"Papa mikirin apa, sih? Aku perhatiin akhir-akhir ini papa sering melamun. Apa ada yang ganggu pikiran papa?" Seorang wanita berusia 40 tahunan mendekati Pratama seraya meletakkan secangkir teh hijau panas di dekat pria itu, kemudian mendudukkan tubuh pada kursi yang ada di samping pria itu.
Pria baya itu menghela napas panjang dengan tatapan menerawang jauh ke depan.
"Aku merasa gagal mendidik Adrian, Nessa," gumamnya.
Wanita itu memandang sang mertua dengan kening berkerut. Bukan tidak paham dengan perkataan mertuanya, dia sangat paham. Dia hanya berusaha menerka tentang masalah apalagi yang ditimbulkan Adrian. Pasalnya, hanya putra semata wayangnya yang bisa membuat Pratama risau seperti ini.
"Kamu benar, belakangan ini memang ada sesuatu yang mengganggu pikiranku ... dan itu ada sangkut pautnya dengan putramu." Pratama menatap lekat menantunya.
"Memang masalah apalagi yang ditimbulkan anak itu, Pa? Jangan bilang ini ada hubungannya dengan Nadine. Sejak menikah, Adrian memang banyak berubah. Dia seperti menjauh dari keluarganya sendiri. Nadine memang membawa pengaruh buruk untuk putraku," ucapnya dengan wajah masam. Setiap kali membahas sang menantu kekesalannya selalu meningkat berkali-kali lipat.
Pratama hanya tersenyum menanggapi ocehan menantunya. Sebenarnya, ini bukan kali pertama Adrian membuat masalah. Cucunya itu dari dulu memang tergolong anak yang bandel. Semasa sekolah, Adrian sering terlibat masalah entah membolos atau berkelahi dengan temannya, bahkan pernah terlibat tawuran, hingga membuat dirinya turun tangan langsung menjemput cucunya di kantor polisi.
"Bukan Adrian namanya kalau gak buat aku pusing, Nes. Dari dulu memang cuma aku yang bisa menangani anak itu, bahkan anakku sendiri sampai angkat tangan atas kenakalan putranya. Tapi sepertinya, sekarang giliranku yang angkat tangan."
Nessa mengerutkan kening merasa penasaran dengan masalah apa yang telah ditimbulkan putranya, sehingga membuat Pratama ingin menyerah. Apa masalah itu sangat serius?
"Pa, jangan buat aku semakin penasaran. Apa yang sudah dilakukan Adrian, sampai papa milih menyerah daripada mengomeli anak itu seperti biasa?"
Pratama tak langsung menjawab, melainkan memikirkan kata-kata yang tepat untuk memberitahu menantunya jika kini Adrian telah menikah lagi dan pernikahan itu memiliki maksud terselubung.
"Pa, jawab dong! Jangan diem aja!" desak Nessa.
"Adrian telah menikah lagi. Dia menyewa rahim sekretarisnya untuk mendapat keturunan."
Nessa terhenyak dengan mata membulat sempurna. "Gak mungkin! Papa dapat gosip dari mana? Gak mungkin Adrian ngelakuin hal itu. Ini pasti cuma gosip atau salah paham."
Pratama menatap sang menantu dengan tatapan serius. "Ini bukan sekadar gosip. Aku sendiri yang memergoki mereka tidur seranjang tanpa busana, beberapa waktu yang lalu. Aku bahkan mendengar sendiri pengakuan mereka."
Nessa terdiam, otaknya berusaha mencerna ucapan sang mertua. Kilas balik ingatan terlintas dalam benaknya. Beberapa hari yang lalu selepas berkunjung dari apartemen putranya, Pratama memang lebih sering menyendiri seolah tengah menyimpan beban berat.
Awalnya, dia tidak berani menegur karena mengira ada masalah pada perusahaan. Akan tetapi, setelah mencari tahu melalui asisten pribadi putranya ternyata perusahaan dalam keadaan baik-baik saja. Sampai akhirnya, dia memberanikan diri untuk bertanya secara langsung.
