Hana tiba di halaman kondominium tempat masa kecil dulu bersama almarhum. Ia mendongak seraya menatap penuh lirih bangunan tua yang hampir sepuluh tahun ditempati. Memori yang ada pada bangunan lima lantai itu sangat membekas di ingatannya. ‘Ayah, Ibu … Hana pulang.’ Sebelum berakhir di panti asuhan, Hana pernah menetap disana. Bahkan, ia menghabiskan masa kecil bersama anak-anak sebaya mereka dengan beribu canda tawa. Meski penuh kesederhanaan, tapi Hana merasa bahagia. Langkah kakinya mulai bergerak menyusuri koridor lalu menaiki tangga satu per satu dengan lemah. Beberapa orang memandang kebingungan. Dan ada pula yang menerka kehadiran Hana seolah pernah mengenal sosok wanita itu. Diantara kesedihan yang menyelimuti hatinya, Hana berusaha ramah dan menebarkan senyuman. Ia menunduk

