Indra bilang dia tidak bisa menemani datang ke kantornya, nyatanya dia ikut. Tentu saja laptop tercintanya itu diajak. Indra akan bekerja dari ruangannya. Menemani aku mengawasi kondisi ruang meeting. Agenda meeting dengan Meri dan Ilham itu jam sepuluh dan aku tiba di kantornya Indra setengah sepuluh. Aman lah ya. Indra menggandeng tanganku memasuki lift khusus. Maklum dia kan atasan. Hanya saja aku tidak menyangka dia punya kantor yang cukup besar juga. Katanya ini kantor pusat untuk semua lini bisnisnya. Aku sudah tanya dia punya bisnis apa saja. Banyak. Tidak semuanya di bawah kendali dia, tapi kebanyakan Indra menjadi investor atau bisnis bersama. Suamiku itu memang sangat keren. Setelah keluar dari lift, beberapa orang menyapaku ramah. Ada yang wajahnya masih aku ingat. Mereka

