“Aryan … Malik … Kartawijaya?” Axel tercenung berusaha mengingat sosok di hadapannya. “Saya kira Anda ga akan ingat.” Aryan tersenyum lalu mengulurkan tangan. Tak lama, Axel meraih jabatan tangan tersebut. “Bagaimana saya ga ingat. Nama Anda sangat terkenal, di beberapa headline news juga bertebaran di sosial media,” puji Axel. “Terakhir kali kita ketemu di pertemuan multilateral, ‘kan?” “Ah! Benar, di Bangkok?” “Apa kabar?” tanya Aryan berpura-pura tidak mengetahui segala kebusukan Axel. Pria itu terus menebar senyum. “Baik.” Axel membalas senyuman itu, lalu matanya memutar. “Sedang apa disini?” tanya Axel begitu penasaran. “Late dinner.” “Ah!” Axel mengangguk. Meski ia membawa seorang wanita di sisinya, pria itu seolah enggan mengenalkan pada Aryan. Sementara itu, Aryan ju

