lo siapanya dia, main tarik aja." Ketus Samudra ikut menatap tajam Haikal.
Haikal malas menjawab pertanyaan Samudra yang ujung-ujungnya membuat emosinya semakin melonjak.
Citra meringis sakit. Merasakan kedua pergelangan tangannya ditekan oleh Haikal dan Samudra, terutama tangan kanannya, yang ditekan sangat kencang oleh Haikal. Dalam hatinya terus merutuki Haikal karena telah membuat sakit tangannya.
"Kak, gue nggak apa kok bareng sama Kak Haikal." Lerai Citra sedikit tidak enak dengan Samudra. Dia hanya tidak ingin tangannya menjadi pelampiasan emosi dua orang lelaki berbadan besar itu.
Samudra perlahan mengendurkan pegangannya, dan tatapannya pun kian melembut menatap Citra. Bahkan seukir senyuman tercetak di wajahnya.
"Oke. Jangan lupa besok sepulang sekolah! Gue tunggu Lo di café pertigaan sekolah, oke?"
Citra mengangguk dengan senyum lebarnya. "Oke!"
Haikal berdecih sebelum menarik Citra kembali.
"Masuk!" Perintah Haikal dituruti Citra.
Haikal pergi meninggalkan parkiran setelah mengabari teman-temannya kalau Citra sudah dengannya.
"Lo kenapa sih?" Kesal Citra karena Haikal seperti memusuhinya.
Haikal tidak menjawab. Dia terlalu kesal, takut emosinya menguasai dirinya dan melukai Citra. Dia tidak mau hal itu terjadi.
Selama perjalanan tidak ada perbincangan antara mereka. Citra tidak tahan, dia berdehem berharap Haikal peka dan mengajaknya berbicara dahulu, tetapi justru tidak ada respon dari Haikal membuatnya kesal saja.
"Itu, Lo kenal sama Kak Samudra?" Tanya Citra tetap tidak ada jawaban dari lawan bicara.
Citra berdecak kesal, dia bersedekap d**a menolehkan kepalanya menatap jalanan. "Lo itu nyebelin banget, ya?" Cetus Citra membuat Haikal menoleh dengan dahi yang berlipat.
"Kemarin banyak omong, sekarang irit ngomong. Debat sama gue udah kayak mau menangin lotre, giliran gue tanya, Lo kayak orang nggak punya mulut." Lanjutnya tanpa tahu Haikal yang sedari tadi menatapnya.
"Padahal kemarin mulut lo bisa nyium gue!" Gumam Citra meremas tangannya, menahan rasa ingin memukul lelaki di sampingnya ini. Tapi tenang saja, dia bisa mengendalikan nafsu membabi butanya.
Haikal menarik sudut bibirnya, kemudian terkekeh geli. Citra melihat ke arahnya dengan raut bingung. Untuk seperkian detik Citra terpesona dengan ketampanan Haikal. Setelah otaknya mulai bekerja, keterpesonaan-nya dia mulai hilang dan beralih memukul lengan Haikal kesal.
Mendapat pukulan dari Citra, Haikal semakin tertawa geli. Ah, gadisnya ini sel otaknya sangat lamban untuk mencerna.
Citra menyudahi memukul lengan Haikal, dia memunggungi Haikal. Pipinya merona merah karena malu.
Haikal berhenti tertawa. Tangan kirinya beralih menggenggam tangan Citra, dilihatnya wilayah yang memerah di pergelangan tangan gadisnya itu. Jari jempolnya mengusap pergelangan tangan Citra.
"Sakit?" Tanya Haikal lembut.
Citra sedikit tersentak, mendengar suara Haikal yang terdengar sangat lembut. Dia menggeleng sebagai jawaban. "Tadi sakit, sekarang nggak." Jawabnya.
"Sekarang yang sakit di sini." Citra memegang d**a sebelah kirinya mendramatisir. Haikal terkekeh diikuti Citra.
oOo
"Hah!"
Citra membanting badannya ke ranjang. Badannya lelah duduk selama setengah jam di ruang tamu untuk mendengarkan ceramah dari Abang dan Ayah tersayangnya. Bundanya hanya sedikit menasihati, tidak dengan Ayah dan Abangnya.
Dia tidak masalah dengan semua nasihat yang diberi oleh Ayah dan Abangnya itu, yang menjadi masalah ialah Haikal yang ikut serta menceramahinya dan dengan seenaknya dia memberi hukuman untuknya yang disetujui oleh Keluarganya!
