Siang berganti malam, Hana terbangun dari ketidak sadarannya selama berjam-jam. Ia mengerjapkan mata perlahan ketika bias cahaya memasuki pupilnya. Samar-samar ia mendengar suara anak kecil memanggil.
“Bibi Hana?”
Hana lantas menoleh ke sumber suara hingga membuat pupil itu mulai membesar.
“Humaira?”
Suara parau serta lemah terucap dari bibir Hana.
“Bibi baik-baik saja?”
Humaira melompat duduk di tepi ranjang lalu mencondongkan wajahnya menatap lebih dekat wanita yang begitu mengikat hatinya.
“Hmmmmm.”
Hana hanya mengangguk. Lalu mencoba duduk dari posisi tidur tersebut. Meski sudah lebih baik, Hana merasa masih begitu mual dan pening. Entahlah, ingatan itu seolah membuat hatinya bergejolak.
“Mau Humaira ambilkan minum?”
“Hmmmmm.”
Hana lagi-lagi hanya bergumam seraya mengangguk. Jemari kecil Humaira meraih gelas yang ada di atas nakas, lalu membantu Hana untuk meneguknya. Tak lama suara langkah kaki menghampiri.
“Kamu sudah sadar?”
Hana menoleh sesaat.
“Tu-an?”
Seketika Hana sadar bahwa dirinya tengah terhubung dengan selang infus. Kemudian mengitari penjuru ruangan yang begitu asing di mata. Aryan mendekat lalu berdiri tepat di sisi putri kecilnya.
“Tadi kamu tiba-tiba pingsan, jadi saya bawa kesini buat istirahat.”
“Terima kasih, Tu-an.”
“Saya ga suka dipanggil Tuan. Panggil saya Aryan.”
Humaira diam-diam tersenyum.
Hana membelalak. Ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu. Namun, sepertinya Aryan menginginkan keakraban dalam percakapan mereka. Seperti … berbicara informal.
“Tapi—”
Suara Aryan begitu lembut. Namun selalu tegas menyatakan ketidaksukaannya terhadap penolakan.
“Kalau kamu keberatan karena usia saya lebih jauh, kamu bisa panggil saya Abang.”
Humaira menutup bibirnya dan berusaha menahan tawa. Sementara Hana hanya bisa memandang dengan raut wajah penuh kebingungan.
“Saya harus segera pulang.”
Hana melihat jam tangan di pergelangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
‘Aku bahkan melewatkan dzuhur, ashar, dan maghrib. Bagaimana mungkin aku pingsan selama ini?’
Hana menarik selang infus dengan hati-hati. Lalu berusaha menginjak bumi.
“Boleh saya bantu?” tawa Aryan.
“Ga perlu tu—”
Hana seketika teringat akan ucapan Aryan sebelumnya.
“Sorry. Ga perlu, B-bang.”
Setelahnya Hana berdehem. Ia sama sekali tak memandang lawan bicara. Ia terus menunduk dan bergegas pergi.
“Bibi mau kemana?” tanya Humaira yang berusaha menahannya.
“Bibi harus segera pulang. Ada seseorang yang menunggu, Bibi.”
‘Benarkah suamimu menunggu, Hana?’
Humaira dan Aryan saling memandang. Tanpa diberitahu, Humaira bisa membaca situasi yang terjadi. Ia merupakan anak spesial yang diciptakan oleh Allah. Ia anak jenius dan bisa memaksimalkan kemampuannya untuk membaca pikiran orang lain.
“Ayah, apa kita harus antar, Bibi?” Humaira mendongak.
“Ga perlu, Humaira Sayang,” jawab Hana dengan cepat.
“Tapi kamu masih terlihat pucat.”
Aryan menelisik tajam wajah wanita di hadapannya.
“Ga apa-apa, saya baik-baik saja.”
Tanpa mengulur waktu, Hana berlalu.
“Assalamualaikum.”
Lagi-lagi Humaira dan Aryan saling menatap sebelum akhirnya sama-sama memandang punggung Hana yang berlalu, membiarkan wanita itu mengambil keputusan sendiri.
“Waalaikumussalam.”
***
Panti Karunia Suci.
“Jadi maksud kedatangan Axel kesini buat klarifikasi apa yang sudah terjadi, Bun.”
