Bab 10. Keinginan Adrian.

1237 Kata
Dia menggeleng pelan tidak bisa mempercayai perkataan Adrian begitu saja. Pasalnya, belum genap sebulan mereka menikah, tetapi Adrian tiba-tiba ingin menjadikan dirinya sebagai istri sah. Lantas, bagaimana dengan Nadine? Ketegangan di wajah Adrian perlahan berkurang dengan tatapan tak berpaling sedikitpun dari wajah Aira. "Tidak ada permainan! Aku sungguh-sungguh ingin menjadikan dirimu sebagai istriku yang sah. Apa kamu tidak senang?" Aira menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri dari amarah yang bergejolak. Tangannya mengepal menahan ribuan pertanyaan yang ingin dia lontarkan, tetapi hanya mampu dia tahan dalam hati. "Senang? Munafik sekali jika saya berkata tidak. Wanita mana yang tidak senang dipersunting oleh seorang konglomerat seperti Anda, yang hartanya mampu menghidupi tujuh generasi." Wanita itu tertawa pelan disertai mata yang berkaca-kaca. Dia tampak menarik napas dalam sebelum melanjutkan kembali perkataannya. "Tuan, saya tahu Anda orang yang berkuasa. Anda punya banyak uang. Anda bisa membeli apapun yang Anda inginkan, tapi bukan berarti Anda bisa membeli harga diri saya atau pun hidup saya." "Selama ini Anda selalu menekankan bahwa hubungan kita hanya sebatas kontrak, tidak lebih. Tapi apa sekarang?" Aira lagi-lagi menggeleng karena masih belum mempercayai kenyataan itu. Adrian menatap dalam sepasang manik Aira seolah ingin menyampaikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata-kata. "Aku tahu, Ai. Aku memang mengawali semuanya dengan cara yang salah. Aku menilai pernikahan ini dari uang. Tetapi selama beberapa minggu bersamamu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, terlebih setelah menghabiskan malam denganmu." Tatapan Aira berkilat tajam. Adrian berkata seperti itu tidak sepenuhnya tulus. Dia memiliki maksud terselubung, yakni menginginkan tubuhnya. "Jadi, hanya karena kita pernah tidur di ranjang yang sama, terus Anda berpikir bisa memiliki saya?” Suara Aira terdengar dingin dan penuh penekanan. Adrian yang awalnya tampak tenang mulai menunjukkan raut frustasi saat menyadari jika Aira telah salah paham. Dia berinisiatif mendekat, tetapi dengan sigap Aira menggeser tubuhnya untuk menjauh. “Bukan begitu maksudku, Ai.” Pria itu berucap pelan tetapi sarat dengan emosi. “Aku bukan pria yang mudah terpikat pada seseorang. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan menikah lagi setelah menikah dengan Nadine. Aku selalu berpegang teguh pada prinsip menikah cukup sekali seumur hidup. Tapi ternyata keadaan justru memaksaku untuk menyeretmu masuk dalam rumah tanggaku. Karena itulah, aku menawarkan pernikahan kontrak agar tidak melanggar prinsip yang 'ku bangun. Tapi setelah malam itu, aku merasa semuanya berbeda. Aku ingin menjadikanmu milikku, Aira." “Berbeda?” Aira tertawa getir. “Anda hanya terjebak dalam ketertarikan sesaat, Tuan. Tidak lebih.” Adrian menggeleng menyangkal perkataan itu. Tanpa aba-aba, dia mencengkeram kedua lengan Aira dengan kuat. “Kalau hanya ketertarikan sesaat, aku tidak akan susah payah membujukmu. Aku tidak akan peduli kalau kamu menghindar atau membenciku. Tapi lihat aku sekarang!” teriak pria itu seraya mengguncang pelan tubuh Aira. Aira menahan napas saat menatap wajah pria itu dari jarak sedekat ini. Sorot mata Adrian tampak serius, tidak ada tanda-tanda kebohongan. Tapi Aira tetap sulit mempercayainya. Dia menepis tangan Adrian dengan kasar. “Berhenti mempermainkan saya, Tuan. Anda ingin menjadikan saya sebagai istri sah, tapi bagaimana dengan Nyonya Nadine? Apa dia akan menyetujui hal ini?" Adrian terdiam tidak tahu harus menjawab apa. "Sama seperti Nyonya Nadine, saya juga tidak mau berbagi suami. Seandainya saya tidak terjebak dalam situasi sulit, saya juga gak sudi menggadaikan harga diri dengan kontrak sialan itu. Jika Anda benar-benar menginginkan saya menjadi istri sah Anda, maka Anda harus bersedia menceraikan Nyonya Nadine." Adrian masih terpaku di tempat tanpa mengucap sepatah kata pun. Aira hanya tersenyum sinis melihat reaksi yang ditunjukkan Adrian. “Lihat? Anda bahkan tidak bisa mengiyakan. Itu berarti dugaan saya benar. Anda hanya ingin bermain-main." Adrian mengusap kasar wajahnya. Dia memang menginginkan Aira, tetapi jika harus menceraikan Nadine, dia tidak bisa. “Dugaanmu salah, Aira! Aku sungguh menginginkanmu.” “Kalau begitu buktikan!” Aira menantang. “Buktikan bahwa Anda benar-benar menginginkan saya, bukan sekadar memanfaatkan tubuh saya demi memuaskan hasrat Anda.” Aira menatapnya sejenak, sebelum akhirnya berbalik menuju pintu. Dia tidak ingin berlama-lama berada di dalam ruangan ini bersama Adrian. Semakin lama berada di sini tidak baik untuk kesehatan jantungnya karena terlalu banyak memendam amarah. Tangannya sudah berhasil membuka kunci dan bertengger pada gagang pintu, ketika baru membuka pintu dan bersiap untuk keluar tiba-tiba sepasang tangan kekar membelit pinggangnya dan mendekapnya dengan erat. "Aku akan buktikan, Aira. Aku akan menceraikan Nadine demi kamu dan menjadikanmu sebagai istri sah Adrian Pratama." Adrian berucap tepat di telinga Aira seraya menumpukan dagu pada pundak wanita itu. Hati Aira mencelos. Tubuhnya terpaku tanpa bisa mengucapkan sepatah kata. Tanpa mereka sadari, ucapan tersebut telah didengar oleh Nadine yang memang sejak tadi berada di depan pintu. Sejak beberapa menit yang lalu, wanita itu memang sudah berada di sana. Nadine sengaja berkunjung ke kantor untuk memberitahukan keadaannya pada sang suami. Ketika hendak masuk, dia tertahan karena pintu yang terkunci dari dalam. Sejak tadi, dia berusaha untuk menggerakkan gagang pintu dan mengetuknya pelan berharap Adrian segera mengetahui kedatangannya dan membuka pintu tersebut. Pikiran wanita itu semakin tidak karuan ketika mendapati meja sekretaris kosong, terlebih pintu ruangan dalam keadaan terkunci, dan kaca ruangan yang sudah dibuat buram. Adrian tidak pernah menerima tamu di dalam ruangannya karena telah disediakan ruangan khusus untuk menerima tamu karena Adrian sangat menjaga privasinya. Ketika mendengar kunci diputar dari dalam, Nadine segera mendorong pelan pintu tersebut untuk masuk. Namun, gerakannya terpaksa berhenti sebelum pintu terbuka sempurna, dia mendengar pernyataan mengejutkan yang keluar dari bibir suaminya. Wanita itu hanya bisa mematung ditempat dengan mata berkaca-kaca. Tangannya mencengkeram erat gagang pintu sebagai pelampiasan amarah. "Tuan, saya harus kembali bekerja. Masalah ini kita bicarakan nanti." Suara Aira terdengar ke telinga Nadine. "Oke, aku juga banyak pekerjaan. Biar aku antar ke mejamu." Nadine segera menghapus kasar air matanya, berlalu secepat yang dia bisa agar tidak bertemu dengan Adrian. Dia menyembunyikan tubuh pada dinding pembatas yang berada di dekat meja sekretaris. Dari sana, dia bisa melihat jelas perhatian yang ditunjukkan Adrian pada Aira. Hatinya serasa terbakar melihat pemandangan menyakitkan itu. Wanita itu meninju dinding pelan sebelum akhirnya bergegas menuju lift untuk turun ke lantai bawah. *** "Lin, aku benar-benar gak nyangka Adrian bakalan berkata seperti itu. Demi bawahan rendahan itu, dia mau nyeraiin aku, Lin! Aku gak bisa terima hal ini." Nadine menangis histeris dalam dekapan sahabatnya. Rallin tampak mengusap bahu wanita itu berkali-kali untuk menenangkannya. Dia turut merasakan sakit yang dirasakan sahabatnya. "Tenang dulu, Din! Setelah tenang kita pikirkan jalan keluarnya," ucap wanita itu berusaha untuk tetap tenang, meski hatinya ikut bergejolak menahan amarah. Nadine melerai dekapannya, matanya tampak merah dan bengkak karena tangis yang tak kunjung reda. “Aku gak bisa terima, Lin! Lima tahun aku jadi bagian hidupnya dan sekarang dia mau buang aku begitu saja demi perempuan itu?” Rallin menarik napas panjang, menatap sahabatnya penuh simpati. “Kita gak bisa biarkan ini terjadi, Din. Memang kamu yang seharusnya ada di sisi Adrian, bukan perempuan itu. Lagipula, dia hanya bawahan rendahan, dia bukan tandinganmu.” Nadine mengangguk cepat, wajahnya menyiratkan kebencian nyata. “Aku gak akan tinggal diam, Lin. Aku gak akan biarkan perempuan itu merebut Adrian dariku. Kalau dia pikir bisa datang dan menggantikan aku begitu saja, dia salah besar.” Wanita itu menatap tajam ke depan dengan rahang mengetat. Rallin menyeringai kecil, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Nadine. “Kalau begitu, kita buat dia menyesal. Kita cari tahu kelemahannya, cari tahu apa yang bisa menghancurkan hubungannya dengan Adrian.” Mata Nadine yang memerah berbinar penuh dendam. “Aku akan cari tahu segalanya tentang perempuan itu. Keluarganya, masa lalunya, bahkan semua rahasia yang dia sembunyikan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN