"Ternyata, lo baik banget, ya. Gue janji deh, kalau nanti udah balikan sama Mario, lo boleh kok sahabatan sama dia. Ya, sekalian aja kita juga sahabatan." Oliv tersenyum. "Gue kagum dengan sifat dewasa lo." Aku tersenyum kikuk. "Oke ...." "Minum dulu, nih." "Cheers!" Oliv berseru. Kami saling mengetukkan gelas lalu tertawa bersama. "Eh, Sha ... tapi, apa lo yakin Mario mau nerima gue lagi?" Oliv bertanya lalu menaruh gelas minumannya ke meja. Aku ikut meletakkan gelas yang airnya tinggal setengah itu. "Dia tipe cowok setia, 'kan? Gue yakin, dia gak akan semudah itu lupain lo. Percaya deh." Aku tersenyum tapi hatiku berdenyut sakit. Sekuat tenaga aku menahan buliran bening ini agar tidak jatuh di depan Oliv. "Lo cewek baik, Sha. Gue pikir, lo akan tetap kejar Mario. Tapi ternyata? Lo