Cklek!
Citra menoleh dan mendapati Haikal masuk ke dalam kamarnya. Citra tidak beranjak dari tempat tidurnya, dia semakin mengayun-ayunkan kakinya dan menutup wajahnya menggunakan bantal.
"Ngapain Lo di sini?" Ketus Citra mulai duduk bersila di kasurnya.
Haikal tidak menghiraukan Citra, tangannya bergerilya ke meja belajar mengambil sebingkai foto menampilkan gadis kecil yang tengah tersenyum dengan dua jari yang dilayangkan. Tanpa sadar dirinya juga ikut tersenyum, tapi pigura itu dengan cepat berpindah tangan darinya.
Citra datang dengan muka kesal. "Nggak sopan banget, Lo!" Kesal Citra karena Haikal asal menyentuh barangnya.
Haikal menggedikan bahunya tidak peduli. Kakinya kembali melangkah mengelilingi ruangan gadis itu. Tangannya menyentuh rak buku di kamar tersebut, mengambil satu buku yang tak asing dimatanya. Menyandarkan tubuhnya pada badan rak dan membuka per-halaman dari buku tersebut.
"Foto itu, diambil waktu lo mau ke festival tapi nggak jadi, kan?"Tanya Haikal tanpa mengalihkan pandangannya.
Citra tampak berpikir. "Lupa." Jawabnya menggedikan bahunya.
"Waktu tahun baru, Lo minta ke festival tapi nggak dibolehin Ayah. Akhirnya kita ngebuat acara sendiri di belakang rumah Lo. Nyalain kembang api yang lo kira itu bom dari teroris."Jelas Haikal mengingat jelas kenangan lampau bersama gadis kecilnya.
Citra terpengarah dengan penjelasan rinci Haikal. Dia terkekeh ketika diakhir kalimat Haikal, dia mengingat kejadian lampau itu.
"Karena sebelum itu, ada bocah laki-laki yang nakutin gue dengan adanya teroris di Indonesia." Sambung Citra, membuat mereka berdua tertawa.
Haikal menunjuk buku yang sedang dibacanya. "Buku ini, buku yang sering gue bacain buat lo tidur kan?" Tanyanya lagi membuat Citra kembali berpikir keras.
"Iya ... ada. Ada yang bacain gue buku itu, bocah laki-laki tapi gue nggak tau kalau itu Lo." jawab Citra mengusap tengkuknya seraya tersenyum kikuk.
"Karena memori ingatan otak lo udah kadaluarsa!" Kesal Haikal karena Citra selalu melupakan kenangan bersamanya.
Cukup lama mereka bergurau, namun terhenti kala Citra mulai bertanya dengan serius.
"Kak, Lo tau 'kan yang namanya pernikahan itu sakral?" Tanya Citra diangguki Haikal.
"Dulu, gue pernah mikir kalau gue bakal nikah sama orang yang gue cinta lebih dari siapapun di dunia ini, mungkin lo juga mikir seperti itu? Dan, gue cuma nggak mau menghancurkan ekspetasi lo yang mau nikah sama orang yang paling lo cinta. "
Haikal terdiam, dia meletakkan kembali buku yang dibacanya ke tempat semula, dan duduk di depan Citra. Tangannya menggenggam tangan kecil Citra. Ingin sekali dia bilang kalau orang yang selama ini dia tunggu ialah gadisnya itu, tapi kata itu tidak akan mungkin bisa dia lontarkan.
Haikal tampak berpikir. "Lo tenang aja, gue bakalan buat lo jadi orang yang paling bahagia di dunia ini!" Ujar Haikal lantang.
Citra terperangah mendapat lontaran kata Haikal. Dia hanya tidak sangka kalau senior berwajah triplek itu bisa berbicara seperti itu, sampai-sampai jantungnya hampir melompat dari tempatnya.
Dia berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya. "Gi-gimana caranya?" Tanya Citra mengalihkan pandangan.
"Gimana apanya?" Tanya Haikal tidak mengerti maksud dari gadisnya itu.
Citra melepas tangannya yang sedang digenggam Haikal karena salah tingkah. "Gimana caranya Lo bisa buat gue jadi orang yang paling bahagia di dunia ini?"
"Bagaimana caranya gue bakal usahain." Jawab Haikal tersenyum hangat.
