Malam itu seperti biasa—Aryan menemani Humaira untuk tidur. Namun, ia terjaga dengan kata-kata sang putri tentang Vito dan Monika. Setelah siang hari tadi Humaira berhasil membuat kesepakatan dengan Hana, Aryan begitu penasaran hingga meminta Humaira untuk menceritakan kembali kronologi mengapa kedua pegawainya terlibat dengan misi liburan mereka. Pasca Humaira menceritakan semua, Aryan hanya bisa menggelengkan kepala, menahan nafas agar tidak meluapkan emosi di hadapan putri kecilnya. ‘Bisa-bisanya mereka punya rencana di belakang gue!’ Aryan memandang wajah polos putrinya yang sudah terlelap. Lalu menoleh ke arah jarum jam. Waktu menunjukkan pukul delapan malam—dan itu belum terlalu larut untuk mengajak Vito mempertanggung jawabkan sikapnya bukan? Aryan pun beranjak dari tempat tidur d

