Bab 7. Di Ambang Dilema

1465 Kata
"Aira, jawab ibu! Apa yang dikatakan pria ini benar, kalau dia suamimu? Kapan kalian menikah?" Ratih mencecar putrinya dengan tatapan tak lepas dari wajah sang putri, nada bicaranya pun terdengar lemah bergetar. Aira menggigit bibir bawahnya, pikirannya berputar cepat mencari jawaban yang bisa meredam situasi. Dia segera meraih tangan Adrian, lalu menggenggamnya erat. "Dia ... dia calon suami Aira maksudnya, Bu." Sontak, keheningan menyelimuti ruangan sesaat setelah mendengar pengakuan Aira. Tatapan Amanda dipenuhi keterkejutan, sementara Ratih menatap Aira dengan sorot penuh tanya. Namun, orang yang paling terkejut di ruangan itu adalah Alex yang berada tepat di hadapan Adrian. Adrian melotot tidak terima, tetapi Aira justru membalas dengan senyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya. "Calon suami? Tapi tadi–" Ratih menatap Aira dan Adrian secara bergantian. "Dia memang begitu, Bu. Gampang cemburuan dan suka berlebihan. Dia paling gak bisa lihat Ai deket sama cowok lain. Iya 'kan, Mas?" Aira mengedipkan mata beberapa kali meminta Adrian untuk menyetujui perkataannya, disertai remasan pada tangan yang semakin erat. Adrian tampak menghela napas panjang, hingga akhirnya mengangguk pelan. "Dia calon suamimu, Ai? Kok meragukan sekali." Alex yang sejak tadi diam pada akhirnya ikut bersuara. Pria itu tampak memindai penampilan Adrian dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Meragukan gimana?" sahut Aira sembari merapatkan tubuh pada lengan Adrian hingga membuatnya tak berjarak. "Meragukan, interaksi kalian kayak dipaksakan." Adrian semakin menatap tak suka ke arah pria itu. "Apa harus begini, Pak Dokter?" Dia melingkarkan tangan ke pinggang ramping sang istri, bahkan tak segan mengecup pipi Aira, yang berhasil membuat Alex memalingkan muka. Aira yang merasa terkejut atas perlakuan Adrian pun hanya bisa mematung sembari menatap rahang tegas yang berada tepat di hadapannya. Rasa panas menjalar ke seluruh pipi, bisa dipastikan jika kedua pipinya kini telah memerah. Aira bisa merasakan detak jantungnya semakin tidak beraturan. Sentuhan hangat bibir Adrian di pipinya masih membekas, sementara semua mata menatap ke arahnya dengan keterkejutan yang sama. Dia pun melirik ke arah ibunya yang kini memasang raut wajah campuran antara terkejut dan tidak percaya. "Aira ... kenapa Ibu sama sekali tidak tahu soal ini?" Ratih berucap pelan hingga suaranya nyaris seperti bisikan. Aira menelan ludah, berusaha berpikir cepat. "Karena ... karena Ai baru berencana mengenalkan calon suami Ai ke ibu," ujarnya dengan nada dibuat setenang mungkin. "Sebenarnya, Ai ingin memberi kejutan untuk ibu, tapi tenyata malah jadi kejutan tak terduga." Aira tampak memaksakan senyum, mencoba menutupi kebohongannya. Akan tetapi, jawaban itu berhasil membuat Amanda menaruh curiga terhadap kakaknya. Entah kenapa dia merasa Aira tengah menyembunyikan sesuatu. Ratih mengembuskan napas panjang, lalu mengalihkan pandangan ke Adrian. "Siapa namamu, Nak?" "Saya Adrian Pratama, atasan sekaligus su ... maksud saya calon suami Aira." Adrian bergerak mendekati Ratih, menyalaminya dengan takzim. "Nak Adrian, apa kamu benar-benar serius dengan putriku?" Adrian menegakkan tubuhnya, menatap Ratih dengan penuh keyakinan meski dalam hati, dia berusaha mati-matian menahan kesal karena situasinya tidak seperti yang diharapkan. Dia ingin diakui sebagai menantu, bukan calon suami. "Tentu saja, Bu! Saya sangat