Pulang Bersama Nirina HARI hampir gelap tatkala motor Ray berhenti depan rumah Bunda Dewi. Nirina yang bercelana jins ketat hitam dengan atasan sweater merah tua, turun. Dilepaskan helm dari kepalanya. Sesaat menyibakkan rambut pendek yang memperlihatkan tengkuknya yang bersih dan bertahi lalat. Lalu, ia pun menunggu Ray memarkir motor di pekarangan. Sesaat, hidungnya menghirup aroma bunga-bunga cantik yang tertanam di sana. “Yu!” Ray meliriknya. Mereka pun berdua menuju teras depan. Lalu menghampiri pintu depan. Ray mengetuk pintu itu. Hanya berselang lima menit, pintu terkuak. Bunda Dewi yang mengenakan daster panjang batik berlengan panjang, berdiri. Rambutnya tergerai. Tak berjilbab. Bibirnya tersenyum melihat Ray, meski wajahnya masih tampak sedikit muram. “Kenalkan ini Nirina, t