Putranya memang kerap membuat ulah, tetapi kali ini sudah keterlaluan! Menyewa rahim? Apa yang ada di pikiran Adrian? Apa karena tuntutan keluarga besar?
"Jika Adrian sampai melakukan itu ... itu artinya Nadine memang ...." Sebelum Nessa melanjutkan ucapannya, Pratama telah memberi anggukan sebagai pembenaran.
"Dugaanmu benar, Nessa. Wanita itu mandul. Dia tengah menderita penyakit kemandulan sejak beberapa tahun terakhir yang membuatnya sulit mendapat keturunan. Hanya saja, dia menyembunyikan penyakitnya di depan kita."
"Sudah tahu mandul, tapi masih gak sadar diri! Dengan tidak tahu malunya, dia masih bersikeras ingin menjadi bagian dari keluarga kita." Tatapan Nessa menajam ke depan. Tangannya terkepal kuat mencoba mengendalikan emosi yang meluap.
Sejak dulu, dia memang tidak menyukai menantunya. Menurutnya, Nadine tak lebih dari wanita bermuka dua. Dia hanya akan bersikap baik jika di depan Adrian. Namun, jika di belakang putranya, wanita itu akan menunjukkan wujud aslinya.
"Dan untuk perempuan itu ... apa Adrian sudah memastikan jika dia perempuan baik-baik? Bagaimana jika bukan perempuan baik-baik, Pa? Bisa jadi, dia wanita gak bener, mengingat dengan mudahnya dia menyetujui penawaran tak wajar itu. Sama saja dia merendahkan harga dirinya."
"Setiap perbuatan pasti ada alasan kuat di baliknya. Gak usah menghakimi orang, lihat saja Adrian! Dia nekat melakukan hal itu demi mendapat keturunan demi memperkuat posisinya di perusahaan. Bisa jadi wanita itu juga berada dalam situasi terdesak." Pratama kembali menyesap teh yang masih mengepulkan asap, kemudian meletakkan kembali cangkir tersebut pada tatakannya.
"Lagipula, aku merasa dia wanita baik-baik," pungkas pria itu disertai senyum tipisnya.
"Papa baru bertemu satu kali, bagaimana bisa papa menyimpulkan hal itu. Bisa jadi itu hanya kedok untuk menutupi sifat aslinya." Wanita paruh baya itu berucap dengan nada berapi-api.
"Sebagai pebisnis, aku sudah bertemu berbagai macam jenis orang ... aku bisa membedakan mana yang baik, mana yang bukan. Mana yang tulus mana bukan. Mana penjilat mana bukan. Jadi, hal seperti ini bukanlah hal yang susah. Dia hanya wanita polos yang dimanfaatkan Adrian demi sebuah tujuan."
Nessa sangat kesal mendengar mertuanya terus memuji wanita itu. Jika dia memang wanita baik-baik, tidak mungkin dia bersedia menerima tawaran itu. Menyewakan rahim merupakan hal tabu, sama saja dengan jual diri. Entah berapa banyak uang yang dikeluarkan putranya, hingga dia bersedia mempertaruhkan nama baiknya.
"Pa, wanita baik-baik gak akan mau merendahkan dirinya demi uang." Nessa terus menyangkal karena masih belum terima.
Pratama menghela napas panjang, berusaha tetap tenang menghadapi emosi menantunya. Nessa hanya merasa marah dan kecewa. Bagaimana tidak? Putranya telah membuat keputusan besar tanpa mempertimbangkan nama baik keluarga.
"Nessa, aku membela wanita itu bukan berarti aku setuju dengan tindakan Adrian," kata Pratama setelah terjadi keheningan beberapa saat, "Yang harus kita pikirkan sekarang bukan hanya soal siapa yang salah atau benar, melainkan bagaimana menghadapi situasi ini dengan kepala dingin."
