Parasit!

1273 Kata
“Kita pulang sekarang, Tuan?” tanya Vito yang masih memarkirkan mobil mereka di depan lobi. “Nanti.” Aryan menatap punggung Hana yang sudah memasuki lobi utama. Gedung itu memang cukup besar. Meski tak sebesar perusahaan Kartawijaya Tbk, Dewadaru pun unggul di bidangnya sejak lima tahun terakhir di pimpin Axel. “Sejauh mana proses ekspansi bisnis kita dengan Dewadaru Group?” Vito melirik, memandang dari kaca spion. “Persentase mencapai delapan puluh persen. Ada sedikit kendala karena dari pihak mereka terus mengulur waktu.” “Karena?” “Persetujuan pemegang saham, baru memperoleh kesepakatan di angka lima puluh persen.” Aryan mencerna kata-kata Vito dengan seksama. “Ada salah seorang pemegang saham mayoritas yang belum memberikan suara,” timpal Vito. “Siapa?” “Tidak disebutkan, tapi saya curiga ….” Vito dan Aryan saling memandang dari balik kaca spion, tak lama kemudian ekor mata Aryan menyadari ada seorang wanita yang berlari dari pintu lobi menuju sudut tiang besar gedung tersebut. “Nona Hana?” Vito mengikuti arah pandang Aryan. Mereka melihat Hana bertumpu pada tiang besar lalu terisak pilu. “Ada apa dengannya?” Aryan membuka seat belt lalu menghampiri wanita disana. Langkah kaki yang semakin mendekat, membuat Aryan mendengar lebih jelas kepedihan yang Hana rasakan. “Kamu baik-baik saja?” Hana mendongak. Tangannya lepas dari tumpuan tiang lalu mencoba berdiri dengan tegak, namun lututnya terus bergetar hingga ia tak mampu menjaga keseimbangan. Aryan dengan sigap meraih siku wanita itu. Mengingat statusnya sebagai seorang istri, Hana paham bahwa tidak seharusnya ia bersama pria lain. Ia mengelak, menjauhkan sikunya dari genggaman tangan Aryan. “Saya hanya ingin membantu.” “Terima kasih. Tapi saya tidak butuh bantuan tuan.” Hana menghela nafas, mencoba meredam emosi dan sesak yang memenuhi rongga pernafasannya. Ia kembali berdiri walau terasa lemah. ‘Ya Allah, kenapa pening sekali.’ “Nona Hana, kamu benar baik-baik saja?” Hana mengangguk pelan meski keadaannya jauh dari kata baik-baik saja. Ketika kaki Hana mencoba menjauh, tubuhnya terasa ringan dan alhasil ia terjatuh. “Nona Hana!” Aryan lantas menahan tubuh wanita itu dari belakang, lalu membawanya menuju mobil. Dari kejauhan, seseorang tersenyum tipis ketika berhasil menangkap momen yang begitu dramatis. *** Satu jam kemudian …. Di kediaman Kartawijaya, tepatnya di kamar tamu, Humaira menangis dalam pelukan Laila. Ketika pertama kali sang ayah membawa wanita yang menarik perhatiannya terkulai lemah, Humaira merasakan sesak yang luar biasa. “Bibi … apa Bibi Hana akan baik-baik saja?” Anak itu bertanya sedangkan isak tangis terus terdengar dari bibirnya. “Tenang saja, Sayang. Bibi Hana hanya kelelahan saja.” Dokter pun beranjak dari tepi ranjang setelah memeriksa wanita tersebut. “Keadaanya lemah karena asupan energi yang masuk ke dalam tubuhnya kurang.” “Apa ada sesuatu yang serius?” “Ga ada, Tuan. Nona ini hanya kelelahan saja, ditambah asam lambung yang naik. Mungkin disebabkan karena stres.” Aryan mengangguk pelan. Pikirannya kembali melayang saat pertama kali Hana memergoki sang suami di rumah sakit. Sejak saat itu, Aryan begitu penasaran dengan kehidupan rumah tangga wanita tersebut. ‘Pasti ada yang ga beres. Apa saya salah kalau ikut campur, Hana?’ Aryan memandang wajah Hana dengan iba. Tubuh Hana yang kurus serta wajah tak berwarna membuat Aryan sedikit teringat pada almarhumah sang istri yang menderita saat mengandung Humaira hingga berujung merenggut nyawa. “Ini resep obat dan vitamin untuk Nona Hana.” “Baik, Dok.” “Dan Nona Hana baru boleh beraktivitas setelah infus habis, ya, Tuan.” “Hmmmm.” Aryan mengangguk. “Hiks … hiks ….” Di ujung kaki ranjang, Laila memeluk Humaira yang terus menangis. Setelah Dokter berlalu, Humaira berlari ke arah pria yang tengah berdiri di tepi ranjang berukuran king size. “Ayah, apa yang terjadi?” Aryan menoleh. Ia lantas berlutut serta memapah