Bab 9. Perang Dingin

1706 Kata
Adrian duduk dengan gelisah di dalam ruangannya, sesekali matanya melirik ke arah jendela kaca yang menjadi pembatas antara ruangannya dengan ruangan Aira, hanya untuk mengintip kegiatan wanita itu. Kegelisahannya bukan tanpa sebab, sejak pulang dari rumah sakit beberapa waktu yang lalu hingga sekarang, Aira masih mendiamkannya tanpa sebab. Meski mereka tinggal di satu atap yang sama, tetapi keduanya seperti orang asing, bahkan kini Aira memilih untuk tidur terpisah. Dia bersikap seolah wanita lajang, hingga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri terutama dalam hal memenuhi kebutuhan biologisnya. Tidak ada yang aneh, wanita itu tampak fokus seperti biasanya di depan komputer dengan sesekali mengangkat telpon yang berdering. Tangannya juga tampak bergerak aktif mencatat sesuatu pada buku kecil dengan sesekali mengangguk. Selesai bertelepon, dia kembali fokus pada layar komputer di depannya. Akan tetapi, entah kenapa Adrian merasa enggan mengalihkan perhatiannya dari wanita itu. Hanya dengan melihat pemandangan itu, tanpa sadar kedua sudut bibir Adrian membentuk segaris senyum manis. Akan tetapi, senyuman itu dalam waktu sekejap memudar saat mendengar suara Leo–asisten pribadinya. "Tuan, apa Anda mendengar penjelasan saya?" Adrian menatap kesal pria muda di depannya. Dia lupa jika di ruangannya masih ada Leo yang tengah mempresentasikan hasil pertemuan yang membahas kerjasama dengan salah satu perusahaan asing. "Ya, lanjutkan!" titah Adrian tanpa minat, tatapannya kembali terarah ke tempat Aira berada. "Penjelasan saya sudah selesai, Tuan. Saya menunggu persetujuan Anda, apakah menerima kerjasama ini atau tidak? Karena pihak klien sudah menunggu sejak beberapa hari yang lalu." "Leo, sudah berapa tahun kamu bekerja sebagai asisten pribadi?" Adrian menatap datar pria itu. Leo mengerutkan kening ketika mendengar pertanyaan itu saat mendapati tanggapan atasannya terkesan tidak nyambung. "Se-sepuluh tahun, Tuan," jawabnya ragu-ragu. "Selama itu, sudah berapa kali kamu menggantikan saya menghadiri pertemuan seperti ini?" tanya Adrian lagi dengan penuh penekanan yang membuat Leo semakin dilanda kebingungan. "Saya tidak pernah menghitungnya, Tuan." "Berarti sering 'kan?" Leo mengangguk pelan. "Kalau begitu ... harusnya kamu sudah paham mana kerjasama yang menguntungkan dan mana yang tidak menguntungkan. Kenapa masih tanya saya? Kalau dirasa bisa mendatangkan keuntungan besar untuk perusahaan kamu segera ACC saja." Leo menatap sang atasan dengan tatapan tidak percaya. Adrian yang ada di depannya saat ini, sangat berbeda dengan Adrian seperti biasanya. Biasanya pria itu akan menyeleksi secara ketat perusahaan-perusahaan yang hendak bekerjasama dengan perusahaannya. Bahkan tak jarang pula menentang pendapat Leo, meski menurut Leo kerjasama itu lumayan menguntungkan. Akan tetapi, kenapa kali ini atasannya bersikap berbeda? Bahkan selama dia mempresentasikan hasil pertemuan, Adrian seperti tidak berminat untuk mendengarkan. Pandangannya justru terfokus ke arah luar jendela kaca, yakni tempat Aira berada. "Apa wanita di luar sana lebih menarik daripada keuntungan bisnis ini, Tuan?" Tatapan tajam seketika dilayangkan Adrian ke arah pria itu. Leo sontak menutup rapat bibirnya, tidak seharusnya dia berkata seperti itu. Sama saja, dia mencampuri urusan pribadi atasannya. Leo merasa cemas ketika tatapan tajam Adrian terus berpusat ke arahnya. Selama bekerja dengan pria itu, dia sudah cukup mengenal bagaimana sikap atasannya saat merasa terganggu, dan kali ini jelas sekali jika emosi Adrian sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. "Keluar!" titahnya singkat dengan suara berat. Leo merasa sedikit ragu untuk menurut karena masih menunggu kejelasan mengenai proposal kerjasama yang diajukan klien. Dia sudah bosan menghadapi teror para klien yang meminta kejelasan mengenai proposal kerjasama mereka. "Tapi, Tuan ... proposal itu–" "Apa telingamu mendadak tuli, Leo? Saya 'kan sudah serahkan semua keputusan padamu, kalau menguntungkan ambil kalau enggak tinggalkan!" "Baik, Tuan." Leo hanya mengangguk patuh, lalu berbalik keluar ruangan tanpa mengucap sepatah kata pun. Untuk saat ini, jalan satu-satunya hanyalah mencari aman daripada harus menjadi bulan-bulanan pelampiasan emosi sang atasan. "Tapi, ingat! Aku gak mentolerir kesalahan sedikit pun." Leo menghentikan langkah di ambang pintu ketika mendengar peringatan tegas sang atasan. Dia hanya bisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengiyakan. Sepertinya ini akan menjadi tugas yang berat untuknya, sebab ini pertama kalinya dia mendapat tanggungjawab besar yang berimbas langsung pada perusahaan. Begitu Leo menghilang dari pandangan, Adrian kembali memusatkan perhatian pada Aira yang masih sibuk mengerjakan setumpuk pekerjaan di luar sana. Ada perasaan kosong yang memenuhi relung hatinya sejak wanita itu menjauh. Padahal ketika perang dingin bersama Nadine, dia tidak pernah gelisah seperti ini. Dia masih bisa menjalani kesibukannya seperti biasa seolah tidak ada masalah yang terjadi. Dia bahkan betah mendiamkan Nadine selama berminggu-minggu, hingga akhirnya berbaikan dengan sendirinya. Akan tetapi, kenapa saat bersama Aira, dia menjadi gelisah tak berkesudahan seperti ini, seolah di antara mereka ada dinding tak kasat mata yang berusaha memisahkan. Adrian yang selama ini dikenal dengan ketegasan dan kejeniusannya dalam menangani masalah bisnis, kini merasa tak berdaya menghadapi permasalahan di rumah tangganya bersama Aira. “Kamu kenapa sih, Ai?” gumamnya pada diri sendiri. Tak tahan didiamkan seperti ini, Adrian pun bangkit dari tempat duduknya, lalu melangkah mantap menuju pintu untuk menghampiri Aira. Kini, pria itu sudah berada di hadapan istri keduanya seraya menyilangkan tangan. Sementara Aira yang terlalu fokus pada pekerjaan tidak menyadari kedatangan pria itu, hingga sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. "Tuan Adrian?" Suara Aira terdengar kaget saat mendapati Adrian berdiri di depannya seraya menatapnya dengan intens. "Kita harus bicara!" Tanpa menunggu persetujuan, Adrian segera menarik paksa tangan wanita itu, lalu membawanya masuk ke dalam ruangan. Sesampainya di dalam, Adrian segera mengunci pintu, lalu menekan satu tombol pada sebuah remote hingga membuat kaca di ruangannya menjadi buram, tidak tebus pandang. Aira tak dapat menutupi kegelisahannya saat menyadari raut tak biasa yang ditunjukkan Adrian. Pria itu menggiringnya menuju sofa, lalu menghempaskan tubuhnya ke sebuah sofa panjang, kemudian segera ditindih oleh pria itu. "Tuan, Anda mau apa? Pekerjaan saya masih, emmhh–" Tak membiarkan Aira menyelesaikan perkataannya, Adrian segera membungkam bibir wanita itu dengan bibirnya. Adrian tampak melahap rakus bibir berwarna nude itu, memainkannya seolah menemukan mainan baru yang menyenangkan. Aira yang tak kuasa menolak pun hanya bisa mengikuti ritme permainan bibir yang diciptakan suaminya. Tangannya berusaha mendorong d**a bidang pria itu, tetapi Adrian dengan sigap menangkap kedua tangan wanita itu dan menggenggam dengan erat. "Tu-tuan, ingat tempat! Ini di kantor bukan di apartemen," kata Aira ketika Adrian melepas tautan bibirnya. Kini bibir pria itu beralih menyusuri leher jenjang sang istri dengan sesekali memberi kecupan di area tersebut. Adrian menghirup dalam aroma tubuh sang istri. Aroma yang sangat dia rindukan selama dua hari terakhir. "Tuan, stop! Nanti merah." Aira segera menghentikan kegiatan Adrian yang tengah menyesap kuat lehernya. "Biarkan merah! Aku hanya ingin memberi tanda kepemilikan untuk mempertegas kalau sekarang kamu milikku, dan aku yang mengendalikan dirimu." Adrian menatap tajam wanita di depannya. Aira yang merasa tidak nyaman ketika mendapati tatapan seperti itu memilih memalingkan muka demi menghindari kontak mata dengan pria itu. Adrian pun bangkit dari posisinya, memilih menyandarkan tubuh pada sandaran sofa, berada di dekat Aira selalu berhasil membangkitkan hasrat dalam dirinya. Padahal niatnya menemui Aira hanya untuk meminta penjelasan, bukan melampiaskan hasrat. Aira merasa lega ketika Adrian tidak berbuat lebih. Dia segera membenarkan posisi duduknya seraya merapikan penampilannya yang terlihat sedikit berantakan. Terjadi keheningan selama beberapa menit di antara mereka, hingga akhirnya Adrian membuka suara. "Kenapa kamu mendiamkanku?" Aira hanya memiringkan senyum mendengar pertanyaan itu. Kini, dia paham apa tujuan Adrian menyeretnya kemari. "Ini masih jam kerja, Tuan. Tidak etis membicarakan masalah pribadi. Bukannya Anda sendiri yang menekankan kalau kita harus profesional?" "Kamu tinggal jawab pertanyaanku, Aira!" bentak Adrian seraya menatap penuh intimidasi. Aira menghela napas panjang, lalu menatap Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan itu menggambarkan kekecewaan dan kemarahan. "Saya hanya kecewa. Karena saya tidak bisa marah, maka saya memilih diam dan menghindar." Adrian menatap sang istri dengan kening berkerut. "Apa aku membuat kesalahan?" Aira menatap kesal suaminya, tujuannya mendiamkan Adrian agar pria itu bisa menyadari kesalahannya, tetapi kenyataannya Adrian justru tidak merasa bersalah sama sekali. "Kenapa diam? Kalau aku berbuat salah, katakan saja! Aku gak tahan didiamkan seperti ini, Ai," kata Adrian lagi ketika tak kunjung mendapat jawaban, "Katakan! Apa yang membuatmu kecewa sampai mendiamkanku seperti ini?" "Baik, karena Anda memaksa maka saya memberitahu kesalahan Anda." Aira menatap tajam suaminya. Tatapan yang selama ini tak pernah dia tunjukkan pada Adrian. "Saya marah dengan sikap Anda di rumah sakit waktu itu. Anda tahu betul keadaan ibu saya sedang masa pemulihan. Anda juga mengetahui jika pernikahan ini saya sembunyikan dari keluarga saya, tapi kenapa Anda justru berniat membongkarnya?" "Padahal Anda yang menciptakan batasan di antara kita, tapi kenapa Anda sendiri yang melanggar batasan itu? Saya tekankan sekali lagi, Tuan. Pernikahan ini hanyalah kontrak yang cepat atau lambat akan berakhir, jadi tidak usah berlebihan." Adrian mengepalkan tangan kuat mendengar ucapan itu. Jadi, Aira marah atas sikapnya di rumah sakit waktu itu. "Dan satu lagi, kenapa Anda memberi harapan pada ibu saya? Kenapa Anda membangun kepercayaan ibu saya, bahkan menyanggupi permintaannya? Apa Anda tidak berpikir? Akan seperti apa kecewanya ibu saya? Jika sampai mengetahui kalau semua yang Anda ucapkan itu adalah bagian dari kebohongan yang saya ciptakan." Kedua mata Aira tampak berkaca-kaca saat mengatakan serangkaian kalimat itu. Perasaannya campur aduk, akhir-akhir ini pikirannya tidak tenang karena memikirkan masalah ini. Dia merasa bersalah karena telah mengkhianati kepercayaan keluarganya, terutama ibunya. Dia merasa telah menjadi anak durhaka karena telah membohongi ibunya dengan menyembunyikan status pernikahannya. Sempat terbersit dalam hati untuk mundur dari kontrak pernikahan ini, tetapi dia tidak memiliki upaya. Uang yang dikeluarkan Adrian untuk pengobatan Ratih dan membayar utang pada rentenir bernilai ratusan juta. Ditambah lagi, dua hari yang lalu adiknya memberi kabar jika cedera kepala yang dialami ibunya mengalami komplikasi hingga harus dilakukan operasi berulang, dan jadwal operasi sudah dijadwalkan, yang tentu saja itu kembali membutuhkan tambahan biaya yang tidak sedikit. Jika berniat mundur, maka dia harus mengganti semua uang itu, sedangkan dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu. Gajinya sebagai sekretaris pribadi tidaklah seberapa, kekurangannya masih sangat banyak. Dia tidak memiliki harta simpanan selain rumah peninggalan ayahnya. Sementara menjual rumah itu bukanlah satu-satunya jalan. Jika sampai rumah itu dijual, ibu dan adiknya akan tinggal di mana? "Bagaimana jika ucapanku waktu itu bukan bagian dari kebohonganmu, Aira?" Pertanyaan Adrian berhasil menarik paksa kesadaran Aira dari lamunannya. Wanita itu menatap lekat suaminya berusaha memahami arti pertanyaan itu. "Bagaimana jika aku sungguh-sungguh ingin menjadikanmu sebagai istriku yang sah? Aku bahkan berencana menghapus kontrak di antara kita agar kita bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya." Aira terpaku di tempat. Kata-kata itu terdengar sangat mengejutkan. Dia menatap dalam sepasang manik hitam pria itu. "Permainan apa lagi yang Anda mainkan, Tuan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN