Pratama menyipitkan mata, menatap wanita muda di depannya dengan penuh selidik. "Kesepakatan?" Ulangnya dengan nada datar, tetapi menyimpan ketertarikan. "Memangnya, kamu siapa? Berani-beraninya membuat kesepakatan denganku." Perkataan pria baya itu diakhiri dengan suara tawa pelan. Tawa yang terkesan meremehkan. Aira mengangguk, menegakkan punggungnya meski kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. "Saya bukan siapa-siapa, Tuan. Saya hanya orang yang tidak diharapkan dalam keluarga Anda." "Jika Anda menghendaki saya tinggal di rumah ini ... saya ingin menetapkan beberapa persyaratan." Pratama mengangkat sebelah alisnya, tak menyangka wanita di depannya itu cukup berani mengajukan persyaratan kepadanya. "Apa syaratmu wajib aku penuhi?" "Ya, jika Anda tidak bersedia memen