Nessa mendengus kesal. "Kepala dingin? Pa, ini bukan masalah kecil! Bagaimana kalau sampai berita ini tersebar keluar? Nama baik keluarga kita akan tercoreng, Pa!"
"Justru itu ...." Pratama menatap tajam menantunya. "Kita tidak bisa membiarkan masalah ini semakin besar. Aku ingin kamu mengawasi Adrian dan wanita itu. Aku ingin tahu lebih jauh tentang perempuan itu."
"Aku harus memastikan apa wanita itu layak untuk mengandung keturunan Pratama atau tidak. Jika layak pertahankan, jika tidak buang! Cukup satu benalu dalam keluarga kita, jangan ada yang lain lagi."
Nessa mengerutkan kening. "Maksud papa ... papa ingin aku menemui perempuan itu?"
Pratama mengangguk. "Aku ingin kau cari tahu apa alasan di balik tindakannya. Apa memang semata karena uang, atau ada sesuatu yang lain?"
Nessa masih enggan menerima gagasan itu. Baginya, perempuan yang bersedia menerima tawaran seperti ini tidak pantas mendapat simpati. Tapi, jika memang Pratama memintanya untuk menyelidiki wanita itu, dia tidak punya pilihan lain selain menurut.
"Baiklah, Pa ... aku akan mencari tahu semua tentang perempuan itu. Tapi jika ternyata, dia memang wanita licik yang hanya mengincar harta Adrian, aku sendiri yang akan membuangnya."
Pratama tersenyum tipis. "Aku percaya padamu, Nessa."
***
Keesokannya Nessa benar-benar mendatangi apartemen putranya. Dia pun turut merasa penasaran tentang wanita disewa putranya untuk mengandung cucunya.
Tangannya segera memencet tombol beberapa kali, hingga tak lama berselang pintu unit terbuka menampilkan sosok perempuan muda yang masih mengenakan setelan piyama dengan rambut tergelung handuk. Sepertinya, wanita itu baru selesai mandi.
Nessa tampak meneliti penampilan wanita di depannya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Penampilannya terkesan sederhana, sama sekali tidak mencerminkan seperti w************n.
"Maaf, kalau boleh tahu ... Anda cari siapa, ya?" Suara lembut Aira berhasil membuyarkan lamunannya.
Nessa segera menarik senyum paksa. "Saya ada perlu sama kamu ... boleh saya masuk?"
Kini, giliran Aira yang mengamati penampilan wanita di depannya. Wanita seumuran ibunya, atau lebih tua beberapa tahun. Penampilannya terlihat elegan, tetapi kesan angkuh melekat erat dalam diri wanita itu. Melihat penampilannya yang glamor, menunjukkan jika dia berasal dari kalangan borjuis.
"Apa Anda mengenal saya?" tanyanya lagi. Bukan bermaksud tidak sopan, dia hanya tidak ingin membawa masuk seseorang yang tak dikenal sesuai pesan Adrian. Terlebih pria itu sekarang sedang tidak ada di tempatnya.
"Tentu, kamu 'kan wanita yang disewa putraku untuk mengandung anaknya?"
Detik itu juga, kedua mata Aira membola sempurna saat menyadari jika yang ada di depannya adalah ibu Adrian.
"Oh, Nyo-nyonya ... maaf atas ketidaksopanan saya. Silakan ... silakan masuk." Aira segera membuka pintu lebih lebar, mempersilakan wanita paruh baya itu untuk masuk.
Nessa memandang wanita itu dengan kening berkerut. Sikap yang ditunjukkan Aira yang sangat jauh berbeda dengan sikap yang ditunjukkan w************n pada umumnya, bisa dibilang sikap wanita itu cukup sopan. Pantas, jika mertuanya begitu menyanjung wanita itu.
Nessa melangkah masuk dengan dagu terangkat, matanya menyapu seluruh ruangan apartemen itu. Ia mengira akan menemukan tempat yang berantakan. Namun, ternyata apartemen itu justru terlihat rapi dan bersih, meski tak ada pembantu di sana.
Aira menutup pintu, lalu dengan sopan bertanya, "Silakan duduk, Nyonya. Mau saya buatkan teh atau kopi?"
Nessa menatap lekat wanita di depannya, tak menyangka wanita ini memiliki sopan santun yang cukup baik. Namun, dia tetap pada pendiriannya, tidak akan luluh begitu saja dengan sikap yang ditunjukkan wanita itu.
Dia tetap mengingat tujuan kedatangannya. Dia tidak datang untuk berteman, melainkan untuk memastikan apakah wanita ini benar-benar layak menjadi ibu dari cucunya.
"Tidak usah repot-repot. Aku tidak akan lama." Nessa menjatuhkan diri di sofa tunggal ruang tamu, menyilangkan kaki dengan anggun.
"Aku kemari hanya ingin tahu, apa alasanmu menerima tawaran putraku? Apa kamu gak sadar, dengan menyewakan rahimmu ... kamu saja menjual tubuhmu pada putraku. Lalu apa bedanya kamu dengan w************n yang ada di klub malam? Terlebih status putraku telah beristri."
Aira menunduk, meremas ujung bajunya dengan gugup. Dia berusaha terbiasa dengan pertanyaan semacam ini, tetapi tetap saja rasanya terlalu berat untuk menjawabnya.
"Saya ... saya punya alasan sendiri," jawabnya lirih.
Nessa mendengus sinis. "Alasan apa? Uang? Status? Atau berharap putraku akan jatuh cinta padamu?"
Aira menggeleng cepat. "Tidak, bukan seperti itu. Saya menerima tawaran ini karena saya memang butuh uang untuk pengobatan ibu saya dan bayar utang pada rentenir. Awalnya, saya berniat pinjam uang pada tuan, tapi ternyata tuan malah mengajukan perjanjian konyol ini. Saya tahu ini tidak benar, tapi saya benar-benar terdesak."
Nessa terdiam, tak menyangka akan mendengar alasan seperti itu. Sejujurnya, dia berharap Aira akan mengaku sebagai wanita mata duitan atau seseorang yang memang berniat menjerat Adrian. Tapi, yang ia lihat sekarang adalah seorang wanita yang terjebak dalam keadaan sulit dan berusaha bertahan. Namun, bukan berarti ia langsung percaya begitu saja.
"Jadi, kau menjadikan tubuhmu sebagai alat transaksi?" nada suaranya masih mengandung ketajaman. "Apa gak mikir betapa hinanya tindakan ini?"
Aira menggigit bibirnya, lalu mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca. "Saya tahu, Nyonya. Tapi saya lebih memilih terhina daripada membiarkan ibu kehilangan nyawanya dan keluarga saya menderita."
Jawaban itu membuat d**a Nessa sesak. Dia bisa melihat ketulusan dalam sorot yang ditunjukkan Aira, tapi enggan mengakuinya.
Tak ingin terlalu lama berada di ruangan itu, dia memilih berdiri seraya merapikan penampilannya.
"Aku sudah mendengar ceritamu yang menyedihkan itu. Tapi jangan harap aku akan bersimpati. Aku ke sini hanya ingin mengingatkan satu hal." Nessa menatap tajam wanita di depannya. "Jangan pernah berharap menjadi bagian dari keluarga kami."
Aira terdiam tak lagi menjawab. Dia cukup sadar diri dan tidak berani untuk berharap sejauh itu. Dia ada di sini hanya untuk menjalankan kontrak dengan Adrian.
Sebelum pergi, Nessa tampak mengeluarkan segepok uang, lalu meletakkannya ke tangan Aira.
"Terima ini dan pergilah! Kamu gak pantas menjadi pendamping putraku."
Mata aira terbelalak melihat tumpukan lembaran warna merah yang ada di tangannya. Apa yang harus dia lakukan? Mengambil kesempatan ini atau mengabaikannya?