"Emangnya Lo nggak punya orang istimewa di hati lo?"
"Punya." Citra sempat terkejut, namun sebisa mungkin dia menetralkan rasa terkejutnya itu.
Citra berdehem. "Siapa?" Tanya Citra sedikit salah tingkah.
"Ada."
"Deskripsiin orangnya, boleh?" Tanya Citra terlanjur ingin tahu. Dia hanya ingin bertanya, tidak salah 'kan?
"Nggak mau." Tolak Haikal membuat Citra menggeram gemas.
Tanpa sadar Citra merengek pada Haikal. "Siapa, ih?"
Rengekan Citra membuat Haikal terkekeh sedikit salah tingkah. Dia semakin gencar menjahili Citra yang terus-terusan merengek. Sepertinya gadis itu sudah mulai terbiasa dengannya.
Citra mencubit pinggang Haikal kesal karena tidak kunjung menjawab ke ingin tahuannya. Sebabnya, Haikal meringis dan akhirnya ia memberi sedikit petunjuk untuk gadis cerewetnya ini.
"Dia cantik, gemesin, dan ... manja." Jawab Haikal tersenyum puas seraya memandang wajah Citra.
Gue lebih cantik tuh, lebih gemesin, lebih— nggak, gue sama orang yang Haikal suka itu beda! Jauh lebih dari semuanya! Citra menggelengkan kepalanya menolak isi pikirannya yang terlalu membanding-bandingkan karena tidak mau kalah saing dengan orang istimewa Haikal.
Citra sadar! Jangan takabur jadi orang, dosa! Citra menggelengkan kepalanya.
Haikal mengernyit heran dengan perilaku gadisnya itu. "Ci, kenapa?" Tanya Haikal sedikit khawatir.
Tangannya menyentuh pundak gadis itu, membuat si pemilik tubuh tersentak. Haikal semakin mengernyitkan dahinya.
"Lo kenapa?" Ulang Haikal mendapat gelengan kepala dari lawan bicaranya.
"Dia sekolah di sekolah kita kak?" Tanya Citra ragu. Dan Haikal mengangguk.
"Ya, kalau gitu batalin pertunangan aja! Kakak pasti pengin pacaran dong sama dia, pengin punya masa depan yang cerah sama dia, peng-"
"Kenapa harus batalin pertunangan kita?" Tanya Haikal mengangkat sebelah alisnya.
"Kan Lo punya dia, kak!" Jawab Citra sedikit menaikkan nadanya.
Haikal terkekeh geli. Tangan yang dia buat genggam tangan gadisnya itu dilepas dan beralih mengusap kepala gadisnya dengan lembut.
"Kalau bisa dua kenapa harus satu?"
oOo
Sedari pagi, Citra terus menekuk wajahnya kesal. Dia masih kesal dengan Haikal semalam. Dia tidak akan menegur, ataupun mengajak bicara Haikal! Dan semoga saja dia bisa tahan untuk tidak menyapa ataupun mengajak Haikal bicara, semoga!
"Ci kantin yuk!" Ajak Isabella dan Daera.
"Duluan aja, gue pengin tidur sebentar." Tolak Citra diangguki kedua sahabatnya itu.
Isabella mengusap rambut Citra yang terkuncir. "Bobo yang manis ya, sayang." Ujar Isabella membuat Citra bergidik ngeri.
Daera mengusap rambut Citra perlahan. "Lo tidur aja, nanti mulai pelajaran gue bangunin." Kata Daera lembut.
Citra tersenyum hangat pada Daera. "Thank you."
Isabella tampak iri, bibirnya Ia gerak-gerakkan memperagakan sahabatnya berbicara dengan muka mengejek. Citra tidak meladeni, dia ingin membuat sahabatnya itu kesal. Dan benar saja, Isabella kesal berjalan dengan kaki yang dihentakkan dan muka yang ditekuk. Citra tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu.
Dia tidak benar tidur. Buktinya sekarang dia sudah jalan meninggalkan kelasnya. Dia hanya pengin menjelajahi sekolah lebih teliti lagi. Sepanjang langkahnya, dia tidak berhenti menghela nafas.
"Udah gila itu orang ya! Walaupun dijodohin gue nggak akan mau kali diduain begitu." Gumam Citra merutuki seniornya sepanjang jalan.
"Tapi pastinya dia nggak mau juga dong punya istri kayak gue. Wajar aja sih kalau dia mau mendua, intinya mah gue harus dapet nafkah seumur hidup kalau dia mau mendua!" Monolognya.
Citra kembali berpikir, dia kurang puas dengan hasil pemikirannya yang sepertinya ada sedikit kesalahan.
"Gimana kalau gue juga mendua? Bisa kan? Bisa dong, kan selingkuh dibalas selingkuh. Cerai ya tinggal cerai!" Sambungnya enteng.
"Eh tapi dosa gue udah banyak, masa iya mau ditambah selingkuh lagi? Dosa dapet, masa depan suram juga dapet. Sengsara-sengsara dah tuh gue." Gumamnya merutuki diri sendiri yang terlalu bodoh.
"Udah deh, intinya mah balik ke kantin aja. Ayo makan!" Citra membalikkan arah jalannya. "Jangan pedulikan dia, anggap aja nggak ada." Sambungnya menyemangati diri.
Sesampainya di pintu kantin, dia melihat teman-teman abangnya sudah pada kumpul di sana, termasuk kedua temannya. Ketika langkahnya semakin dekat, matanya melihat ketiga wanita asing yang ikut gabung di sana.
Bukankah mereka para gadis yang kemarin heboh untuk mengobati luka Haikal dan Abangnya? Tidak salah lagi, itu memang mereka.
Matanya melihat satu wanita yang sedang bergelayut manja di lengan Haikal, dan satu wanita asing lagi sedang mengganggu abangnya. Hatinya terus mengutuk Haikal yang sangat genit itu.
Tiba-tiba saja perkataan Haikal semalam teringat di benaknya. Sepertinya wanita yang sedang bergelayut manja itu adalah wanita yang dimaksud Haikal? Pantas saja, Haikal hanya diam tak bergeming digelayuti seperti itu!
Tapi, apa-apaan Abangnya itu? Tidak marah ketika wanita asing menggelayuti lengannya seperti itu? Apa Abangnya tidak ingat kalau dia masih memiliki kekasih?
Citra mendekat ke meja teman-temannya. Dia berdehem membuat pasang mata di meja itu menatapnya.
"Eh, sini duduk, Ci!" Daera menepuk tempat kosong di sampingnya tepat berhadapan dengan Haikal.
Dengan sengaja ia memalingkan muka. "Lanjut aja, gue ada janji sama dia." Citra menunjuk salah satu pria yang tentunya tidak dia kenal.
Sebelum pergi, Citra melepas tangan wanita yang menggelayuti Dimas. "Lepas! Enak aja lo pegang-pegang belum muhrim!" Sentak Citra mengambil celah untuk mencubit pinggang Abangnya.
Citra melayangkan tatapan tajamnya pada sang Abang. "Untung Kak Davina nggak ada, kalau ada kepala Lo botak." Katanya sebelum pergi.
Haikal mengamati setiap langkah gadis itu, tatapannya kian menajam ketika gadis itu duduk berhadapan dengan lelaki yang ia ketahui lelaki itu adik kelasnya.
Dia kesal dengan gadisnya yang sedari tadi hanya berwajah masam ketika bersamanya, tapi ketika bercengkrama sama lelaki lain wajahnya kian mencerah. Menyebalkan bukan?
"Hai!" Sapa Citra pada lelaki asing yang ditunjuknya tadi.
Sebenarnya dia tidak mengenal lelaki itu, dia hanya asal tunjuk saja. Jangan harap dia mau melihat wajah wanita-wanita yang sedang bergelayut manja itu.
"Hai?" Sapa lelaki itu kikuk.
"Lo Bobby, si pemain basket hebat itu kan?" Tebak Citra mengingat teman sekelasnya pernah menunjuk lelaki bernama Bobby itu dengan berbagai pujian dan menyebut julukan tersebut.
Bobby terkekeh. "Hebat dari mana-nya coba? Biasa aja."
"Jangan merendah, Bobby" Citra terkekeh. "Gue pernah denger dari penggemar Lo katanya Lo sering menang olimpiade. Nah! Nggak hebat dari mananya coba?" Balas Citra membuat Bobby semakin tertawa salah tingkah.
Citra memanggil pemilik warung dan menyebutkan pesanannya sedikit berteriak karena suasana kantin yang sangat riuh.
"Ngomong-ngomong dari kelas mana Lo?" Tanya Bobby.
"IPA 2, Lo?"
"Loh, tetanggaan padahal kita." Kata Bobby terkekeh.
"Lo, IPA 1?" Tanya Citra diangguki Bobby.
Citra semakin kagum dibuatnya. "IPA 1 kelas unggulan loh. Berarti Lo pinter banget, Bobby!"
"Tapi kok gue nggak pernah lihat lo ya?" Tanya Bobby heran. "Awal lo dateng gue kira anak IPS."
Citra tertawa mendengar lanjutan kalimat Bobby. "Banyak yang ngomong begitu."
Haikal meremas sendok dan garpu yang berada di genggamannya. Ingin rasanya dia melempar garpu di genggamannya ke mata Bobby, supaya tidak dapat melihat gadis kecilnya yang sedang tersenyum lagi.
"Oh, kenalin gue Citra, tetangga Lo." Citra mengulurkan tangannya dan disambut oleh Bobby dengan senang hati.
"Bobby."
Matanya semakin memanas kala melihat tangan gadisnya dan adik kelasnya bersentuhan. Dia tidak tahan melihatnya! Miliknya di sentuh! Lancang sekali adik kelasnya, telah berani menyentuh miliknya.
Tangannya menyentak tangan Angel yang sedari tadi menggelayuti nya. Menambah kesal saja. Haikal berdiri dan mulai mendekati meja Citra.
"Haikal mau kemana?" Pekik Angel melihat Haikal menjauhi meja makan di sana.
Dimas sangat risih dengan Kayla yang terlalu menempel dengannya. Sudah berkali-kali dia melepas tangan itu, namun tangan itu tetap kembali ke tempat semula.
"Awas! Apa banget sih!" Ketus Dimas karena Kayla tidak kunjung melepaskan tangannya.
Kayla, gadis itu terlihat kesal dengan nada ketus Dimas.
Revan menyenggol lengan Rangga. "Lihat noh, Rang. Possesive abis!"
"Galak boss!" Timpal Rangga memekik. Mereka berdua tertawa geli melihat sahabatnya. Sepertinya dirinya mulai merelakan hubungan sahabatnya.
Tidak lama kemudian tawa mereka berhenti tergantikan dengan mengaduh karena kepala mereka yang ditoyor kencang oleh Sakira.
Sakira memukul meja panjang itu kesal. "Ini meja berisik banget, sih!" Ucapnya membuat kantin menjadi sunyi.
"Tinggal makan aja, segala berisik!" Sambungnya lagi dan melanjutkan makannya.
Kayla menggerak-gerakkan mulutnya memperagakan bicara Sakira. Dirinya beruntung karena singa betina itu tidak melihatnya, coba kalau Sakira melihat, tamat riwayat Kayla.
Tanpa disuruh, Haikal duduk di samping Citra membuat kedua pasang mata melihatnya.
Bobby menatap KETOS-Nya bingung. Citra memutar bola matanya kesal. Haikal kenapa, sih? Kurang puas kah Haikal membuat dirinya kesal?
"Ada apa ya, kak?" Tanya Bobby kikuk.
Hey, siapa yang tidak kikuk jika dihadapkan dengan KETOS berwajah datar, dan selalu memancarkan aura mengintimidasi?
Haikal mengangkat alisnya. "Kenapa memangnya? Kamu nggak suka saya ada di sini?"
Kalian lihat? Baru ditanya seperti itu saja, jawaban senior itu jutek. Bagaimana kalau dirinya memberi seribu pertanyaan? Akankah seribu pertanyaan itu tersampaikan atau dirinya yang sudah dikirim ke alam akhirat lebih dulu?
Bobby menipiskan bibirnya. Citra melihat Bobby yang tidak nyaman di dekat Haikal.
Tangan Citra sudah mengepal. Ingin sekali membuat pipi Haikal lebam sekarang juga. Hanya saja dia sedang menjaga image-Nya sebagai wanita baik-baik di hadapan Bobby.
Citra menolehkan kepalanya ke Haikal. "Lo ngapain? Lihat, dia jadi nggak nyaman karena ada Lo!" Bisik Citra.
Haikal menatap Bobby yang sedang memainkan makanan di depannya. "Kamu nggak nyaman karena ada saya?
Uhuk! Uhuk!
Bobby tesedak liurnya sendiri. Citra dengan cepat memberi Bobby minum, namun Haikal lebih cepat memberinya. Citra memprotesnya lewat pandang mata.
"Terimakasih kak." Ucap Bobby setelah menenggak segelas minuman dari Haikal.
Haikal tidak menghiraukan perkataan Bobby. Matanya tidak beralih dari wajah cantik gadisnya yang tertekuk seharian ini. Kepalanya ia bebankan pada tangannya.
Risih akan tatapan Haikal, ia menghalangi wajahnya dengan telapak tangannya, namun Haikal semakin gencar memandanginya.
"Bobby kita pindah, mau?" Ajak Citra diangguki Bobby.
"Kenapa pindah? Saya ganggu kalian memangnya?" Pertanyaan Haikal dilontarkan untuk Bobby seorang, tatapan matanya menatap Bobby tajam tidak mengijinkan mereka untuk pergi.
Bobby menggeleng. "Nggak usah Cit, ada Kak Haikal juga masa kita tinggalin?"
Citra mengangguk pada Bobby. Matanya menatap tajam Haikal -yang malah melemparkan senyuman manisnya pada Citra.
Setelah Haikal berada di sana, Bobby dan Citra tidak berbincang kembali. Bobby melihat arah pandang seniornya yang menuju pada teman barunya, Citra. Pandangannya tidak beralih sedikitpun dari wajah Citra. Bobby sedikit meringis melihatnya.
Apa seniornya suka dengan teman barunya itu? Sepertinya memang iya. Bobby terkekeh membuat sang senior menatapnya tajam yang dapat menghentikan kekehannya.
"Kenapa kamu tertawa?" Tanya Haikal sedikit sinis.
Bobby menetralkan suaranya yang hendak tertawa. "Nggak kak, maaf." Ucapnya merasa tidak sopan.
Dia berdiri, sepertinya dia harus pergi dan membiarkan senior dengan siswi yang baru dikenalnya itu berbincang berdua.
"Maaf Kak, Cit, gue duluan ya? Mau ke perpus, nanti ada penilaian harian soalnya." Pamitnya yang tentu saja hanya alasan semata.
Citra mengangguk sedikit tidak setuju tetapi mendengar Bobby yang akan menjalani ujian, mau tidak mau dia mengangguk setuju.
"Jangan sampai gue balap rangking Lo!"
"Nggak akan bisa, Cit!" Jawab Bobby terkekeh. "Gue duluan Kak, Citra!" Pamitnya dan langsung menghilang dari kantin.
Haikal mempraktekkan bicaranya Bobby dan Citra, mulutnya mendapat pukulan perlahan tetapi cukup membuat bibirnya sedikit sakit. Ralat, bukan hanya sedikit, tapi sangat sakit! Karena bibir atasnya yang tidak sengaja dia gigit.
Citra tertawa geli melihat Haikal kesakitan "Habisnya Lo nyebelin. Sakit kan?" Ledek Citra.
Haikal memegangi bibirnya, menatap kesal Citra. "Sakit lah!" Jawab Haikal membuat tawa Citra semakin besar.
Lihat! Gadis kecilnya ini sangat nakal, bukan? Tertawa disaat bibirnya berdenyut. Seharusnya bibirnya ini digigit oleh bibir gadis kecilnya itu, bukan tergigit oleh dirinya sendiri! Kalau sama gadis kecilnya pasti tidak akan terasa sakit, pasti akan terasa–
Tunggu! Sejak kapan pikirannya jadi se-m***m ini? Haikal menggeleng, mengenyahkan pikiran kotornya.
"Haikal!"
Lamunannya buyar begitu saja mendengar rengekan menyebalkan dari gadis yang selalu menggodanya. Siapa lagi kalau bukan Angel? Hanya gadis itu yang berani mendekatinya walaupun sudah ditolak berkali-kali olehnya.
Angel duduk di sebelah Haikal. Tangannya lekas melingkar di lengan Haikal manja. "Haikal, kenapa kamu tiba-tiba pergi, sih?" Tanyanya merengek.
Haikal sangat benci rengekan dari seorang gadis, terkecuali gadis kecilnya.
Citra menatap kesal Angel. Bola matanya memutar malas. Niat awal ingin menjauhi kedua sejoli itu, tetapi kenapa mereka berpindah tempat di sini? Apa Haikal memang benar-benar mengibarkan bendera peperangan? Baiklah, dia akan menerima peperangan yang telah diajukan secara tidak langsung oleh Haikal!
Ingatkan Citra jika dia sedang dalam medan perang sekarang. Dia benar-benar akan menjadi musuh yang baik untuk Haikal.