"Kondisi endometriosis Anda semakin parah, Nyonya Nadine. Jaringan parut dan perlengketan sudah menyebar ke organ lain. Jika ini terus dibiarkan, risikonya bisa lebih besar. Histerektomi mungkin menjadi satu-satunya pilihan."
Nadine duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Wajahnya tampak pucat, dengan mata yang sembab karena tangis yang sejak tadi tak kunjung reda. Perkataan dokter beberapa jam yang lalu terus membayangi pikiran, meski berulang kali berusaha mengenyahkannya.
Dunianya seakan runtuh setelah mendengar hal itu. Dia tak pernah menyangka jika nyeri haid yang tak tertahankan selama beberapa bulan terakhir, darah yang mengalir deras tanpa henti setiap kali tamu bulanannya datang, dan rasa perih yang seolah mencengkeram setiap inci tubuhnya adalah pertanda jika penyakitnya semakin parah.
Sungguh, dia tidak pernah siap jika sampai harus kehilangan rahimnya. Selama ini, dia selalu optimis jika penyakit di rahimnya bisa disembuhkan dengan menjalani berbagai pengobatan medis dan herbal. Akan tetapi, harapan yang selama ini ia gantungkan harus hancur begitu saat mendengar perkataan dokter tadi. Dia merasa pengobatan yang dia jalani selama tiga tahun ini hanyalah kesia-siaan belaka.
Ketakutan menyergap dari segala arah. Bukan hanya tentang kehilangan rahimnya, tetapi juga tentang keberlanjutan hubungan rumah tangganya dengan Adrian.
Jika rahimnya benar-benar diangkat, akankah Adrian masih bersedia menerima dirinya sebagai istri? Akankah dia masih menjadi seorang wanita yang sempurna meski tanpa rahim? Sedangkan nilai kesempurnaan seorang diukur ketika wanita itu bisa melahirkan keturunan. Akankah dia masih berarti untuk suaminya, meski tak lagi memiliki kesempatan untuk menjadi seorang ibu?
Sampai saat ini, dia masih menyembunyikan keadaannya dari siapapun, termasuk Adrian. Sedihnya lagi, disaat terpuruk seperti ini dia harus menanggungnya seorang diri.
Pandangannya teralih pada ponsel yang tergeletak di depannya, keadaan ponsel tersebut masih gelap. Sejak pulang dari rumah sakit hingga malam menjelang tidak notifikasi apapun dari suaminya.
"Bodoh! Apa yang kamu harapkan, Nadine? Berharap Adrian hubungin kamu? Dia lagi masa pengantin baru, pasti lagi senang-senang sama istri barunya." Nadine meraih dan memandang lama ponsel yang gelap itu, diiringi aira mata yang kembali mengalir membasahi pipi.
"Baru satu hari menikah, tapi kamu udah berubah, Dri!" gumamnya lagi dengan suara sengau. "Padahal kamu tahu aku baru selesai check up, tapi kamu gak nanyain gimana keadaanku. Kamu malah sibuk nyalahin aku karena sikapku di lift yang kamu anggap gak pantas."
Wanita itu meletakkan kembali ponsel ke atas meja rias. Kedua sikunya bertumpu pada meja dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Tangisnya kembali tergugu. Sungguh, dia merasa sangat tertekan setelah mendengar vonis dokter tadi. Dia butuh seseorang yang bisa menenangkannya. Dia butuh suaminya, tetapi suaminya sedang menikmati masa pengantin baru dengan istri mudanya.
Nadine masih terduduk di depan cermin, membiarkan pikirannya melayang. Ingatannya kembali ke momen saat Adrian memutuskan untuk menikahi wanita lain. Bukan karena dia tak cukup baik, melainkan karena ketidakmampuannya memberi keturunan.
"Aku terpaksa melakukan ini ... aku juga gak mau menduakanmu. Semua ini kulakukan demi bisa mendapatkan keturunan. Aku melakukan ini juga demi kamu."
Kata-kata Adrian waktu itu masih membekas jelas dalam ingatan. Rasanya pun sama, selalu sakit setiap mengingatnya seperti ada belati yang menghujam tepat di dadanya. Seolah tak cukup dengan pengkhianatan itu, Tuhan masih memberinya ujian lain. Rahim satu-satunya harapan yang selama ini dia perjuangkan, terancam terenggut darinya.
Dada Nadine naik turun, menahan sesak yang kembali menyerang. Dia tak tahu harus berbuat apa. Memberitahu Adrian? Untuk apa? Pria itu bahkan sudah memilih untuk berbagi ranjang dengan wanita lain. Berharap Adrian akan peduli? Dia tidak yakin. Tadi saja, dia sibuk membela istri barunya daripada menanyakan keadaannya.
Ponsel yang bergetar berhasil mengalihkan perhatiannya. Dia segera mengusap kasar air mata yang membasahi pipi. Dia segera meraih benda pipih tersebut. Jantungnya berdegup kencang berharap sang suami menghubungi. Namun, harapannya langsung runtuh ketika membaca nama yang tertera di layar. Bukan nama Adrian yang tertera pada layar, melainkan Rallin–sahabatnya.
Nadine menghela napas, lalu menggeser layar untuk menerima panggilan.
"Nadine, aku baru ingat kalau hari ini jadwalmu check up. Gimana perkembangannya? Ada kemajuan 'kan?"
Suara Rallin terdengar cemas di seberang sana. Nadine mengulas senyum tipis meski wanita itu tidak bisa melihatnya. Sahabatnya ini adalah satu-satunya orang yang masih bertahan di sisinya disaat semua orang mulai meninggalkannya.
Dia berusaha keras menahan isak tangisnya agar kesedihannya tidak diketahui wanita itu, tapi sekeras apapun mencoba usahanya tetaplah sia-sia. Tangisnya kembali pecah sebelum dia sempat menjawab.
"Nad, kamu nangis? Ngomong sama aku, ada apa? Kamu kenapa?" cecar Rallin dengan kekhawatiran yang semakin menjadi.
Butuh waktu beberapa detik untuk Nadine agar bisa menjawab, "Aku … aku gak baik-baik aja, Lin. Aku tertekan. Aku gak tahu harus gimana lagi." Suara wanita itu bergetar berusaha keras menahan tangis. "Dokter bilang penyakitku makin parah. Aku terancam kehilangan rahimku."
Hanya keheningan yang terdengar di seberang telepon, seolah Rallin butuh waktu untuk mencerna kabar yang baru saja didengarnya.
"Nad, aku turut prihatin mendengarnya. Aku tahu ini berat buat kamu. Tapi kamu jangan pernah ngerasa sendirian. Ada aku, ada Adrian. Kami akan selalu ada buat kamu."
Bukannya tersentuh, Nadine justru tertawa pahit mendengar ucapan sahabatnya.
"Adrian? Dia bahkan gak nanyain, gimana keadaanku seharian ini."
Rallin tertegun di tempatnya merasa aneh mendengar perkataan sahabatnya. "Apa maksudmu, Nad?"
Nadine menggigit bibir bawahnya, berusaha keras menahan kepedihan yang menyeruak memenuhi relung hatinya.
"Dia lagi seneng-seneng sama istri barunya," ucapnya datar.
"Adrian menikah lagi?"
"Ya, dia menikah lagi demi mendapatkan anak," jawab Nadine mantap dengan mata berkaca-kaca.
Bibir Rallin terkatup rapat mendengar pernyataan sahabatnya. Sungguh, dia sangat terkejut mendengar hal itu. Dia mencoba menyangkal, tetapi jawaban tegas dari mulut Nadine seolah meruntuhkan ketidakpercayaannya. Pasalnya, selama yang dia ketahui, Adrian sangat mencintai sahabatnya. Dia selalu berada di garda terdepan untuk membela Nadine ketika sahabatnya dirundung habis-habisan oleh keluarga besar pria itu.
"Kamu harus kasih tahu dia, Nad. Dia masih suamimu. Dia harus tahu keadaanmu." Rallin menimpali dengan geram.
"Buat apa? Dia gak akan peduli."
"Tapi kamu masih istrinya, Nadine! Terus apa kamu akan diam saja saat ada wanita lain menguasai suamimu? Kamu rela kehilangan Adrian?" Rallin berucap dengan nada yang berapi-api. Dia sangat geram mengetahui sahabatnya dikhianati.
"Mana Nadine yang kuat dan penuh ambisi? Ingat perjuanganmu, Din! apa kamu mau nyerah gitu aja? Jangan jadikan kekuranganmu ini jadi kelemahanmu, Din! Manfaatkan keadaanmu ini untuk mencuri perhatian suamimu."
Nadine terdiam dengan tatapan terarah ke cermin. Wajahnya tampak pucat dengan mata mata yang sembab. Rallin benar, tidak seharusnya dia bersikap lemah seperti ini. Dia tidak boleh larut dalam keterpurukan. Dia harus memperbaiki rumah tangga yang retak, dan tidak lagi membiarkan wanita lain merusaknya.
"Kamu benar, Lin! Gak seharusnya aku lemah kayak gini."
"Satu hal lagi, jangan pernah biarkan wanita itu mengandung anak Adrian atau kamu akan kehilangan Adrian sepenuhnya."
Nadine tertegun di tempat, bagaimana bisa dia menghalangi Aira untuk hamil, sementara alasan utama pernikahan kedua suaminya adalah demi keturunan.
"Tapi, Lin–"
"Tapi apa, Nadine? Emang kamu rela merawat dan membesarkan anak yang bukan berasal dari rahimmu sendiri? Terlebih anak itu hasil perselingkuhan suamimu dengan wanita lain. Kalau aku sih ogah! Sama-sama bukan anakku mending ngadopsi dari panti asuhan."
Nadine lagi-lagi terdiam mendengar perkataan sahabatnya. Jauh dari lubuk hati yang terdalam, dia tidak pernah rela merawat anak itu. Meski kehadiran anak itu nanti bisa menyelamatkan posisi Adrian di perusahaan.
"Lin, aku butuh bantuan. Pikirkan cara untuk menyingkirkan wanita itu secepatnya! Aku gak rela jika harus merawat anak itu."
Rallin terdiam sebentar sebelum akhirnya berucap, "Ada, tapi kita harus ketemu."