Humaira untuk duduk di sisi ranjang. “Bibi Hana hanya kelelahan saja. Biarkan Bibi Hana istirahat dulu, ya?” Humaira mengangguk. “Bi, tolong ajak Humaira ke kamarnya.” “Baik, Tuan.” Laila melangkah lalu membawa Humaira dalam gendongannya. “Kita ke kamar dulu, ya.” Sepeninggalan Humaira dan Laila, Aryan memandang wajah Hana yang begitu lemah. Tak lama kemudian, Vito datang setelah mengantarkan dokter hingga depan. “Apa yang harus dilakukan?” tanya Vito. “Belum ada. Biarkan dia istirahat.” “Baik.” Aryan hampir beranjak pergi. Namun, ia merasa tak tenang. “Tolong cari tahu tentang Axel Dewadaru dan sekretarisnya itu.” Vito mengernyitkan dahi. Menurutnya, tindakan Aryan terlalu jauh jika hanya ingin menjadikan Hana sebagai guru Humaira. “Oh! Baik.” Vito mengedikkan bahu, sementara Aryan berlalu. “Kita harus kembali ke kantor.” Sambil melangkah, Aryan menyadarkan lamunan Vito. “Siap, Tuan.” *** Setelah menghabiskan waktu bersama kekasih gelapnya, Axel termangu melihat rantang yang tergeletak di dekat pintu ruangan. “Apa kamu melihat orang masuk?” tanya Axel pada Valerie yang tengah mengenakan celana dalam lalu menggulung rambutnya ke atas. “Ga lihat.” Valerie bingung. Ia lantas memandang ke arah yang sama tepat sorot mata pria itu menatap. “Astaga!” Valerie menutup mulutnya. “Kamu tadi kunci ruangan ga?” tanya Valerie. “Aku ga yakin,” jawab Axel datar. Ia mengancingkan satu per satu baju yang compang camping. “Apa mungkin ….” “Hana?” tegas Axel. “Hmmmm, Mbak Hana.” “Kalau memang dia, bukannya bagus. Jadi, aku ga usah repot-repot usir dia dari rumah.” “Babe ….” Valerie mendayu-dayu serta bergelayut manja di bahu Axel. Dua anak manusia yang tak memiliki hati nurani itu jelas membuat siapapun yang melihat ingin sekali memaki. “Kalau begitu buang rantangan tersebut dan kembali bekerja.” “Baik, Babe.” Valerie melangkah sambil tersenyum bahagia. Ia telah membayangkan kehidupannya ketika nanti menjadi seorang istri pengusaha besar. Meski dengan cara menggoda pria beristri, Valerie tak sungkan melakukannya. Impian Valerie sejak dulu adalah menjadi istri pengusaha dan menguasai hartanya. ‘Sabar, Valerie. Sebentar lagi kamu akan dihormati oleh banyak orang. Dan kamu adalah Nyonya besar yang sesungguhnya.’ Valerie menyeringai puas seraya mengambil rantangan tersebut. Tak lama setelah Valerie keluar. Sang asisten, Ivan datang menghampiri. “Tuan, ada berkas dari Nyonya Sovia.” Ivan menaruh amplop coklat berukuran A4 di atas meja. “Apa ini?” “Maaf, Tuan. Saya kurang tahu, karena Nyonya hanya minta untuk Tuan segera melihatnya.” “Baiklah.” Axel membuka gulungan tali dari map tersebut lalu menarik beberapa kertas yang ada di dalam. Saat ia menarik kertas tersebut ada beberapa lembar foto yang jatuh. “Hana?” Ivan bergeming, ia tak ikut campur dengan urusan ibu dan anak tersebut. Disaat berikutnya, ponsel berdering. Axel melihat ada panggilan masuk dari sang ibu. Axel memandang Ivan untuk sesaat, mengerti arti tatapan itu, Ivan pun melangkah mundur. Ia meninggalkan Axel sendiri. “Halo, Ma.” “Halo, Sayang. Kamu sudah terima berkas dari Mama?” “Iya. Apa maksudnya ini, Ma?” “Itu berkas surat permohonan perceraian kamu dan bukti perselingkuhan Hana.” “Selingkuh?” “Ya, anggap saja seperti itu. Jadi lebih mudah kamu menceraikan dia.” “Hmmmm, baiklah.” “Tanda tangani sekarang juga lalu minta Ivan untuk mengantarkannya sore ini.” “Tapi, Ma. Soal saham mayoritas ….” Axel menghentikan ucapannya. “Gampang! Itu nanti Mama atur. Jangan tunda lagi! Perempuan itu harus segera pergi dari rumah Dewadaru.” Axel menghela nafas. Ia hanya bisa menuruti permintaan sang ibu. Toh, saat sang ayah masih hidup, Axel tak pernah diperlakukan dengan baik. Setelah meninggal pun, Axel masih harus berjuang mendapatkan apa yang sudah seharusnya jadi miliknya. ‘Ini bukan salah gue, Hana. Semua ini karena lo sama bokap lo yang cuma bisa jadi parasit di keluarga gue.’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN