Padahal cuma foto-foto tapi ternyata melelahkan juga ya. Kami baru selesai jam sepuluh malam. Tubuhku rasanya mau patah karena pegal-pegal. Indra yang menyetir. Pak Nanang sudah pulang. Aku tidak paham kenapa Indra malah menyuruh Pak Nanang pulang dan malah dia yang menyetir. Padahal kalau Pak Nanang yang menyetir kan lumayan dia bisa hemat energi karena besok penerbangan ke Amerika. Alasan sebenarnya sih karena aku merasa canggung berdua saja dengan Indra. Sebab selama photoshoot tadi kami banyak kontak fisik yang menurutku berlebihan. Aku malu. “Besok tolong anterin gue ke bandara ya,” ucap Indra. Akhirnya dia bicara setelah sejak tadi kami masuk mobil hanya sama-sama diam. “Oke,” sahutku. Tangan Indra mulai menggenggam tanganku. Aku jadi teringat soal ciuman tadi. Beberapa