menyayangi Aira dan ingin menjadikan dia milik saya seutuhnya," ucapnya mantap dengan tatapan tak lepas dari wajah sang istri. Aira tertegun mendengar jawaban itu. Dia tahu jika ini hanyalah sandiwara di depan keluarganya, tetapi kenapa ada perasaan berbeda mendengar jawaban itu. Kedua sudut bibirnya pun refleks tertarik hingga membentuk segaris senyum manis. Alex mendengus pelan tampak kurang suka mendengar jawaban itu. "Benarkah? Lalu kapan rencananya kalian akan menikah?" Pertanyaan itu seperti palu godam yang langsung meruntuhkan pertahanan Aira. Senyum yang sempat terkembang perlahan memudar. Dia menatap Adrian dengan gugup, berharap pria itu bisa memberikan jawaban. "Dalam dua bulan ke depan. Aira akan resmi menjadi istri sah saya," sahut Adrian mantap dengan sorot penuh keyakinan. Ratih tampak merenung memerhatikan kesungguhan pria yang diakui sebagai calon suami oleh putrinya. Dia pun mengulas senyum saat melihat sorot penuh keyakinan yang ditunjukkan pria itu. "Baiklah, ibu hanya bisa memberi restu untuk kalian." Ratih meraih tangan Adrian, lalu menggenggamnya lembut. "Tolong, jaga dan sayangi putriku, Nak Adrian. Jangan sakiti dia! Selama ini dia sudah banyak menderita demi keluarganya," ucapnya dengan sorot penuh permohonan. Adrian menatap genggaman tangan itu dengan perasaan tak menentu. Sorot pengharapan yang ditunjukkan Ratih berhasil melemahkan keangkuhannya. Lidahnya pun terasa kelu untuk menjawab. "Apa kamu bisa menyanggupi permintaan ibu, Nak Adrian? Kalau tidak sanggup, ibu tidak memaksa. Tapi kembalikan Aira pada ibu." Aira masih mematung di tempat dengan perasaan tak menentu. Dia tampak menggeleng pelan mengisyaratkan agar Adrian tidak mengiyakan permintaan ibunya, mengingat pernikahan mereka hanyalah sebatas kontrak yang sebentar lagi akan berakhir jika dirinya tidak hamil. "Saya bersedia, Bu! Saya akan menyayangi Aira sepenuh hati. Saya janji." Jawaban itu berhasil mengejutkan Aira, tidak menyangka jika Adrian akan berkata seperti itu. Ratih pun melepaskan genggamannya diiringi helaan napas lega yang terdengar dari bibirnya. Kini, dia sudah tenang melepaskan putrinya pada pria yang bersedia membahagiakannya. Sementara itu, Alex menatap tak suka pemandangan itu. Ruangan yang semula diselimuti kebahagiaan, kini tak ubahnya seperti ruangan menyesakkan baginya. Tak ingin berlama-lama di ruangan itu, dia pun segera pamit undur diri dengan alasan hendak memeriksa pasien lain. Amanda yang melihat kepergian Alex pun segera mengejar tanpa berpamitan pada siapa pun. Aira hanya bisa menatap nanar kepergian Alex. Pria itu hanya berpamitan pada ibunya tanpa menoleh sama sekali ke arahnya. Dia juga bisa melihat jelas sorot kekecewaan yang ditunjukkan pria itu. *** "Kak Alex, tunggu!" Amanda berteriak seraya mengejar langkah lebar pria berseragam dokter itu. Alex terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Amanda dengan tatapan datarnya. "Ada apa? Kalau penting segera tanyakan! Saya masih ada pasien lain untuk diperiksa." Amanda mengamati mimik wajah yang ditunjukkan pria itu. Tidak biasanya Alex yang terkenal sebagai dokter ramah di rumah sakit ini tiba-tiba menjadi dingin seperti itu. Gadis itu menduga jika perubahan sikap pria itu ada sangkut pautnya dengan kakaknya. "Kak Alex cemburu?