Pagi-pagi aku sudah rapi, sudah mandi, dan sudah makan. Yaps karena aku harus mengikuti titah baginda raja Indra Ardana. Kalau tidak, dia tidak mau ikut kondangan denganku. Aku merasa dijebak disini. Padahal aku setuju untuk mengikuti syarat-syarat yang dia ajukan demi kelancaran balas dendamku pada Ilham dan Meri. Akan tetapi kenapa lama kelamaan aku merasa bahwa aku hanya dipermainkan oleh dia, ya? Akan tetapi nasi sudah menjadi nasi goreng. Mau bagaimana lagi kan? Sudah kadung go public dengan Indra. Jadi aku jalani saja selagi dia tidak minta aneh-aneh. Ya meskipun permintaan dia menurutku sudah agak aneh sih. Aku keluar dari kost dan melewati halaman rumah ibu kost dulu. Disana kebetulan ada Alya dan Arya yang sedang bermain diawasi oleh ibu kost. “Mbak Viraa mau kemana?” tanya Alya

