Aira membeku di tempatnya. Kalimat terakhir yang keluar dari bibir Pratama bagai palu godam yang menghantamnya telak. Harus tinggal di sini? Wanita itu menggeleng pelan. Baru membayangkan saja dia sudah sanggup, apalagi menjalani hari-harinya di sini, terlebih sang pemilik rumah tidak menyukainya. Dia beralih menatap Adrian dengan mata yang basah. Kedua tangannya menggenggam erat jemari suaminya, berusaha mencari harapan bahwa Adrian akan berpihak padanya. "Tuan, tolong ... Aku gak mau tinggal di sini," ucapnya dengan suara bergetar nyaris putus asa. Akan tetapi, Adrian hanya diam. Matanya tetap memandang lurus ke depan, tak berani menatap Aira. Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin memberontak, ingin mengatakan bahwa dia akan melindungi Aira, apa pun risikonya. Tapi kata-kata itu ta

