Selesai percintaan kami, Indra langsung memelukku erat. Oke bagus, ini saatnya untuk bicara. “Kamu, marah kah?” tanyaku pelan. “Marah kenapa?” “Itu tadi yang soal mendadak ada Arya di restoran.” Indra diam. Aku jadi meliriknya. Memastikan ekspresi Indra seperti apa. “Lumayan. Terlalu kebetulan banget tiba-tiba dia ada disitu.” Tuh kan bener berarti cemburu. Aduh pantas saja tidak ada senyuman sedikit pun di wajahnya. “Terus yang kamu ke kantor itu, menghindar karena marah atau gimana?” Indra tersenyum. “Itu beneran urusan dadakan sayang.” Aaa begitu rupanya. Aku berusaha mengambil kesimpulan. Indra ini sebenarnya agak cemburu lalu langsung dihantam dengan permasalahan dari kantor. “Indra. Are you okay?” tanyaku kemudian. Aku menatap tepat ke matanya. Aku tidak pernah membahas