Di antara dua wanita paruh baya, Axel tertunduk dengan raut wajah sedih. Jemarinya saling bertaut.
“Kamu harus bisa tunjukkan bahwa Hana bukan perempuan baik-baik.”
Axel teringat ucapan sang ibu ketika ia tiba di rumah pukul lima sore tadi. Bahkan ia belum sempat berganti pakaian, Sovia lantas menariknya segera menuju kediaman Maryam. Mereka mencoba mengarang cerita dengan menunjukkan bukti foto bahwa Hana melakukan perselingkuhan, sehingga lebih mudah bagi Axel untuk menceraikan wanita tersebut.
“Foto-foto ini membuktikan kecurigaan Axel selama ini.”
Pria itu meletakkan beberapa lembar foto di hadapan Maryam. Sejak kedatangan Sovia dan Axel, ada rasa cemas yang bergejolak di hati wanita berhijab tersebut. Entah siapa yang harus ia percayai saat ini.
“Beberapa hari terakhir, Hana jarang mengantar bekal makan siang untukku. Dan—ia sering pulang malam diantar oleh mobil mewah.”
Maryam tersentak. Bola matanya membulat dan bibirnya menganga. Sovia yang tak bersuara seperti tengah bersorak dalam batinnya.
‘Hubungan perbesanan kita akan segera berakhir, perempuan udik.’
Sovia menyeringai.
“Dan ini surat permohonan perceraian Axel untuk Hana.”
“Astagfirullah, Nak Axel ….”
Maryam maju beberapa centi dari sofa yang ia duduki. Mendengar kata perceraian membuat Maryam syok. Pasalnya, ini bukan kali pertama ia dengar. Bahkan, ia pernah mendengar kata itu terucap dari bibir Hana.
“Bisakah pertimbangkan sekali lagi. Hana ga mungkin ….”
“Apanya yang ga mungkin? Foto ini sudah jelas. Lihat!”
Sovia tak bisa menahan kesabarannya. Ia menunjukkan foto saat Hana di rumah sakit, tengah bersama pria dan anak kecil yang tak diperlihatkan wajahnya. Lalu, saat berdiri di gerbang rumah Kartawijaya. Dan terakhir ketika ia dipapah oleh seorang pria yang juga tidak tersorot jelas wajahnya..
“Perempuan bersuami mana yang dengan senang hati dirangkul lelaki lain?”
“Mbak, tapi ….”
“Selama ini saya sudah bersabar, ya, Maryam. Hana ga pernah menunjukkan rasa hormatnya sama saya. Bahkan, dia berlaku seolah Nyonya besar di rumah Dewadaru. Lalu dia anggap apa saya ini?”
“Sebentar … tolong kasih saya waktu berpikir, Mbak. Hana ga mungkin ….”
“Bunda, apa harus tunggu Hana hamil lelaki lain baru saya boleh menceraikannya?”
Deg!
Maryam bungkam setelah kata-kata sarkas dari bibir Axel terlontar keras.
‘Cih! Hamil dari mana? Lah dia mandul, kok. Dasar anak polos!’
Monolog Sovia memandang putranya.
“Astagfirullahaladzim!”
Maryam merasa rongga nafasnya begitu sempit. Semua kabar yang Axel bawa membuatnya dalam posisi terhimpit.
“Axel kesini cuma mau bilang sama Bunda, kalau Axel akan kembalikan Hana setelah sidang perceraian kami disetujui majelis hakim.”
Maryam benar-benar membeku. Ia sama sekali tak bisa berkata-kata. Hana yang sejak tadi dihubungi tak kunjung mengangkat teleponnya. Maryam jadi semakin khawatir tentang ucapan Axel dan Sovia. Apakah benar?
“Kami pamit, Bunda.”
Sovia dan Axel berlalu tanpa mengucap salam. Keduanya telah berhasil membuat Maryam dalam kondisi bingung.
***
Dalam perjalanan menuju kediaman Dewadaru, dering ponsel Hana berbunyi.
“Bunda?”
Hana melihat layar tersebut menampilkan nama perempuan yang telah merawatnya selama di panti asuhan. Tak lama kemudian, Hana mengucapkan salam.
“Assalamualaikum, Bunda.”
“Waalaikumussalam. Kamu dimana, Nak?”
Terdengar suara pelan dan lemah dari seberang telepon tersebut.
“Eung itu … Hana lagi di jalan, Bun.”
“Dari mana malam-malam begini?”
Hana masih bergeming.
“Hana dari ….”
Hana terlihat ragu, haruskah ia jujur apa yang sudah terjadi? Tapi ia tak ingin Maryam mencemaskannya. Ia khawatir Maryam jatuh sakit karena mendengar kabar yang tidak seharusnya.
Disisi lain, di seberang telepon, Maryam menelan ludah. Apa tadi ucapan Hana? Lagi di jalan? Apalagi wanita itu tidak menyebutkan akan atau sedang pergi kemana. Ia pun semakin khawatir apa yang dikatakan Axel benar adanya.
“Sudahlah, tadi Axel telepon cari kamu.”
Hana mengernyitkan dahi. Axel? Mencari dirinya? Hana hanya tersenyum meski hati tak lagi peduli.
“Sebaiknya kamu langsung pulang, ya, Sayang.”
“Baik, Bunda. Terima kasih. Assalamualaikum.
“Waalaikumussalam.”
Dua puluh menit kemudian, Hana tiba di depan kediaman Dewadaru. Setelah membayar argo, Hana pun mencoba melangkah masuk.
“Assalamualaikum.”
Hana menutup kembali pintu dengan lemah sebelum matanya melihat kedua orang duduk menunggu di sofa.
“Mama, Mas ….”
“Kamu darimana aja?” tanya Sovia dengan nada ketus.
“Itu … aku …”
“Kamu benar-benar membuatku gila, Valerie!”
“Pelan-pelan, Sayang. Ah!”
“Rasanya aku mau gila, Valerie!”
“Yes! I know! Please, Babe!
Bayang percumbuan sang suami dengan sekretarisnya kembali terlintas membuat hati Hana semakin sakit. Apalagi, Axel yang tak ingin memandangnya. Wajah pria itu tertunduk dengan kerutan di kening.
‘Ya Allah.’
“Jawab?”
Sovia memekik.
“Ma,” lirih Hana.
“Cukup! Cepat kesini!” pinta Axel. Ia mencoba melerai perdebatan kedua wanita disana lalu meminta Hana duduk di hadapan mereka.
Hana lantas mengikis jarak. Wajahnya kian pias.
“Ada apa, Mas?” tanya Hana setelah berhasil mendaratkan bokongnya.
“Apa ini?”
Axel melempar foto-foto yang sempat ia tunjukkan pada Maryam. Hana begitu terkejut melihat potret dirinya bersama Aryan dan Humaira. Bagaimana bisa foto-foto ini ada di tangan Axel? Ia memandang silih berganti ke arah Sovia dan suaminya.
‘Kamu mencurigaiku, Mas?’
Hana merasa tak berdaya. Padahal, seharusnya ia menuntut sikap sang suami yang berlaku seperti sepasang suami istri dengan Valerie.
“Saya sudah muak, Hana! Kita ga pernah bahagia dengan pernikahan ini, ‘kan? Dan kamu cuma orang asing yang tiba-tiba datang ke keluarga Dewadaru lalu mengambil semua hak saya! Sekarang, Papa sudah ga ada … jadi ga ada alasan kamu ada disini.
“Jadi, tanda tangani ini!”
Suara dingin serta raut wajah mencekam tampak disana. Hana seolah melihat sisi lain dari di Axel yang tak pernah diketahui. Sementara, ekor matanya melihat Sovia tersenyum puas.
‘Games over, Hana!’
Sovia menyeringai.
Hana langsung meraih selembar kertas, bertuliskan surat permohonan perceraian. Lalu beralih ke lembar kedua, surat pengalihan saham.
“Mas?”
Hana membeku. Lidahnya seolah kelu. Jemari dan bibir bergetar menahan sesak yang teramat sangat. Bagaimana mungkin ini terjadi padanya? Ia memang berharap bisa berpisah dengan Axel. Namun, mengapa hatinya begitu sakit ketika permintaan itu langsung dari mulut sang suami?
'Ayah … apa yang harus Hana lakukan?’
“Cepat tanda tangan!” pekik Axel tak sabaran hingga membuat tubuh Hana berguncang.
***