Bab 4. Berharap Segera Bebas

1399 Kata
Adrian menghela napas panjang, tatapan tajamnya meredup saat mendengar pertanyaan Aira. Nada suara perempuan itu dipenuhi kegundahan. Namun, dia tetap menunggu jawaban darinya. "Kakek memang selalu begitu," gumam Adrian pelan, lalu menyandarkan tubuh pada sandaran sofa. "Kalau kakek ingin begitu maka harus dilakukan, bahkan aku tidak bisa menentangnya. Jika sampai itu terjadi bisa berimbas fatal untuk posisiku di perusahaan. Dia tidak akan segan menyingkirkan siapa pun yang menentangnya, tak peduli keluarga sendiri." Aira menggigit bibir bawahnya. Ancaman Nadine kemarin masih terngiang jelas di telinga. Belum hilang kegundahannya, kini justru Pratama memintanya hamil dalam waktu satu bulan atau pergi. Seakan dirinya ini tidak lebih dari sebuah alat yang harus segera berfungsi, jika tidak berfungsi akan dibuang begitu saja. "Jadi … apa itu juga termasuk perintah yang harus aku penuhi?" tanya Aira lagi, suaranya sedikit bergetar. Adrian menatapnya dengan intens. "Kontrak kita sudah jelas, Aira! Anggap saja ini resiko yang harus kamu tanggung." Aira tertawa hambar menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Saya seperti barang dagangan, ya, Tuan?" Adrian terdiam, ada perasaan tak nyaman di hati mendengar perkataan itu. Sebelum memutuskan untuk memanfaatkan Aira, dia berpikir semuanya akan berjalan sesuai rencana—pernikahan kontrak, anak, dan perpisahan tanpa drama. Akan tetapi, entah mengapa sekarang semuanya terasa lebih rumit. Aira mengambil napas panjang. Dia telah mengambil keputusan. Wanita itu bangkit dari tempatnya lalu menatap berani suaminya, berusaha menyembunyikan keraguan yang menggelayuti pikiran. "Baiklah, Tuan. Karena Anda menyinggung kontrak kita, saya akan memanfaatkan keinginan tuan besar." Adrian menatap sang istri dengan kening berkerut. "Maksudmu?" "Di dalam kontrak, Anda tidak menuliskan mengenai tenggat waktu kapan saya harus hamil. Jika saya tidak hamil dalam waktu sebulan, maka saya akan pergi, tidak hanya dari pernikahan, tapi juga pekerjaan saya. Saya bersedia dipecat tanpa pesangon demi mengganti uang yang telah Anda keluarkan untuk saya." Aira berucap dengan tatapan lurus ke depan. Meski air mata memaksa untuk merebak keluar, tapi dia berusaha menahannya. Dia tidak ingin menunjukkan sisi lemahnya di depan pria itu. Adrian mengepalkan tangannya. "Jadi, kamu benar-benar siap meninggalkan semuanya?" "Memangnya saya punya pilihan lain?" Aira tersenyum miris. "Aku hanya wanita penyewa rahim. Aku bukan wanita yang Anda cintai, Tuan. Pernikahan ini hanya kontrak, lebih cepat mengakhiri kontrak kita, lebih sedikit pula kerugian saya dapatkan." Setelah mengatakan itu, Aira segera berlalu ke kamar tanpa menunggu tanggapan. Ada rasa hampa di hati setelah mengatakan itu. Pernikahan ini hanya sementara, tetapi luka yang ditinggalkan akan bertahan jauh lebih lama dari yang ia kira. Adrian masih terdiam di tempatnya, menatap punggung Aira yang menghilang di balik pintu. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi lidahnya terasa kelu. Untuk pertama kalinya, dia merasa takut kehilangan. Perasaan yang jauh lebih besar daripada takut kehilangan Nadine ketika sang kakek memintanya untuk menceraikan wanita itu. "Perasaan macam apa ini? Kenapa aku tidak rela? Apa karena aku akan kehilangan rahim sewaanku?" *** Aira menyandarkan tubuhnya pada pintu yang tertutup, air mata mengalir membasahi pipi begitu saja. Dia merasa menyesal telah memilih jalan pintas ini, tapi jika tidak memilih jalan ini mungkin nyawa ibunya sudah melayang akibat cedera kepala yang dialaminya, dan lagi rumah yang menjadi tempat tinggal satu-satunya sudah disita oleh rentenir demi menutup hutang almarhum ayahnya. "Ngapain nangis, Ai? Nyesel? Jalan yang kamu pilih ini sudah tepat! Nyawa ibumu terselamatkan berkat kontrak sewa rahim itu. Ya, meskipun sekarang ... harga dirimu jadi taruhan." Wanita itu berusaha menasehati diri sendiri agar tidak terlalu menyesali keputusannya. Setelah bersedia menandatangani kontrak, Adrian memberinya sejumlah uang untuk biaya operasi ibunya, dan kemarin Amanda memberinya kabar melalui pesan singkat jika operasi Ratih telah berhasil. Setelah operasi, kondisi Ratih juga terus menunjukkan hasil yang positif, meski belum sadar. Dia terduduk di lantai dengan keadaan memeluk lutut dan posisi masih bersandar pada pintu, membiarkan tangisnya tumpah begitu saja dengan isak tangis yang memenuhi kamar. Dadanya terasa sesak saat mengingat dirinya diperlakukan layaknya wanita hina oleh keluarga besar Pratama. Wanita itu terus meyakinkan diri bahwa ini adalah konsekuensi yang harus ia jalani. Kini, dia hanya bisa berharap dalam 30 hari ke depan tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya, sehingga bisa meninggalkan kontrak ini secepatnya. Dering ponsel memecah kesunyian kamar itu. Aira mendongak berusaha mencari asal suara, itu adalah suara ponselnya yang berada di dalam tas kecil yang dibawanya semalam. Dia segera bangkit mencari tasnya yang ternyata tergeletak di atas sofa. Dengan buru-buru, dia segera mengambil tas hitam tersebut, lalu mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya nama Amanda menghiasi layar. Dia teringat sesuatu ... malam itu, selain berpamitan Aira juga mengurus biaya administrasi perawatan dan operasi ibunya. Sebelum pulang, dia sempat berpesan pada adiknya jika terjadi sesuatu pada Ratih agar segera menghubunginya. Tak ingin terlalu lama membiarkan ponselnya berdering, Aira segera mengangkat panggilan tersebut untuk menanyakan keadaan sang ibu. "Halo, Nda ... ada apa? Gimana keadaan ibu?" tanyanya dengan suara serak. "Kak Aira lagi nangis? Kok serak gitu suaranya," balas Amanda. Aira terkesiap menyadari keadaannya. Buru-buru, dia menjauhkan ponselnya lalu berdehem pelan agar suara seraknya hilang. "Ah, enggak ... kakak lagi flu aja," jawabnya beralibi, "Oh, iya, ibu gimana?" "Kak, ibu udah sadar nyariin kakak terus. Padahal aku udah bilangin kalau kakak dipindah tugas ke luar kota, tapi ibu ngotot pengen ketemu sampai gak mau minum obat." Aira termenung mendengar penuturan adiknya. "Ibu gak bisa dibujuk sama semua orang yang ada di sini, sama aku ataupun suster bahkan dokter pun nyerah membujuk ibu. Please, kakak ke sini, ya ... tengokin ibu. Aku bingung banget. Keadaan ibu masih lemah harus minum obat biar cepat pulih." Amanda berucap penuh permohonan. Akan tetapi, Aira masih tetap setia dengan kebungkamannya tidak tahu harus menjawab apa. Satu yang pasti, dia harus ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Masalah diizinkan atau tidak oleh Adrian, bisa dipikirkan nanti. "Oke-oke, kakak akan segera ke sana. Bilangin ke ibu hari ini kakak bakal dateng." "Serius, Kak?" tanya Manda dengan antusias. "Duarius. Kakak siap-siap dulu." Panggilan terputus sepihak. Tanpa menunggu lama, Aira segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah itu lekas bersiap ke rumah sakit. Barangkali, setelah bertemu ibunya kegundahan dalam hatinya bisa terobati. *** "Mau kemana kamu?" tanya Adrian ketika Aira baru membuka pintu kamar. Pria itu memperhatikan penampilan Aira dari ujung kepala hingga ujung kaki yang tampak rapi. Wanita itu menatap sang suami dengan kening berkerut mencoba menerka-nerka sejak kapan Adrian ada di sana. "Tuan, ngapain di sini?" "Nungguin kamu keluar kamar, saya mau masuk tapi pintunya dikunci dari dalam," sahut Adrian dengan kesal. Aira hanya menunjukkan deretan gigi putihnya sembari mengucapkan kata "maaf" tanpa suara. "Kamu mau kemana kok dandan serapi ini?" tanya Adrian lagi dengan kekesalan masih tergambar jelas di wajahnya. "Mumpung weekend, saya mau izin ke rumah sakit. Ibu saya sudah sadar habis dioperasi kemarin, jadi saya mau melihat keadaannya." "Gak bisa! Tanpa seizinku ... kamu gak boleh kemana-mana hari ini!" Aira meremas erat selempang tas miliknya, menatap Adrian penuh kekesalan. "Tapi, Tuan ... ibu pengen ketemu saya sampai gak mau minum obat. Saya harus ke sana buat bujuk dia." Kali ini, dia memberanikan diri untuk protes. Dia tidak mau terus-menerus ditindas oleh Adrian ataupun keluarganya. "Kamu lupa dengan–" "Kontrak kita! Itu 'kan yang mau Anda katakan? Saya masih ingat, Tuan ... saya gak berniat melanggar. Tapi demi ibu, saya akan melanggar perintah Anda." Aira memotong cepat ucapan pria itu disertai tatapan tajamnya. "Berani melawan kamu, ya?" Adrian segera mencekal lengan Aira, lalu menyeret wanita itu masuk ke kamar. "Tuan, lepaskan saya! Saya cuma mau memjenguk ibu bukan mau selingkuh!" Aira berteriak seraya meronta meminta dilepaskan. Akan tetapi, Adrian seolah tuli. Dia tidak ingin Aira pergi tanpa pengawasan darinya. Dia juga tidak suka melihat perlawanan wanita itu. Dia sangat membenci seseorang yang membatah perintahnya, sekalipun itu istrinya sendiri. Karena terlalu kesal, Adrian langsung menghempaskan kasar tubuh wanita itu ke atas ranjang dan segera menindihnya. "Tu-tuan, m-mau apa?" tanya Aira panik. Dia berusaha mendorong tubuh kekar itu, tapi Adrian sama sekali tak bergeser sedikitpun. "Memberimu hukuman karena telah berani melawanku." Pria itu segera mengecup leher jenjang sang istri, menyesapnya kuat hingga menimbulkan bekas kemerahan. Tidak hanya satu, Adrian juga membuat beberapa tanda hingga mengelilingi leher putih itu. Aroma vanilla dari tubuh wanita itu berhasil membuatnya kecanduan. Aroma itu juga berhasil membangkitkan sesuatu yang lain dalam dirinya. Aora sempat terhanyut oleh perlakuan Adrian. Namun, dia segera menyadarkan diri. Kondisi ibunya lebih penting dari apapun untuk saat ini. "Tuan, saya bersedia menerima hukuman apapun dari Anda. Asalkan saya diizinkan menjeguk ibu." Adrian menghentikan kegiatannya, lalu menatap lekat sepasang manik hitam itu. "Baik, aku izinkan. Kita pergi bersama. Sepertinya aku perlu mengenal mertuaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN