Di Balik Misi Perjodohan

1317 Kata

Hana berupaya menenangkan Humaira di kamar. Sudah hampir setengah jam mereka duduk berdampingan di tepi ranjang, namun anak itu terus menangis serta meraung sebelum keinginannya dituruti. “Sudah dong, Sayang. Bunda sedih kalau Humaira menangis terus.” Hana mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi sang gadis kecil. “Tapi Humaira mau liburan sama Bunda … hiks!” Kali ini ucapan Humaira sedikit melemah. Ia tak lagi meninggikan nada bicaranya di hadapan Hana seperti sedia kala. Disaat yang sama, Hana kembali menimang. Haruskah ia menerima tawaran Humaira? Pandangannya menyapu seluruh ruangan. Seketika itu pula, ia melihat Habibah dan Aryan mengintip dari ambang pintu yang sedikit terbuka. Raut wajah yang terpancar dari mereka seolah mengisyaratkan pengharapan. Hal itu pula yang me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN