Bab 6. Pengakuan Adrian.

1045 Kata
"Aku malu dengan sikapmu saat di lift tadi," ucap Adrian ketika baru keluar dari lobby rumah sakit. Nadine yang semula tampak berjalan dengan santai, seketika menghentikan langkahnya, lalu menatap lekat suaminya. "Kamu belain dia?" Nadine terkekeh pelan disertai senyum sinisnya. "Baru sehari menikah, tapi sikapmu udah berubah." Adrian sontak menatap tajam istrinya. Sungguh, dia muak dengan sikap Nadine yang seperti ini. "Aku gak merasa berubah. Aku cuma mengutarakan pendapat kalau sikap kamu di lift tadi emang gak pantas. Norak!" Pria itu tampak menghela napas panjang berusaha menetralisir amarah dalam dirinya. "Aku rasa bukan aku yang berubah, tapi kamu." Wanita itu bukannya sadar akan kesalahan justru menyilangkan tangan dengan angkuh. "Aku berubah karena kamu, Dri. Kamu tiba-tiba menikah dengan sekretaris kamu, tanpa persetujuanku. Wanita mana yang rela dipoligami, Dri? Bukan cuma aku, perempuan lain pasti akan melakukan hal yang sama saat tahu suami mereka berkhianat," ucapnya seraya menahan sesak dalam d**a. Sungguh, dia benar-benar tidak bisa menerima pernikahan kedua suaminya, meski pernikahan itu terjadi karena sebuah alasan, yakni demi mendapat keturunan. "Din, kamu 'kan tau sendiri aku ngelakuin itu karena punya alasan kuat. Harusnya kamu ngertiin aku dong ... jangan nyalahin aku terus." Adrian yang terlanjur kesal pun ikut tersulut emosi. Nadine hanya mendengus pelan. "Ngertiin kamu?" Wanita itu tertawa sinis. "Jadi, menurutmu, aku harus legowo saat suamiku berbagi tempat tidur dengan wanita lain? Aku harus pura-pura gak sakit hati hanya karena alasanmu yang ingin punya keturunan?" Adrian mengusap kasar wajahnya, tidak tahu lagi bagaimana memberi pengertian pada istrinya. "Aku gak pernah bermaksud nyakitin kamu, Din. Aku cuma—" "Kamu cuma egois, Adrian!" potong Nadine cepat. "Kenapa gak cari solusi lain? Kenapa harus menikah lagi? Kamu tahu sendiri 'kan, gimana perjuangan aku untuk sembuh selama ini." Suaranya mulai bergetar, menahan gejolak perasaan yang selama ini dipendam. Tepat tiga tahun yang lalu, Nadine divonis mengalami Endometriosis yang membuat dirinya kesulitan untuk hamil. Selama itu pula, dia telah mencoba berbagai cara untuk menyembuhkan penyakitnya, mulai dari pola makan sehat, terapi hormon, hingga berbagai pengobatan tradisional. Namun, hingga kini semua itu belum membuahkan hasil. Dia masih harus menjalani pengobatan lebih lanjut karena Endometriosis di dalam tubuhnya telah memasuki stadium lanjut, bahkan dokter akan mengambil tindakan Histerektomi (pengangkatan rahim) dalam beberapa bulan ke depan, bila kondisi Nadine tidak mengalami perubahan yang positif. "Kamu pikir cuma kamu doang yang pengen punya anak? Aku juga pengen, Dri! Terlebih aku seorang wanita. Aku juga pengen jadi wanita yang sempurna, yang bisa melahirkan anak dari rahimku sendiri." Nadine berucap dengan mata berkaca-kaca, menatap sang suami dengan sorot penuh kekecewaan. "Harusnya kamu hargai perjuangan aku selama ini, dengan cara sabar menunggu sampai aku benar-benar sembuh," pungkas wanita itu seraya mengusap setetes air mata yang membasahi pipinya. "Sampai kapan? Sampai posisiku di perusahaan digantikan oleh sepupuku yang licik itu? Kamu tau sendiri 'kan kakek hanya memberiku waktu satu tahun untuk mendapat keturunan. Apa kamu bisa menjamin dalam waktu satu tahun ke depan kamu akan sembuh? Atau kalau gak, seenggaknya kamu hamil dalam waktu setahun ini." Nadine seketika terbungkam tidak tau harus menjawab apa karena dirinya sendiri tidak bisa menjamin hal itu. Buktinya selama tiga tahun menjalani pengobatan, belum ada hasil memuaskan yang didapat. Adrian menghela napas panjang, mencoba