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Amanda. Alex terdiam dengan tatapan sendunya. Helaan nafas kasar pun terdengar dari bibirnya. "Aku gak berhak cemburu, Nda. Itu pilihan kakakmu. Lagipula, selama ini kita hanya sebatas teman." "Kenapa kakak gak jujur aja sama Kak Ai? Kalau sebenarnya kakak suka sama Kak Aira sejak dulu." Alex sontak menatap Amanda lekat, tak menyangka jika perasaan yang selama ini berusaha dia sembunyikan telah disadari oleh gadis itu. "Mumpung belum terlambat, sebaiknya utarakan perasaan kakak. Aku bakal dukung kakak." Mata Amanda berbinar penuh harap saat mengatakan itu. "Lagian aku gak suka sama pria yang dikenalkan Kak Ai. Aku ngerasa dia bukan pria yang baik." "Aku lebih setuju kalau Kak Alex yang jadi suami kakakku," lanjut gadis itu lagi. Alex terdiam memikirkan perkataan Amanda. Apakah dia harus mengikuti saran gadis itu atau tidak? Hanya segaris senyum yang ditunjukkan sebagai tanggapan. "Nanti kakak pikirkan lagi. Bagaimanapun juga ini masalah hati, Nda ... masalah hati gak bisa dipaksakan." Setelah mengatakan itu, Alex segera berlalu menuju ruangannya meninggalkan Amanda yang masih mematung memandangi kepergian pria itu. Sesampainya di ruangan, Alex segera menghempaskan tubuhnya pada kursi putar seraya memejamkan mata. Beberapa saat yang lalu, hatinya diliputi kebahagiaan saat mendengar kabar dari Amanda jika Aira akan datang berkunjung. Maka dari itu, dia segera menyelesaikan pemeriksaan rutin siang itu pada pasiennya dan menempatkan Ratih pada urutan kunjungan terakhir, agar dia bisa leluasa bercengkerama dengan Aira. Ya, Ratih merupakan salah satu pasiennya. Dia baru mengetahui hal itu ketika hendak masuk ke ruang operasi. Kala itu, tanpa sengaja berpapasan dengan Amanda yang tengah menunggu di luar ruangan sendirian tanpa ada Aira yang menemani. Meski merasa janggal, dia memilih untuk diam. Sudah lama Alex memendam rasa suka mendalam pada Aira, terhitung sejak dirinya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Dulu mereka merupakan tetangga dekat. Rumah Aira bersebelahan dengan rumah neneknya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, dia memang diasuh oleh neneknya, sementara orang tuanya mengurus pekerjaan mereka di luar negeri. Hanya saja, dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk mengungkapkan perasaannya karena usia yang terpaut cukup jauh. Kala itu, Aira masih duduk di bangku SMP. Setelah lulus sekolah, Alex terpaksa pindah ke luar negeri untuk ikut orang tuanya serta melanjutkan study kedokteran. Alex mengira itu hanya perasaan sesaat karena terlalu sering bersama. Namun, ternyata dia salah. Bahkan setelah berpisah sekian tahun perasaan itu semakin hari semakin membesar. Selama itu pula, dia juga diam-diam memantau Aira melalui neneknya. Hingga pada akhirnya, memiliki tekad untuk melamar Aira setelah resmi menyandang gelar sebagai dokter. Akan tetapi, sebelum niatan itu terealisasikan, kenyataan telah menghancurkan angan indahnya ketika Aira memperkenalkan seorang pria yang diakui sebagai calon suaminya. Alex membuka matanya dan menghela napas panjang. Perasaannya campur aduk. Dia tidak pernah menyangka kalau akan berada dalam situasi seperti ini, menyimpan perasaan untuk seseorang yang hampir menjadi milik orang lain. Pikirannya kembali pada pertemuannya dengan Amanda tadi. Ucapan gadis itu terus terngiang di telinga. "Kenapa kakak gak jujur aja sama Kak Ai?" Sejujurnya, dia ingin, bahkan sangat ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi, bagaimana jika Aira tetap bersikukuh memilih pria itu? Bagaimana jika perasaannya hanya akan memperumit keadaan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN