Humaira dan Aryan duduk di meja sambil memandangi wanita yang tengah berjibaku di dapur. Bersama Laila dan Bi Inah, Hana melakukannya penuh kasih sayang. Kepiawaian tangan juga jemarinya membuktikan bahwa Hana memang sosok wanita idaman. Dari kejauhan, Aryan melihat semburat senyum yang terus menghiasi wajah sang wanita. ‘Masya Allah, Hana. Rasanya keinginan saya buat dapatkan kamu semakin menggebu.’ Aryan sama sekali tak berkedip. Ia memandangi Hana dengan penuh pengharapan. Sementara Humaira yang bisa mendengar isi hati seseorang, segera menoleh–memandang wajah sang ayah yang tampak berbunga-bunga. Lagi-lagi, Humaira memiliki ide jahil. Ia lantas menyeringai lalu tersenyum dalam hati. Ketika sang ayah sedang melamun, memandangi Hana yang tengah mengiris bahan masakan—Humaira deng

