"Pak Leo, kalau boleh tau ... kakakku sesibuk apa sih? Masa luangin waktu buat jenguk ibu aja gak bisa? Padahal aku gak minta tiap hari lho, ya seenggaknya weekend-lah. Meski cuma sehari pasti ibu bakal seneng." Amanda berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah lebar Leo yang bergegas menuju parkiran.
Seperti biasa, setiap dua hari sekali Leo akan berkunjung ke rumah sakit untuk menengok sekaligus mengurus segala sesuatu mengenai perawatan Ratih dan memantau perkembangan kesehatannya.
Pada saat itu juga, dia harus mempertebal kesabaran untuk menghadapi sikap cerewet Amanda, serta menanggapi berbagai cecaran pertanyaan yang menyangkut kakaknya.
"Pak Leo, punya mulut 'kan? Itu mulut buat apa kalau gak buat ngomong, masa cuma buat makan? Oh ... atau mungkin Pak Leo mendadak bisu?"
Leo yang tak tahan lagi mendengar kecerewetan gadis itu pun sontak menghentikan langkah, lalu menatapnya dengan tajam. Bukannya takut, Amanda justru membalas tatapan itu dengan berani seraya berkacak pinggang.
"Apa? Mau ngatain aku cerewet? Katain aja katain! Aku gak peduli. Aku cuma butuh informasi tentang kakakku. Sejak pindah kerja ke luar kota Kak Ai jadi berubah."
Leo menghela napas panjang, jika dipikir-pikir memang sepatutnya Amanda curiga. Adrian terlalu mengekang Aira, sehingga tidak memberikan kelonggaran pada wanita itu meski hanya untuk menjeguk ibunya.
"Amanda, Aira sibuk. Itu saja."
Setelah mengatakan itu, Leo kembali melangkah cepat, berharap Amanda akan menyerah dan berhenti mengejarnya. Namun, dugaannya salah, dia tetap bersikeras mengikutinya, bahkan berani menghadang langkahnya dengan melipat tangan di depan d**a.
Gadis itu menatap Leo dengan curiga. "Sibuk? Sibuk banget sampai gak bisa jenguk ibu sekali pun?"
"Aira bertugas mengurus segala keperluan pribadi bos kami. Dia juga dituntut untuk mendampingi bos kemana pun dia pergi, bahkan ke luar negeri sekali pun. Kalau gak sibuk, gak mungkin kakakmu menyerahkan tanggung jawabnya padaku."
Hanya jawaban itu yang bisa dia berikan. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya bahwa Aira tidak bekerja di luar kota seperti yang dikatakan pada keluarganya, melainkan menikah dengan Adrian, bos mereka. Pernikahan yang sejauh ini, masih menjadi rahasia.
"Pak Leo, mungkin bisa mengelabuhi ibu, tapi gak bisa melakukan itu padaku. Aku gak sebodoh yang bapak pikirkan. Aku yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan," ujar Amanda sambil menatap Leo penuh selidik.
Pria itu menegang di tempat disertai kegugupan yang melanda, tetapi dia segera berdehem untuk menetralisir rasa gugupnya agar tidak ketahuan berbohong.
"Jawab jujur, Pak Leo! Kak Ai benar-benar kerja di luar kota atau ada sesuatu yang dia sembunyikan dari kami?" kata gadis itu lagi.
Leo mengalihkan pandangan berusaha menghindari tatapan mata gadis itu. "Aku gak tahu, Amanda. Itu urusan pribadi kakakmu."
Amanda mendesah panjang. "Aku gak percaya! Secara posisi Pak Leo lebih tinggi dibanding posisi Kak Ai yang cuma sekretaris pribadi. Kenapa Pak Leo mau-maunya nurutin perintah kakakku. Kak Ai gak pernah kayak gini sebelumnya. Aku yakin dia nyembunyiin sesuatu. Kalau Pak Leo tahu, tolong kasih tahu aku."
Leo mengusap kasar wajahnya dengan gusar. Dia benar-benar frustrasi tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi gadis itu. Selain cerewet, Amanda terlalu peka terhadap keadaannya.
"Dengar, Amanda. Aku temen kerja kakakmu, sudah sewajarnya aku bantu dia. Aku tekankan lagi! Aku cuma membantu. Aku gak punya hak buat ikut campur urusan kakakmu. Aku di sini cuma menjaga kepercayaan Aira."
Amanda mendengus kesal saat mendapat jawaban tak memuaskan.
"Pak Leo bersedia membantu urusan Kak Ai, bahkan bersedia menggantikan tugasnya. Itu artinya hubungan Pak Leo dengan kakakku bisa dibilang sangat dekat. Mustahil Pak Leo gak tahu tentang sesuatu yang disembunyikan kakakku."
Leo mengetatkan rahang, gadis ini benar-benar menguji kesabarannya. Kekesalan yang sejak tadi berusaha ditahan, akhirnya tak terbendung lagi.
"Kalau kamu memang penasaran, kenapa gak tanya langsung ke Aira? 'Kan kamu adiknya. Hubungan kalian lebih dekat daripada hubunganku dengannya yang cuma sebatas rekan kerja."
Amanda terdiam. Sejujurnya, dia sudah mencoba berulang menghubungi kakaknya, tetapi nomor kakaknya selalu sibuk.
Leo kembali melanjutkan langkah menuju mobilnya, tidak ingin terlibat dalam perdebatan panjang. Akan tetapi, lagi-lagi Amanda mengikutinya dari belakang. Leo yang mengetahui hal itu hanya membiarkan. Dia sudah lelah menegur gadis itu agar tidak mengikutinya, asal tidak lagi menghalangi jalannya.
Pada saat hendak membuka pintu mobilnya, pria itu berhenti sejenak berbalik menghadap Amanda. Tatapannya menelisik wajah Amanda yang tampak memelas.
Timbul rasa iba di hati, bagaimana pun juga dia masih terlalu belia untuk mengurus ibunya yang sedang sakit, terlebih tidak ada kerabat yang mendampingi. Kerabat satu-satunya hanya Aira, tapi dia tidak bisa selalu mendampingi adiknya.
"Amanda, kakakmu sekarang berada dalam posisi sulit. Hanya itu yang bisa aku katakan. Dia bukan tidak ingin menjenguk kalian. Dia bahkan sangat ingin. Dia juga gak bermaksud untuk mengabaikanmu."
Amanda menegang di tempat, perasaan gelisah seketika menyergap.
"Kakakku kenapa, Pak Leo? Jadi ... jadi dugaanku benar kalau Kak Ai sedang menyembunyikan sesuatu?"
Leo hanya mengangguk pelan diiringi helaan nafas berat yang keluar dari bibirnya.
"Pak Leo, antar aku bertemu kakakku! Aku gak bisa biarin Kak Ai dalam kesulitan." Amanda mencengkeram erat lengan Leo disertai sorot penuh permohonan.
Leo terdiam tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa menatap iba cengkeraman yang terasa semakin erat pada lengannya yang berbalut jas hitam itu
"Pak Leo, aku mohon ...," ucap gadis itu lagi dengan mata berkaca-kaca.
Leo meraih jemari tangan Amanda, lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Aku akan mengantarmu menemui kakakmu, tapi bukan sekarang. Kita tunggu waktu yang tepat. Aku janji!"
Leo menatapnya dengan lembut seolah berusaha menyalurkan keyakinan melalui tatapannya.
Gadis itu mengangguk pelan, meski hatinya masih diliputi kerisauan. "Aku akan tunggu Pak Leo. Tapi kalau waktunya tiba, aku mohon ... jangan ingkar janji."
Leo memaksakan senyum, lalu mengangguk pelan. Dia pun menyodorkan satu kelingkingnya di depan Amanda yang langsung dibalas dengan tautan kelingking oleh gadis itu.
"Aku janji," ucapnya.
Amanda akhirnya memundurkan langkah sedikit, memberi ruang bagi Leo untuk masuk ke mobilnya. Ketika hendak pergi, Leo menurunkan jendela kaca mobilnya.
Gadis itu menatap dalam sepasang manik hitam pria itu, seakan ingin memastikan kalau janjinya akan ditepati. Seolah memahami arti tatapan itu, Leo memberikan sekali anggukan sebelum akhirnya kereta besi itu bergerak menjauh.
Amanda menghela nafas panjang dengan tatapan tak lepas dari mobil yang bergerak semakin menjauh. Kini, hatinya diliputi keresahan hebat setelah mengetahui kakaknya sedang mengalami kesulitan. Dia berusaha menerka-nerka mengenai masalah apa yang menimpa kakaknya. Aira berubah semenjak sang ibu masuk rumah sakit dan harus dioperasi.
"Apa masalah Kak Ai berhubungan dengan keadaan ibu sekarang?" gumamnya pada diri sendiri.
Amanda memilih untuk tidak memikirkannya lagi. Dia memutuskan untuk kembali sebelum Ratih mengkhawatirkannya karena pergi terlalu lama tanpa berpamitan. Namun, ketika hendak melangkah, tanpa sengaja dia melihat sosok pria yang sangat familiar.
"Itu 'kan ... Adrian? Sedang apa dia di sini? Dan siapa wanita itu? Kenapa mereka mesra sekali?"
Karena rasa penasaran yang menggunung, Amanda memutuskan untuk membuntuti langkah pria itu dari jarak aman, hingga langkahnya terhenti di sebuah ruangan bertuliskan "Ginekologi". Dia segera menyembunyikan tubuh di balik dinding untuk mengintip kegiatan Adrian dan wanita itu.
Amanda memicingkan mata untuk memastikan jika dirinya tidak salah lihat. Akan tetapi, jelas sekali pria itu Adrian, pria yang beberapa waktu lalu dikenalkan kakaknya sebagai calon suami, tengah berdiri di samping seorang wanita dengan penuh perhatian.
Wanita itu cantik, kesan elegan melekat sempurna dalam dirinya, tetapi wajahnya tampak pucat dan lelah. Tangan pria itu terulur, menyingkirkan helai rambut yang jatuh di wajah wanita itu, lalu berkata dengan nada lembut.
“Kamu yakin kuat? Aku bisa minta dokter tunda pemeriksaan dulu kalau kamu masih butuh waktu.”
Suara pria itu terdengar jelas ke telinga Amanda karena suasana lorong lumayan sepi, hanya beberapa orang suster yang lewat.
Wanita itu mengangguk disertai tersenyum tipis. "Aku ingin tahu secepatnya, Dri. Aku ingin tahu seberapa parah penyakitku ini, kenapa rasanya sakit sekali?" ucap Nadine lirih nyaris tak terdengar.
Berbagai dugaan berputar liar di kepala Amanda. Dalam hati berusaha menerka mengenai siapa wanita itu? Mengapa Adrian begitu peduli?
Sebelum bisa mengambil keputusan, dia melihat Adrian menarik tangan wanita itu, lalu menggenggamnya erat.
"Nadine, kamu istriku ... aku nggak akan ninggalin kamu. Apapun hasilnya, kita hadapi bareng."
Amanda terhuyung mundur hingga tubuhnya merapat sempurna pada dinding. Satu kenyataan pahit telah dia ketahui kalau Adrian telah memiliki istri.
"Kak Ai ... Kak Ai telah ditipu pria itu. Dugaanku benar, dia bukan pria yang baik."