“Perempuan itu hari ini datang?” tanya Umma yang tiba-tiba masih penasaran. “Eung … sepertinya, Umma.” Aryan dan Vito saling memandang. Kini, mobil yang dikendarai Vito telah memasuki halaman seluas satu hektar. Setidaknya butuh satu kilometer dari gerbang menuju pintu utama. “Umma jadi ga sabar lihat siapa yang berhasil menaklukan hati si anak jenius itu.” Aryan tersenyum. “Alhamdulillah sampai,” timpal wanita tua itu. Saat mobil berhenti tepat di depan rumah, Aryan keluar lebih dulu lalu segera berlari untuk membukakan pintu sisi sang ibu. “Silakan, Nyonya.” “Terima kasih, Sayang.” Wanita lanjut usia itu mengusap pipi sang putra seraya tersenyum hangat. “Selamat datang kembali, Umma.” Aryan merangkul lengan wanita itu lalu menuntunnya berjalan. Ketika langkah kaki bergera

