Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat canggung. Aira lebih banyak diam, memilih menatap ke luar jendela, sementara Adrian tampak santai mengemudi dengan sesekali melirik ke arahnya.
"Kira-kira akan seperti apa reaksi ibumu saat tahu kalau putrinya sudah menikah saat kondisinya kritis?" tanya Adrian tiba-tiba.
Aira sontak menoleh dengan kekesalan tergambar jelas di wajahnya. "Mereka hanya tahu saya dipindahkan ke luar kota, tidak lebih!"
Adrian memiringkan senyum. "Sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga."
Aira mengepalkan tangan di atas paha mendengar sindiran itu. Adrian benar-benar sedang menguji kesabarannya. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menahan amarah. Terlebih saat melihat senyum yang ditunjukkan Adrian, yang terkesan mengejek.
Setibanya di rumah sakit, Aira segera turun dari mobil, berjalan cepat meninggalkan Adrian begitu saja, dengan harapan pria itu akan kehilangan jejaknya. Namun, sepertinya keberuntungan belum berpihak kepadanya. Ketika baru memasuki lobby, tiba-tiba tangannya dicekal dan digenggam erat oleh pria itu.
"Buru-buru amat, mau kabur?"
Aira berusaha meronta, disertai tatapan kesalnya. Dia berusaha melepaskan cekalan tangan itu, tetapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga suaminya.
"Apa kamu gak mau aku mengenal keluargamu, Aira? Bagaimanapun juga ibumu juga harus tahu kalau dia sudah punya menantu."
Aira menghentikan usahanya, lalu menatap tajam pria itu. "Saya harap Anda tahu batasan, Tuan! Pernikahan ini hanyalah kontrak. Jadi, perkenalan keluarga tidak perlu!"
Adrian mengetatkan rahang merasa marah mendengar perkataan itu. Entah kenapa timbul perasaan tidak terima dalam hatinya, meski yang dikatakan Aira adalah sebuah kebenaran.
Tanpa banyak kata, pria itu segera menyeret tangan sang istri menuju lift yang akan membawa mereka ke ruang perawatan Ratih yang terletak di lantai tiga. Tidak heran jika Adrian sudah mengetahui letak ruang perawatan ibu mertuanya karena telah diberitahu Leo.
Namun, sayang ketika baru sampai di lantai dua, lift harus berhenti karena ada beberapa orang yang akan masuk, dan salah satu di antara orang tersebut adalah Nadine.
Baik Adrian maupun Aira sangat terkejut melihat keberadaan Nadine karena posisi mereka berada tepat di depan pintu lift. Raut yang sama juga ditunjukkan oleh Nadine. Dia menatap marah pada tangan Adrian yang tengah menggenggam tangan Aira.
Aira yang menyadari tatapan itu pun segera melepas paksa tangannya yang sejak tadi berada dalam kuasa Adrian. Wanita itu pun memilih mundur satu langkah memberi ruang pada Nadine agar bisa sejajar dengan suaminya.
"Nadine, sedang apa kamu di sini?" tanya Adrian berusaha memecah kecanggungan.
"Ini pertama kalinya kamu lupa, kalau hari ini adalah jadwal aku check up. Pantas sih lupa, 'kan punya istri baru." Nadine berucap santai dengan nada yang cukup lantang, sehingga bisa didengar oleh semua orang yang ada di dalam lift tersebut.
Beberapa orang yang didominasi kaum ibu-ibu seketika menatap ke arah Aira. Aira yang sedang menjadi pusat perhatian pun memilih menundukkan kepala, sungguh dia tidak nyaman dengan semua tatapan yang terkesan mengintimidasi itu. Kini, dia hanya bisa berharap jika lift segera berhenti di lantai tiga agar dia bisa segera keluar dari kotak sempit nan menyesakkan itu.
"Nadine, apa yang kamu katakan? Aku benar-benar lupa," bisik Adrian seraya menggenggam erat tangan istri pertamanya. Namun, Nadine segera melepas paksa genggaman tangan itu.
"Buat ibu-ibu yang suaminya kerja kantoran dan punya sekretaris, harap hati-hati! Karena yang menjadi istri muda suami saya adalah sekretarisnya sendiri. Bawahan sekarang nekat-nekat, Ibu-ibu. Demi uang rela menggoda bosnya sendiri, gak peduli bosnya itu udah punya istri atau belum." Seolah tak memikirkan perasaan Aira, Nadine terus melancarkan ucapan bermaksud untuk menyerang Aira.
"Nadine, hentikan!" bisik Adrian dengan geram, tetapi Nadine hanya menganggap peringatan sebagai angin lalu.
Sontak beberapa orang di dalam lift tersebut saling berbisik satu sama lain, seraya melayangkan tatapan hina ke arah Aira. Tidak banyak yang bisa Aira lakukan, selain meremas erat tali selempang tas miliknya. Sekumpulan kristal bening memaksa merebak keluar, tetapi sekuat tenaga dia tahan. Dia tidak ingin menangis di sana, yang berujung dikira mencari perhatian.
Suara dentingan lift seakan menjadi penyelamat untuk wanita itu. Setelah pintu terbuka, dia bergegas keluar tanpa memedulikan apapun lagi, bahkan teriakan panggilan Adrian pun dia abaikan.
Adrian yang hendak mengejar kepergian Aira pun segera ditahan oleh Nadine. "Sana kejar istri mudamu itu, gak usah peduliin aku yang sakit."
Pria itu terpaksa mengurungkan niat mengejar Aira, memilih menemani Nadine turun ke lobby. Dia berusaha keras menahan amarah yang bergejolak dalam d**a. Sepertinya, dia harus menyelesaikan urusan dengan istri pertamanya dulu.
***
Aira menghentikan langkah tak jauh dari lift, lalu menyandarkan tubuhnya ke dinding. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahan, kini tumpah ruah membasahi pipi wanita itu, diiringi suara sesenggukan yang sesekali terdengar di bibirnya.
"Kuat, Ai, kuat! Setiap pilihan pasti punya resiko. Ini konsekuensi yang harus ditanggung," gumamnya berusaha menyemangati diri.
Kontraknya dengan Adrian baru satu hari berjalan, tetapi kenapa rasanya seperti satu tahun. Jika seperti ini terus apa dirinya akan sanggup menjalani pernikahan yang seperti neraka ini?
Seandainya, punya cukup uang untuk mengganti uang Adrian, dia akan memilih untuk lepas. Kini, harapannya hanya satu. Dalam satu bulan ke depan tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya. Dengan begitu, dia bisa terlepas dari jerat kontrak ini.
Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Aira segera menghapus sisa air matanya. Dia segera melanjutkan langkah menuju ruang perawatan sang ibu. Tujuannya kemari adalah menemui ibunya, bukan hal lain. Perkara omongan Nadine tadi, tidak perlu dia pikirkan. Wanita itu hanya belum bisa menerima kenyataan jika suaminya sudah menikah lagi.
Tak butuh waktu lama, Aira telah sampai di depan pintu bertuliskan "Ruang Mawar 1". Sebelum membuka pintu, dia tampak menghela napas beberapa kali, juga bercermin pada ponsel yang gelap untuk memastikan jika sisa tangisnya telah hilang. Jangan sampai adik ataupun ibunya menyadari keadaannya.
Setelah memastikan semua aman, dia segera bersiap untuk membuka pintu tanpa mengetuknya.
Begitu pintu terbuka, Aira langsung disambut tatapan lemah dari wanita yang terbaring di ranjang.
"Aira..." suara Ratih terdengar serak diiringi mata yang berkaca-kaca.
Tatapan mata Aira terpaku pada satu titik, yakni ibunya. Dia tersenyum, dan segera mendekat, menggenggam tangan ibunya dengan erat.
"Bu, aku datang ...."
Ratih tak dapat menahan tangisnya. Tanpa banyak bicara, dia segera memeluk putri sulungnya dan mendekapnya dengan erat.
"Ai, maafin ibu ... ibu ceroboh! Ibu nambahin beban buat kamu," ucap wanita itu disela tangisnya.
Aira segera melerai dekapan ibunya, lalu menggeleng pelan dengan tangan menyeka air mata ibunya.
"Enggak, ibu bukan beban buat Ai. Jangan ngomong gitu lagi! Ai gak suka."
Ratih mengulas senyum lembut, dengan tangan mengusap lembut surai panjang putrinya.
Aira mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, tidak ada orang di dalam sana, kecuali ibunya.
"Manda kemana, Bu?"
"Dia ke kantin beli makan siang. Biarin dia jalan-jalan! Dia pasti jenuh jaga ibu terus. Jangan marahin dia!"
Aira mengangguk pelan. Tanpa sengaja tatapannya teralih ke arah nakas yang berada tepat di samping ranjang ibunya. Dilihatnya, makanan rumah sakit masih utuh, juga ada beberapa obat. Selain makanan rumah sakit, terdapat beberapa bungkus makanan yang entah apa isinya.
"Ibu udah makan?"
Ratih menggeleng pelan.
"Kenapa gak makan? Ibu gak mau sembuh?"
"Bukan begitu, Ai ... gak tau kenapa setelah sadar, perasaan ibu gak tenang, mikirin kamu terus. Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu, terlebih saat tahu kamu dipindahkan ke luar kota. Makanya ibu ngotot pengen ketemu sama kamu."
Aira tertegun mendengar perkataan ibunya. Mungkinkah ini yang dinamakan ikatan batin? Ibunya turut merasakan kegundahan yang dirasakannya.
"Kamu baik-baik aja, 'kan?" Genggaman tangan Ratih berhasil menyadarkan lamunannya.
"Ai, baik-baik aja, kok, Bu." Aira membalas genggaman tangan itu disertai seulas senyum paksa. "Ibu, jangan banyak pikiran, ya ... biar cepet sembuh. Mending sekarang ibu makan terus minum obat. Aku suapin!"
Ratih tampak mengangguk dengan antusias.
Aira dengan sabar menyuapi ibunya. Meski wajah Ratih tampak pucat, tetapi senyuman hangat tergambar di wajahnya ketika mengetahui putri sulungnya dalam keadaan baik-baik saja.
“Pelan-pelan, Bu,” ujar Aira dengan lembut disela suapannya.
“Ai, terima kasih udah meluangkan waktu jenguk ibu. Kata Manda kamu selalu sibuk sejak pindah ke luar kota sampai gak sempet telpon."
Aira menyunggingkan senyum paksa, disertai anggukan pelan. Rasa bersalah menghantam diri saat tanpa sengaja mengabaikan keadaan ibunya.
"Ini udah jadi kewajiban Aira buat ngerawat ibu. Ibu gak perlu ngerasa sungkan begitu. Yang Ai lakuin ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan ibu untuk kami."
Ratih kembali mengulas senyum, dalam hati berulang kali mengucap syukur karena telah diberi kedua putri yang baik dan berbakti.
"Kamu jaga diri baik-baik selama jauh dari ibu. Ingat, jaga hartamu yang paling berharga! Meskipun kita miskin, seenggaknya masih punya kehormatan."
Aira menegang di tempat. Perasaannya tiba-tiba menjadi tak menentu. Nasehat itu sudah berulang kali dia dengar, tetapi kali ini ada perasaan berbeda saat mendengarnya. Dia menatap sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Entah bagaimana reaksi sang ibu saat mengetahui jika putrinya kini telah kehilangan kehormatan demi uang.
"Loh, kok, nangis? Apa ucapan ibu menyinggungmu, Ai?" tanya Ratih seraya mengusap air mata yang membasahi pipi putrinya.
"Ah, enggak, kok, Bu. Aku cuma sedih lihat keadaan ibu yang kayak begini. Wajah ibu pucat dan tubuh makin kurus," jawabnya beralibi, "Aku mau ibu sembuh ... jangan sakit lagi."
Ratih segera menarik sang putri dalam dekapannya. "Iya, ibu janji akan segera sembuh. Sekarang, ibu udah tenang melihat kamu baik-baik saja."
Wanita paruh baya itu melerai dekapannya, lalu menatap sang putri dengan tatapan teduhnya.
"Ingat pesan ibu, ya, Ai. Jaga kehormatan! Kehormatan merupakan harta tak ternilai bagi seorang wanita."
Aira hanya bisa mengangguk dengan air mata yang semakin deras membasahi pipi.
"Maafin Ai, Bu ... Ai udah menghancurkan kepercayaan ibu."
"Kak Ai, kapan datang?" Suara riang Amanda memecah keharuan di dalam ruangan itu.
Aira segera menghapus sisa air matanya, lalu menunjukkan senyum manisnya di depan sang adik.
"Barusan, belum ada setengah jam. Kamu dari mana?"
"Makan," jawab gadis itu seraya menunjukkan deretan gigi putihnya. "Oh, ya, mumpung Kak Ai ada disini, aku mau mempertemukan kakak dengan seseorang. Coba deh Kak Ai tebak, aku ketemu siapa?"
"Siapa?" tanya Aira dengan kening berkerut, lalu mengalihkan tatapan ke arah sang ibu meminta petunjuk. Namun, Ratih justru mengangkat kedua pundaknya sebagai tanda tidak tahu.
"Bentar lagi bakal ke sini kok."
Beberapa menit berselang, pintu ruangan tampak terbuka menampilkan sosok pria yang sangat familiar untuk Aira.
Aira seketika menegang melihat kedatangan pria itu.
"Alex ...."