menetralisir amarah dalam dirinya. Tidak seharusnya, dia berkata kasar seperti itu pada istrinya. "Percayalah, Din. Aku mengambil keputusan karena terpaksa. Aku gak punya pilihan lain," ucapnya seraya memegang kedua pundak istrinya. Nadine tertawa pahit seraya menyingkirkan kedua tangan sang suami. "Pilihan? Kamu bahkan gak pernah berdiskusi sama aku, bisa-bisanya membahas pilihan! Kamu ambil keputusan sepihak, lalu berharap aku menerima semuanya begitu aja?" Matanya mulai memerah, tapi dia menolak menangis di depan pria yang telah mengkhianatinya. Adrian terdiam membenarkan ucapan Nadine. Dia menyadari kesalahannya karena telah mengambil keputusan sepihak tanpa memberitahu istrinya. "Sudahlah, Dri ... aku capek! Jangan temui aku dulu! Bersenang-senanglah dengan istri barumu." Setelah mengatakan itu, Nadine berlalu begitu saja membawa luka yang tertoreh di hatinya. Air mata mengalir deras membasahi pipi, tetapi dia segera menghapusnya. Untuk menangis pun percuma, tidak akan bisa mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Sementara Adrian hanya bisa menatap kepergian sang istri yang semakin menjauh. Ingin rasanya, dia mengejar, lalu memeluknya dari belakang sembari mengucap maaf berkali-kali. Akan tetapi, keinginan itu berusaha ditahan karena tahu emosi Nadine sedang tidak stabil. Pria itu pun memutuskan kembali ke rumah sakit untuk menemui istri keduanya. *** Kini, Adrian telah sampai di ruang perawatan ibu mertuanya. Ruangan itu termasuk salah satu dari jajaran ruang VIP karena memang Adrian menginginkan perawatan yang terbaik. Ketika baru membuka membuka pintu, dia bisa mendengar jelas gelak tawa yang ada di dalam sana, salah satunya suara Aira yang terdengar riang saat bercanda dengan adiknya, terdengar pula suara Ratih yang menimpali dengan lembut. Adrian mengulas senyum mendengar keceriaan di dalam sana, terbesit sebuah rasa ragu untuk ikut membaur dalam kebersamaan mereka. Akan tetapi, pada saat dia telah memutuskan untuk pergi, tanpa sengaja telinganya mendengar suara tawa pria ketika menimpali candaan Amanda. Adrian yang merasa penasaran pun berinisiatif untuk mengintip, dilihatnya seorang pria berpakaian khas seorang dokter tengah mencubit gemas kedua pipi Aira, yang dibalas cubitan gemas oleh Aira pada pipi pria itu. Pria itu mengeratkan genggaman pada gagang pintu. Ada rasa marah di hati saat melihat Aira tampak bahagia ketika bersama pria itu, raut yang ditunjukkan Aira jauh berbeda ketika bersamanya. Adrian tak bisa lagi menahan diri ketika melihat pria berseragam dokter tersebut memegang tangan sang istri disertai tatapan yang tak biasa. Tanpa berpikir panjang, dia segera menerobos masuk, lalu melepas paksa pegangan tangan pria itu. "Jauhkan tanganmu dari istriku!" Sontak saja, pengakuan itu berhasil mengejutkan semua orang yang ada di ruangan tersebut. Aira hanya bisa menelan ludah kelat saat semua mata tertuju ke arahnya seakan menuntut penjelasan. "Istri? Sejak kapan Kak Ai menikah?" Pertanyaan Amanda semakin menambah keresahan di wajah Aira. Dia tampak berpikir keras untuk menjawab pertanyaan adiknya. "Tuan, Sebenarnya Anda siapa? Kenapa mengakui kakak saya sebagai istri?" Karena tak kunjung mendapat jawaban, Amanda pun mengalihkan pertanyaan pada pria yang ada di depan kakaknya. "Saya–" Belum sempat Adrian melanjutkan ucapannya, Ratih tiba-tiba menyela. "Aira, jangan diam saja! Apa maksud pria ini yang mengakuimu sebagai istri? Kamu nyembunyiin apa di belakang ibu?" Aira menatap lekat ke arah ibunya, keresahan yang dia rasakan semakin menjadi. Apa ini yang waktu yang tepat untuk mengakui semuanya disaat keadaan sang ibu belum sepenuhnya pulih?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN